Ketika Asa Menjadi Guru Itu Terwujud

advertise here
Rate this posting:
{[["☆","★"]]}
>

Oleh Iskandar Is
Kepala SD Negeri 2 Krueng Simpo, Juli, Bireuen, Aceh.


Catatan Seorang Guru
Bagian ke tiga ( tamat)



Mulai Mengabdi 
            Kinilah saatnya aku melepaskan apa yang sudah lama telah kupendam dalam benak hati ini semakin jauh telah kucita-citakan. Tepat waktu tahun 2000 aku mencoba berani kan diri untuk mencoba mengabdi di sekolah pedalaman tidak lepas dari sekolah yang sangat terpencil. Sebab dalam hatiku jika kita mengabdi di daerah terpencil itu cepat diperhatikan oleh pejabat yang berwenang. 
Padahal itu perasaan hatiku saja, tapi impian itu ternyata sia-sia. Semua sirna, semua berbalik arah kenyataannya bukan seperti yang sebenarnya kita bayangkan.
Hari demi hari bulan demi bulan tahun demi tahun berganti terus kujalani, ternyata hasilnya belum kunjung tiba.
            Begitulah perjalanan hidup seorang hamba yang selalu merindukan kasih sayang seorang pejabat yang bertanggung jawab di negeri pertiwi ini. sungguh pedih dan perih kurasakan di saat-saat kujalani hidup yang sungguh sangat jauh nun disana. Namun semua kepedihan itu kujalani dengan sangat tabah, sabar menanti datangnya saat cerahnya hidupku.

                        Cemoohan orang
            Setiap mulut orang berkata, “ kenapa aku sanggup menjalani semua ini? Namun jawab ku : “ Tak pernah kesal tak pernah menyesal serta tak pernah pudar di hati ini untuk aku menjadi seorang guru”. Walau tangan ini terus menyapu air mata yang tak pernah berhenti terus mengalir basah di pipi. Namun di balik semua itu aku setiap hari ke sekolah bersama-sama dengan anak-anak didikku sungguh gembira dan menyenangkan hati. Bermacam ilmu dan bermacam pengalaman kudapatkan di sana.
             Yang tak pernah lepas dengan beribu rintangan dan berjuta hambatan yang kulalui untuk mencapai lahan lapagan kebun tanaman yang harum mewangi ke sekolah tempat ku mengabdi.

     
Rintihan hati
            SD Negeri Bivak itu sungguh sangat jauh dari tempat tinggalku, tapi rasanya bagiku sudah setiap hari kujalani seakan-akan bersebelah dengan tempat tinggalku. Padahal kaki tetap kena terapi seminggu sekali, namun sebaliknya badan selalu terasa sehat bila kita jalani dengan iklas hati, jerih imbalan selalu datang dari Allah. Pada saat itu aku belum mempunyai kendaraan untuk berjalan ke sekolah tapi aku selalu meminta bantuan numpang pada bapak guru yang sekolah ke sana. 
Walau bermacam berita yang terdengar beredar di luar sana di antara rumah tangga kami.
Serta bermacam derita dan cacian hamba-hamba yang tidak sependapat dengan kami, walau bermacam derita yang berupa demikian. Namun hati jiwa dan ragaku tetap perjalanan ini terus kulewati.
            Sebab pada saat itu jalan pun tidak mendukung sama sekali, di jalan banyak batu-batu dan ditambah lagi dengan lumpur kuning yang sangat kuning serta cukup licin, untuk jalan kaki saja payah apalagi naik kendaraan. Sudah titinya titi gantung, rusak lagi dengan jalan mendaki, sudah licin mendaki lagi.
Wallahu a’lam. Memang nasib pedih sungguh pedih, apalagi ketika musim hujan selalu tiba masa itu, tidak bisa kita bayangkan dengan sepatu yang kena lumpur kuning serta baju, beberapa kali jatuh di jalan.
            Walau bagaimana rintangan yang kuhadapi bermacam masalah yang kubebani, namun badan tak akan gentar tetap hati kuperjuangkan demi kuraih impian yang sudah lama ku pendam di benak ini.
            Walau kesal hati ,kumohon terus kumohon pada pejabat yang berwenang di Kabupaten Bireuen, tapi mereka belum meresponnya. Sering aku menjerit kepada siapa aku mengadu kepada siapa sebenarnya aku meminta pertolongan supaya aku bisa merasakan seperti orang-orang lain yang sudah merasakan kesenangan dan kebahagiaan dalam kehidupan lingkup keluarga guru. 
Hanya kepada Allah aku berserah diri…..
            Padahal aku sama-sama berjuang seperti mereka yang berjuang setiap hari, setiap pagi aku sama-sama sibuk mempersiapkan bahan didik, bahan ajar kami untuk perlengkapan suksesnya anak-anak didik kami.
            Sungguh tidak beda sama sekali kami ini guru-guru bakti yang benar-benar sama tanggung jawab di sisi Allah SWT buat anak-anak didik kami.
Cuma pandangan pada manusia di dunia ini saja yang bisa dibeda-bedakan.

            Ya Allah ya Tuhan kami….,Kepada mu lah kami guru-guru bakti ini mengabdi menyerah diri, serta mengharap balasan dan ridhaMu yang setimpal dengan jerih payah kami ya Rabb, semampu dan setulus iklas kami membimbing anak-anak bangsa di negeri bumi pertiwi ini.

                        Benar-benar kami guru bakti
            “pahlawan tanpa tanda jasa”
Itu kiasan kata atau semboyan pepatah mengatakan yang tak pernah terlupakan di dalam benak hati kita semua.
            Walau hati menjerit ratapan pilu tapi timbul perasaan di benak ini yang tegar bugar ingin memacu kehendak hati, namun walau badan layu bertatih-tatih tetap kesegaran badan membangun setiap hari menuju ke arah yang tak pernah ada kepastian.
            Itulah rintihan hati seorang guru bakti di Negeri Bireuen ini yang rela mendapat jerih 50 ribu rupiah  per tiga bulan sekali. Itu pun kalau bisa disisih dari dana bos sekolah.

            Kita bermohon kepada bapak-bapak pimpinan di Negeri, bapak-bapak pejabat tanah pertiwi, bapak Bupati dan bapak Sekda, kemana mata hati mu, kemana mata hati mereka semua?
Lihat lah kami dengan mata hati, lirik lah kami walau sebelah mata.
Jangan biarkan kami terus tertanam dengan berlapir timpaan buku-buku tebal pejabat dan jangan biarkan kami tenggelam dalam air yang begitu dalam juga jangan biarkan kami dalam lumpur yang begitu dangkal, tapi bisa tenggelam dibawa arus yang begitu tajam.
            Tanpa sedikit ada bantuan atau penampungan darimu, biarpun umur kami semakin lanjut, namun jiwa raga kami semakin berkobar demi cerahnya masa depan anak-anak didik kami.
Sampai saat sekarang anak-anak didik kami di sekolah masih sangat mengharapkan dan merindukan kedatangan kami guru-guru bakti ke sekolahnya.

            Ya Allah,  kapan cerahnya dunia ini bagi kami guru-guru bakti, guru honorer? Seperti cerahnya mentari yang selalu tersenyum di ufuk timur, ia selalu menyinari pejabat-pejabat di bumi pertiwi. Ya Allah, berilah kami kesenangan kebahagiaan dan kedamaian jiwa raga kami guru-guru bakti, serta ketenangan demi terwujudnya cita-cita kalbu kami impian kami guru-guru bakti. 



Click to comment