Juara Sejati

advertise here
Rate this posting:
{[["☆","★"]]}
>


Oleh Rachmadi
Mahasiswa Jurusan Perbankan Syariah, FEBI, UIN Ar-Raniry, Banda Aceh

Pagi yang cerah masih sama seperti kemarin, aku bangun tidur lalu salat subuh kemudian mandi pagi setelah itu membantu ayah menyiapkan bahan-bahan untuk jualan hari ini . “Yah.. aku boleh ikut ayah jualan gak hari ini?” “Loh, kamu kan harus sekolah, Nak. Sekolahmu lebih penting bagi Ayah, Ayah sangat senang dan bangga jika kamu rajin dan berprestasi di sekolahmu.” Jawab Ayah dengan penuh semangat. Keceriaan terlukis di wajahnya. “Baiklah, Ayah..” Sautku tersenyum mengiyakan.

Jam dinding menunjukkan pukul 07.15 WIB dan aku sudah siap untuk berangkat ke sekolah. “Nani. sarapan dulu Nak, Ibu sudah siapkan makanan untukmu di meja makan” Ucap ibu seraya melemparkan senyuman yang membuat aku lupa akan segala hal di dunia “Baik bu” Jawabku. Dialah ibuku, Ibu yang selalu menyiapkan sarapan pagi untukku meski beliau sendiri tidak sarapan karena harus cepat-cepat pergi ke rumah tetangga untuk nyuci. Ibuku ini adalah seorang buruh cuci dengan upah pas-pasan. 

“Nani kamu sudah sarapan sayang?” Tanya ayah sebelum berangkat ke pasar untuk jualan bakso. “Sudah dong, Yah.. aku sudah sarapan, makanan ibu enak sekali, aku jadi tambah semangat” Ucapku dengan penuh kegembiraan. “Iya, anak ibu harus selalu semangat, tidak boleh malas-malasan dalam belajar, ingat itu” ibu menasihatiku seraya melemparkan senyumnya kepadaku. “Baiklah Ibu, Ayah.. Nani pergi dulu ya” Aku pun berangkat ke sekolah dengan mengendarai sepeda yang dibelikan ayah satu tahun lalu ketika keluarga kami mendapat bantuan dari pak lurah.

Setibanya di sekolah aku bertemu dengan teman-teman yang sangat aku cintai. “Nani kamu sudah tahu belum kalau hari ini sekolah kita akan kedatangan tamu? Katanya mereka mau mengadakan seleksi olimpiade matematika ” Sebut Irma, sahabat seperjuanganku sejak SD hingga saat ini (SMP kelas 2).“wah seru dong.. hehe” Jawabku dengan ringan. “ Kamu sih enak, Nan jago matematika” Saut temanku yang lain. “Aduh.. biasa saja, kita semua terlahir dalam keadaan yang sama kok, tinggal kitanya saja yang mau belajar atau tidak”. Seketika mereka menatapku dengan penuh keyakinan, sepertinya setuju dengan ucapanku.

Tepat pukul 08.00 WIB bel berbunyi dan kami semua masuk ke ruangan kelas untuk mulai belajar seperti biasanya. Suasana kelas begitu campur aduk, dan inilah yang membuat aku selalurindu dengan mereka. Ada teman yang sedang serius baca buku, ada yang ribut gak karuan dan ada juga yang sedang mengusili sesama teman. Hemm, beginilah kami siswa-siswi SMPN 1 Kediri yang penuh keragaman, hehe. Tiba-tiba Ibu guru masuk ke dalam kelas dengan membawa sesuatu di tangannya. “ Pagi anak-anak, hari ini kita akan adakan seleksi untuk ikut olimpiade matematika! Sudah tahu semuakan beritanya?, Langsung ibu bagikan saja ya soalnya ..” Ibu Rahmi langsung membagikan kertas soal dan kami pun mulai mengerjakan soal tersebut. “Wah, sepertinya soal ini mirip dengan soal yang pernah aku belajar bersama ayah” Bisikku dalam hati. “Nani anak ayah, kamu pasti bisa selama kamu yakin kamu bisa” Aku teringat ucapan ayah tadi malam ketika kami sedang belajarmengerjakan soal-soal matematika dari buku yang ayah belikan minggu lalu. Bismilahirrahmaanirrahiim, aku pun mulai mengerjakan soalnya dengan tenang. Setelah satu jam mengerjakan soal, kami menyerahkan lembar jawaban kepada ibu guru. “Baiklah anak-anak semua, hasil ini akan ibu umumkan besok ya, ibu akan tempel nama siswa-siswi yang lolos di madding (majalah dinding), semoga kalian beruntung” Kata Bu Irma.

Pada saat jam istirahat tiba kami berduyun-duyun pergi ke kantin, dengan uang jajan secukupnya aku hanya makan sepotong kue dan minum air mineral saja. Meski sesederhana itutapi aku sangat bersyukur dengan apa yang aku miliki sekarang, karena Ayah pernah bilang “Jika hari ini kita tidak punya banyak uang, kita masih bisa makan dengan seadanya. Tapi jika kita hari ini tidak punya ilmu, maka kita tidak dapat berjuang untuk hari esok” Itulah kata-kata penyemangat dari ayah yang selalu aku simpan dalam ingatan dan menjadi motivasiku dalam belajar.

Tanpa terasa hari sudah mulai siang dan matahari naik setinggi-tingginya hingga membakar ubun-ubun. Sekolah telah selesai dan semua siswa-siswi pulang ke rumah mereka masing-masing. “Sampai jumpa besok ya teman-teman, dahhh..” Aku mengayuh sepedaku sejauh 2 kilometer dari sekolah ke rumah. Setibanya dirumah aku segera menunaikan salat zuhur dan makan siang bersama ayah dan ibu di rumah. Setelah itu aku membantu ibu untuk membereskan pekerjaan rumah.

Ketika hari sudah mulai malam, seperti biasanya, selepas salat maghrib berjamaah yang diimami oleh ayahku, kami bertiga makan malam bersama. Ayah tidak pernah lupa menanyakan tentang bagaimana sekolahku hari ini, dan begitu juga dengan ibu. Aku sungguh bahagia memiliki Ayah dan Ibu yang sangat mencintaiku dengan segenap-genapnya hati mereka. Sungguh aku mencintai mereka seperti aku mencintai diriku sendiri, bahkan lebih. “Yaa Tuhanku , ampunilah dosa-dosaku dan dosa kedua orang tuaku serta kasihanilah mereka seperti mereka menyayangi aku sejak kecil” Amin Yaa rabbal Alamin. Itulah doa yang senantiasa kupanjatkan kepada Yang Maha Kuasa bagi kedua ayah dan ibuku, Semoga senantiasa dikabulkan oleh Allah SWT. Ayah dan ibu tidak muda lagi dan kesehatan mereka juga tak sebaik dulu karena saking beratnya bekerja, terkadang mereka mengabaikan kebutuhan mereka untuk istirahat.

Keesokan harinya, di sekolah aku dan teman-teman berbondong-bondong melihat pengumuman di mading, tapi belum ada pengumuman apa-apa. Kami semua sudah tidak sabar untuk mengetahui hasil seleksi kemarin. Ketika jam istirahat, kami kembali menuju mading, berharap sudah ada pengumuman yang tertempel. “Semoga saja hasilnya sudah ada ya..” Ucap salah seorang sahabatku. Dari kejauhan terdengar suara Irma, “Nani.. Nani cepat kemari..” Aku pun terperanjat dan langsung berlari ke arah Irma yang sudah duluan berada di depan madding. Diaberteriak seperti orang ketakutan. “Ada apa Irma? Kamu seperti orang ketakutan saja memanggilku dengan berteriak seperti itu”Sambil menarik nafas panjang Irma pun menjawab “huu.. huu,coba liat ini namamu ada dalam pengumuman itu artinya kamu lolos, Nani.. Selamat ya aku bangga padamu. Didekapnya tubuhku dengan erat dan kami berpelukan beberapa detik “. Aku sangat terkesan ketika melihat pengumuman itu, senang bercampur haru mewarnai perasaanku saat ini. ”Alhamdulillah..Terima kasih Ya Allah” ucapku dalam hatidengan penuh kebahagiaan. Teman-teman lalu memberikan ucapan selamat kepadaku. “Wah.. Nani hebat ya bisa lolos, selamat ya nani” Ujar salah seorang teman.

Sore harinya aku dibawa oleh kepala sekolah dan guru pembimbingku ke tempat akan diadakannya olimpiade. Aku kembali berjuang untuk menjawab semua soal olimpiade, dan aku selalu ingat kata-kata ayah “ Nani, kamu pasti bisa selama kamu yakin kamu bisa” Bismillahirrahmaaniraahim.. aku pun mulai mengerjakan soal satu persatu dengan tenang. 

Sepulangnya dari tempat perlombaan, aku langsung menceritakan kepada ayah dan ibu “ Ayah..ibu tadi Nani ikut olimpiade loh” Ungkapku dengan rasa bangga. “Olimpiade apa sayang? Kok kamu tidak memberitahu pada Ayah dan Ibu? Kami sangat khawatir karena kamu tidak pulang-pulang dari tadi siang, tidak seperti biasanya” Jawab Ayah dengan cemas. Terlihat raut muka yang begitu tegang dari kedua orang tuaku. Tetapi aku mencoba menjelaskan hal ini kepada Ayah dan Ibu, aku merasa sangat bersalah sudah membuat ayah dan ibuku khawatir. “Maafkan aku Ayah.. Ibu” 

Hari sudah mulai malam, dan seperti biasa aku, Ayah dan Ibu makan malam bersama dengan penuh kesederhanaan yang dibalut rasa cinta. “Nani.. kamu tau tidak apa yang membuat kita bahagia dalam hidup? Ialah selalu mensyukuri apa yang kita miliki hari ini, dan tidak pernah berputus asa dalam kehidupan. Kita harus terus berjuang dan jangan menyerah, karena itu semua adalah cobaan dan tantangan hidup dari Yang Maha Kuasa. Ingat baik-baik pesan ayah. Ayah dan ibu yakin bahwa kamu adalah anak yang hebat, bukan begitu ibu?” “Iya, ayahmu betul sayang. Kamu harus selalu ingat apa kata ayah tadi ya!” Sambung ibu. “Baik Ayah, Ibu, Nani akan ingat selalu apa yang ayah dan ibu katakan” Suasana yang begitu hangat, penuh cinta dan kasih menghiasi ruang makan malam kami.

Keesokan harinya..
“Ayah..Ibu Nani berangkat dulu ya” “Iya Nak, hati-hati dijalan” Tanpa sarapan pagi aku langsung pergi menuju sekolah, tidak tahu kenapa aku ingin cepat-cepat tiba di sekolah. Setibanya disekolah, aku dipanggil untuk menghadap Bapak Irwan, kepala sekolah kami. “Ada apa bapak memanggil saya?” Tanyaku dengan nada sedikit gugup. “Tenanglah Nani, duduk dulu Nak. Jadi begini, tadi malam bapak menerima pesan dari pihak panitia penyelenggara olimpiade matematika bahwa hari ini akan diumumkan pemenang juara 1, 2 dan 3. Lalu kita diminta hadir kesana” Segera ku ambil ranselku di dalam kelas dan kemudian kami berangkat ke tempat pengumuman olimpiade tersebut.

“Juara 3 dengan Nilai 76 diraih oleh Muhammad Iqbal dari SMP Setia Bakti”, juara 2 dengan nilai 83 diraih oleh Putri Nabila dari SMP Balas Budi”. Hatiku cemas tak karuan, degup jantungku terasa kencang , tatapan mataku tertuju ke arah MC, dan telingaku siap siaga mendengar apa yang akan diucapkannya. Dag..dig..dug, jantungkua rasanya mau copot. Ku hela napaspanjang dan mencoba tenang. “Dan Juara 1 dengan nilai 95 diraih oleh Nani Rahmawati dari SMPN 1 Kediri”. Sorak sorai dari tamu yang hadir terdengar hebat dan aku tidak menyangka akulah pemenangnya. Sujud syukurku kepada Allah SWT, aku sangat bahagia mendengar hasil ini. Seluruh tamu yang hadir bertepuk tangan, dan aku tidak dapat menahan kegembiraanku saat itu. Aku pun diminta naik ke atas panggung untuk menerima piagam penghargaan dan berfoto bersama seluruh pemenang dan juga panitia. Tak lupa aku mengucapkan terimakasih kepada ibu Rahmi yang merupakan wali kelas serta guru pembimbingku ketika mengikuti olimpiade ini. “Nani.. selamat ya Nak, kamu berhasil! Ibu sangat bangga memiliki siswi yang cerdas dan santun seperti kamu” Ungkap bu Rahmi padaku “Alhamdulillah bu, Nani juga sangat berterimakasih pada ibu, tanpa ibu mungkin Nani gak bakalan menang di lomba ini” Jawab ku dengan penuh haru.

Setelah selesai pembagian hadiah kami pun kembali ke sekolah. Ucapan selamat dari teman-teman membuatku semakin bahagia dan sangat bersyukur atas prestasi ini, senang dan haru menyertai perasaanku saat ini. Aku teringat Ayah yang sedang berjualan bakso dan ibu yang nyuci di rumah tetangga “Aku persembahkan juara ini untuk ayah dan ibuku, mereka berdualah yang sejatinya telah menjadikan aku juara dengan setiap malam membantu dan menemaniku belajar” Gumamku dalam hati. Hari sudah mulai siang dan tibalah waktunya pulang bagi seluruh siswa dan siswi SMPN 1 Kediri. Kemudian bapak kepala sekolah menghampiriku dan berkata “Nani, hari ini kamu bapak antarkan pulang ya, sepedanya simpan di rumah mang ujang saja(penjaga kantin yang rumahnya dekat dengan sekolah). Aku pun pulang bersama Pak Irwan.

“Kita mau pulangkan pak? Kok belok ke arah sini?” Tanyaku seraya melongok ke luar kaca mobil.

Pak Irwan tak menggubris. Kulihat wajahnya sedikit berkeringat. “Nani, sebenarnya tadi bapak menerima telpon dari pihak rumah sakit bahwa…” “Ada apa sebenarnya pak?” Hatiku mulai tidak tenang, jangan-jangan ada sesuatu. Ternyata aku dibawa ke rumah sakit tidak jauh dari tempat biasa Ayahku berjualan. Aku melihat ibu terduduk lemas di kursi tunggu ditemani Bang Ilham, sepupuku. “Ibu, apa yang terjadi?” Ibu belum menjawab. “Ibu, katakan pada Nani bu..” Ibu tak mampu membendung air matanya yang terus mengalir dari kedua mata indahnya. “Nani, kamu yang kuat ya, ini semua sudah menjadi kehendak Allah SWT, Dik” Ucap Bang Ilham. 

Aku semakin tidak mengerti dengan keadaan ini. Aku terlalu polos untuk semua ini. Kutanya pada Bang Ilham “Di mana Ayah, Bang? Lihat.. Nani bawa ini!” Ku tunjukkan piagam penghargaanku.” “Nani sayang, Ayahmu sudah pulang ke rumah yang sebenarnya, dan dia sudah tenang di sana.” Ayahku ditabrak mobil hingga mengalami pendarahan berat di bagian kepala yang mengakibatkan nyawanya tak terselamatkan lagi. Seketika duniaku terasa berubah, remuk tak berbentuk kurasakan dalam hati. Aku berlari ke arah ruangan tempat ayahku berada. Kudapati tubuhnya sudah kaku dan terbujur. Dengan cepat air mataku jatuh. Aku menangis sejadi-jadinya di samping ranjang besi itu. Aku menyaksikan Ayah sudah meninggal. “Ayah, lihat Nani bawa piagam ini untuk ayah, Nani dapat juara 1 loh, Yah.. Ayah, hadiah ini untuk ayah.. Ayah..”. Dengan perlahan ibu merangkulku dan berkata “Nani sayang, ayahmu pasti sangat bangga padamu, Nak. Kamu adalah juara sejati bagi kami berdua, sekarang biarkan ayahmu istirahat dengan tenang. Ayah sangat mencintaimu, Nak” Kukuatkan pelukkanku kepada ibu, dan hatiku semakin tak terkendali. “Nani, tadi pagi sebelum ayahmu pergi berjualan, beliau menitipkan ini pada ibu”. Lalu ku buku secarik kertas putih itu dan kubaca pelan-pelan.


“Assalamualaikum, Nani sayang. Pagi ini entah mengapa hati ayah terasa sangat senang, Nak. Ayah merasa akan ada suatu keberuntungan yang meliputimu. Apapun itu, kamu harus selalu bersyukur ya sayang. Nani, kamu adalah juara bagi ayah dan ibu. Wassalamualaikum, dari ayah yang sangat cinta padamu.”

Aku persembahkan juara ini untuk ayah dan ibu, karena merekalah yang selalu menjadikanku juara sejati. Selamat jalan ayahku tercinta.

Click to comment