PERNIKAHAN DINI, SEBUAH REFLEKSI DI HARI ANAK NASIONAL

advertise here
Rate this posting:
{[["☆","★"]]}
>

Oleh: Dony Purnomo
Guru SMAN 1 Purwantoro Wonogiri Jawa Tengah

Setiap tanggal 23 Juli, selalu diperingati sebagai hari anak nasional. Berbagai kegiatan dilakukan untuk memperingatinya. Awal mula peringatan hari anak nasional didasari oleh Keputusan Presiden RI No. 44 Tahun 1984 yang dikeluarkan oleh presiden Seoharto saat masih menjadi presiden RI. Hari anak nasional diperingati sebagai wujud untuk menaruh harapan bahwa anak-anak memegang peranan yang penting dalam perjalanan bangsa di masa yang akan datang.
Jika merujuk pada tujuan diselenggarakannya hari anak nasional, sebenarnya bukan hanya berfokus pada anak melainkan juga orangtua. Amanah yang terkandung pada hari anak nasional untuk meningkatkan kesadaran orang dewasa mengenai hak, kewajiban  dan tanganggung jawab anak kepada orangtua, masyarakat, bangsa dan negara. Sehingga orang dewasa dapat memberikan pembelajaran, pendidikan dan pendampingan yang tepat kepada anak.
Dalam perjalanannya permasalahan mengenai anak di Indonesia sangat kompleks. Mulai dari kekerasan pada anak hingga pernikahan dini yang terjadi pada anak-anak. Kasus yang cukup memprihatinkan adalah pernikahan dini yang terjadi di pengungsian korban gempa Palu. Dari gempa hingga saat ini sudah terdapat 12 kasus pernikahan anak dibawah umur (baca:tribunews.com). Kasus yang memprihatinkan adalah ada diantara mereka menikah karena memang hamil sebelum menikah dan adapula yang menikah karena adat di sela-sela himpitan ekonomi di barak pengungsian.
Menikah karena telah hamil, seolah menjadi hal yang biasa karena mereka menganggap semua akan selesai setelah mereka menikah tanpa memikirkan dampak pengiring setelah menikah. Mereka rela mengorbankan sekolah, cita-cita bahkan kehormatannya hanya demi nafsu sesaat. Jauh di balik keputusannya untuk berhubungan intim sebelum menikah sebenarnya ada beban dan tanggung jawab berat yang harus mereka alami. Sayangnya mereka tidak menyadari itu.
Pernikahan di bawah umur di Indonesia merupakan fenomena yang perlu perhatian serius. Banyak efek penyerta yang timbul akibat pernikahan dini yaitu putusnya jenjang pendidikan, belum siapan secara psikologis, fisik dan ekonomi, rentan terhadap KDRT, rentan terhadap perceraian dan gangguan kesehatan. Dampak pengiring ini tidak bisa disepelekan mengingat anak memerlukan pendampingan dan pengarahan mengenai dampak yang timbul karena pernikahan dini.
Di hari anak nasional ini merupakan momentum yang tepat untuk memberikan sosialisasi mengenai pernikahan dini agar anak-anak di Indonesia dapat meraih cita-citanya sebelum melakukan pernikahan dini. Pahamkan pada mereka untuk tidak melakukan hubungan terlarang yang dapat memicu adanya pernikahan dini. Keluarga harus berperan aktif dalam pengasuhan dan lingkungan yang berkualitas bagi anak, sehingga anak dapat tumbuh dan berkembang sesuai dengan fitrahnya.

Click to comment