Edukasi dan Fasilitasi Masyarakat Mengelola Sampah dengan Bijak dan Benar

advertise here
Rate this posting:
{[["☆","★"]]}
>

Oleh Tabrani Yunis

“ Ini cara pengelolaan sampah di kotaku. Di kotamu?”Begitu bunyi status  facebook yang aku tulis di dinding atau laman facebookku pada hari Kamis, 19 April 2018 lalu. Dalam status tersebut, tidak kusebutkan di kota Pulan atau Pulin. Status itu disertai dengan empat foto tentang sampah yang dititipkan oleh masyarakat di atas taman pinggir jalan yang hanya tumbuh rumput dan beberapa pohon. Ada foto pedestrian track (track pejalan kaki) yang bersampah daun-daun, bahkan luapan sampah yang dititip di atas taman itu, karena mungkin malamnya diserakan anjing-anjing yang mengendus bau dari sampah-sampah itu. Bisa pula bungkusan-bungkusan sampah itu juga bisa berserakan karena ada pemungut sampah yang hanya memgambil bagian yang perlu saja. Akibatnya, sampah bisa tumpah dan menyebar. Apalagi kalau ada angin, ya akan berserak. Maka berterbanganlah sampah-sampah tersebut.

Ya, tidak jarang sampah itu diseret anjing hingga ke jalan raya. Sehingga merusak pemandangan. Memang di pagi hari, petugas pengambil sampah dengan truk sampah  datang memungut sampah-sampah itu. Bisa jadi, kemampuan mereka mengangkat semua sampah bisa saja habis, namun bau dan sisa sampah bisa selalu terlihat dan terasa. Kasihan juga melihat para pekerja atau petugas penjaga kebersihan itu. Mereka sebenarnya, tidak harus sampai begitu berat mengerjakan pekerjaan mulia itu. Namun, karena cara pengelolaan sampah yang seperti itu, mereka harus berjibaku dengan sampah itu setiap hari. Mereka mengabaikan bau, bahkan mengabaikan akibat atau dampak dari persahabatan mereka dengan sampah tersebut yang bisa suatu saat membuat mereka sakit.

Menulis status di facebook tentang persoalan sampah di kota Banda Aceh, terutama di beberapa kawasan, sebenarnya bertujuan untuk mengingatkan semua pihak agar peduli dan bijak mengelola sampah. Lewat media social ini, biasanya banyak mendapat respon. Namun, tanggapan dari masyarakat juga tidak begitu menggembirakan, karena kebiasaan membuang sampah dan masalah tidak tersistemnya pengelolaan sampah, sehingga kita menyaksikan kondisi yang tidak menyenangkan. Maka, pilihannya adalah membuat tulisan-tulisan yang bisa dibaca oleh pihak pengelola kota dan juga masyarakat sebagai subjek dan objek pembangunan.

Terus terang, walau terasa berat untuk menyampaikannya, namun karena sudah sekian lama, bertahun-tahun, bahkan sudah berganti pimpinan kota ini, terlihat sekali  tata cara pengelolaan sampah kota di kota yang dijuluki “ Kota Madani, kota Gemilang” atau sebutan-sebutan lain yang memperlihatkan slogan dan icon pemimpin kota Banda Aceh ini, seperti tidak memiliki manajemen yang baik dan bermartabat dalam mengurus sampah. Padahal, para pemimpin kota termasuk legislative sudah sering melakukan perjalanan study banding ke kota lain bahkan ke luar negeri, namun hasil kunjungan mereka tidak membawa perubahan bagi kota ini. Berapa banyak biaya yang mereka hambur untuk belajar tentang mengelola sampah, namum hasilnya hanya sia-sia itu. Jadi, rasa sakit hati melihat fakta itu, ternyata tersimpan dalam pikiran yang harus dikeluarkan, walau sudah begitu lama.

Ya, sudah lama sekali keinginan menulis soal pengelolaan sampah di kota Banda Aceh. Namun, niat tersebut terus tertahan, karena ada rasa takut dikatakan usil, nyinyir atau terlalu dan sebagainya. Apalagi selama ini, sejalan hadirnya media social, rasa kesal, palak, ( tahu kan palak?) atau jengkel bahkan sakit hati melihat kondisi itu ditumpahkan lewat media social, seperti Instagram, facebook dan lainnya. Menggunakan media social dimaksudkan agar informasi atau aspirasi bisa tersalurkan dengan cepat, namun menyebar entah kemana-mana. Sehingga kesannya, akan membuat pihak-pihak yang terkait merasa dipermalukan. Apalagi, setelah suatu saat, kala berada di sebuah warung kopi di Kawasan Pango Raya, penulis secara seketika bertemu dengan kepala Ombudsman. Kebetulan sekali bisa diajak ngobrol. Maka, kala itu juga obrolan terjadi. Penulis pun menyampaikan soal keprihatinan akan persoalan tata kelola sampah di kota yang kini memiliki icon Gemilang itu. Isinya, ya rasa kesal melihat strategi Pemkot Banda Aceh dalam mengatasi cara-cara buruk mengelola sampah.

Di akhir obrolan, Beliau menyarankan agar persoalan itu bisa disampaikan lewat jalur Ombudsman yakni dengan menyurati Ombudsman RI Provinsi Aceh. Tentu ini sebuah saran yang bagus, kalau masalah pelayanan public bermasalah, lalu bisa ditangani cepat oleh pihak pemerintah. Ini memang selayaknya perlu diketahui oleh khalayak masyarakat, agar bisa menyalurkan aspirasi persoalan pelayanan public ke Ombudsman. Namun, niat menulis surat kepada Ombudsman juga jadi urung dan bahkan hingga kini tidak terkirimkan.

Kalau begitu, mengapa pula tulisan ini harus ditulis. Tentu ada basis alasan juga.  Tidak bermaksud untuk memalukan, tetapi sekaligus mengingatkan saja. Malahan bila penting, bisa jadi sebagai sebuah pembelajaran yang bukan hanya bagi pemerintah kota atau pihak yang berwenang mengurus sampah. Ya, kita tentu ingin agar pemerintah, dalam hal ini pemerintah kota dan jajarannya bisa cepat tanggap, ada sisi lain yang perlu kita sampaikan ke masayarakat. Apa yang harus kita fahami bersama bahwa masalah sampah adalah masalah kita. Masalah pribadi, keluarga dan masyarakat, bukan hanya masalah yang harus ditangani oleh pemerintah kota atau Dinas kebersihan dengan semua pasukan yang setiap hari bekerja membersihkan sampah, tetapi juga keterlibatan masyarakat dalam mengelola sampah secara baik dan bijak. Karena bila kita urai masalah pengelolaan sampah di kota Banda Aceh khususnya, ada persoalan di semua ranah tersebut, yakni pemerintah kota dan masyarakat. 

Pihak pemerintah kota pasti tidak mau disalahkan, juga pihak masyarakat akan menolak bila mereka dikatakan macam-macam. Pihak Pemkot akan berkata, setiap hari armada sampah datang mengelilingi kota hingga ke kampung-kampung untuk memungut sampah. Bukan hanya itu, setiap hari selalu ada petugas penyapu jalan yang yang bertugas membersihkan jalan, atau bahkan setiap hari tertentu ada pasukan yang membersihkan drainase dan sebagainya. Artinya pemerintah kota sudah bertindak dan berbuat, lalu mengapa harus disalahkan? Dengan demikian, jelas Pemkot tidak bisa menerima bila dikatakan salah. Begitu pula dengan masyarakat, mereka tidak mau disalahkan karena menitipkan sampah rumah tangga di pinggir-pinggir jalan, di atas rumput (taman) di pinggir jalan. Mereka bahkan tidak peduli dengan adanya peringatan atau larangan agar tidak membuang sampah di tempat itu, walau disebut “ yang membuang sampah di sini, najis, babi atau segala macam kata kotor” itu. Ya, mereka tidak mau tahu dengan peringatan dengan bahasa-bahasa planet tersebut. Masyarakat tetap membuang sampah di tempat itu, bahkan di bawah pamphlet larangan tersebut. Pertanyaan kita adalah mengapa demikian?

Apakah ini karena masyarakat yang kurang atau rendah kesadaran mereka akan hidup bersih? Apakah ini juga sebuah indicator dari tidak pedulinya masyarakat kita terhadap sampah? Atau ini sebagai bentuk atau wujud dari gagalnya pemerintah kota membangun kesadaran masyarakat agar lebih bijak atau arif? Inilah yang perlu diidentifikasi oleh pemerintah kota Banda Aceh, agar bisa menemukan akar masalahnya. 

Bila memang kesadaran masyarakat yang masih rendah, maka pemerintah kota Banda Aceh memiliki kewajiban untuk memberikan edukasi kepada masyarakat. Artinya pemerintah kota Banda Aceh harus dengan serius, gencar dan berkelanjutan membangun dan mengedukasi masyarakat untuk tahu, bisa dan meningkat kesadaran mengelola sampah sejak dari rumah. Dengan kata lain, pemerintah harus mengedukasi  dan membiasakan masyarakat  mengelola sampah dengan benar secara berkelanjutan. Tidak hanya itu, pemerintah kota Banda Aceh juga harus menyediakan sarana atau tempat pembuangan sampah yang cukup dan representative. Seperti yang kita lihat di kota-kota lain atau Negara-negara lain yang lebih beradab. Misalnya menyediakan garbage bin (tong sampah) yang memilah-milah sampah, basah dan kering, atau sampah organic dan plastic, atau juga bisa tiga tong yang ditulis dengan petunjuk.  Daerah lain dan di Negara lain yang mungkin sudah sering dikunjungi oleh pejabat kita lewat study banding tersebut, sudah berhasil sejak dulu melakukan edukasi kepada rakyat mereka, sehingga segala fasilitas sampah terjaga dan selalu bersih, walau tidak membuat slogan-slogan Islami atau syariah. Namun, karen mereka mengedukasi dan menyediakan semua fasilitas pengelolaan sampah yang baik dan benar, mereka bisa hidup bersih. Tidak usah malu lita belajar pada mereka. Selamat belajar

Click to comment