Guru Honorer Tidak Akan Pernah Dihargai

advertise here
Rate this posting:
{[["☆","★"]]}
>

Oleh Tabrani Yunis

Beberapa hari lalu, sempat membaca sebuah postingan di www.Watyutink.comtentang nasib guru honorer di tanah air. Tulisan itu membuat judul yang bernada tanya “ Kapan Jasa Guru Honorer dihargai? “tulisannya Shenny Fierdha, kontributor watyutink.com. Judul yang sesungguhnya mudah terjawab, terutama oleh para guru honorer sendiri. Kendatipun mudah terjawab, tidak salah bila soal nasib guru honorer yang terus terombang ambing kita ulas lagi, sebagai sebuah sikap atau bahkan tindakan untuk melawan lupa. Oleh sebab itu, tidak salah bila hal ini perlu diulas,  disuarakan, karena soal ini, sesungguhnya sudah tergolong dalam kategori klasik. Ini kasus lama yang harus diungkit lagi, karena memang nasib guru honorer hingga kini belum ada kata pasti. Namun, yang pasti adalah guru honorer, walau namanya begitu indah “ honor”, ibarat orang yang mendapat penghargaan sebagai doctor honoris causa, ternyata guru honorer, hingga kini masih belum dihargai.

Buktinya, cerita mengenai nasib guru honorer di tanah air sudah sejak lama menggema  hingga kini tidak ada titik terang yang bisa membuat hati guru honorer menjadi lega. Begitu banyak cerita sedih yang menyelimuti kehidupan guru honorer di tanah air sejak dulu. Bayangkan saja, bagaimana para guru honerer yang sudah bertahun-tahun berhonor dengan bayaran yang jauh dari standar normal dari UMR yang ditetapkan pemerintah. Kebanyakan guru honorer menerima upah atau jerih payah hanya sebesar Rp 250- hingga Rp 500.000 sebulan. Jumlah yang jangankan untuk menutup biaya hidup atau biaya yang dikeluarkan untuk ke sekolah, untuk biaya cuci pakaian sebulan saja tidak cukup. Begitu mirisnya bukan?

Tentu saja sangat miris di tengah semakin mahalnya biaya hidup saat ini. Namun, karena pada umumnya para guru honorer ini masih terus berharap agar pemerintah membuka peluang atau bursa peluang kerja, adanya pengangkatan guru baru, mereka rela tidaka mendapatkan honor yang layak. Mereka rela makan angin selama bertahun-tahun dalam keadaan yang tidak pasti. Sungguh memprihatinkan nasib mereka. Ada yang sudah lebih dari 20 tahun menjadi guru honor dengan mendapatkan bayaran seadanya, tetap saja masih menggantungkan harapan untuk untuk diangkat. Padahal, seharusnya mereka tidak perlu terlalu lama tenggelam dalam ketidakpastian itu. Tidak selayaknya mereka tenggelam dalam harapan menunggu pengangkatan, apalagi diketahui bahwa formasi untuk tenaga kependidikan di pemerintahan terus mengerucut. Lalu, dengan kondisi seperti ini, kisah sedih guru honorer, seakan tidak pernah sepi dalam ulasan banyak penulis, pengamat atau pemerhati pendidikan. Kita sebagai pembaca pun kerap kali berdecak dan menggelengkan kepala ketika membaca cerita duka guru honorer di tanah air. Jadi, bukan hanya guru honorer yang berduka, kita sebagai pembaca juga terbawa oleh duka lara guru honorer tersebut.

Apalagi akhir-akhir ini, para guru honorer semakin merasa gundah gulana, cemas atau malah terus dihantui oleh rasa takut, karena tidak pernah ada kepastian akan nasib mereka. Kegundahan itu kian membucah saat ini, ketika Menteri Pendidikan dan kebudayaan,  Muhajir Efendi dalam rapat penyelesaian masalah guru honorer yang diselenggarakan oleh Kementrian Pendayagunaan  Aparatur Negara dan reformasi birokrasi ( kemenPAN-RB), menegaskan kembali bahwa imbauan MenPAN – RB agar sekolah tidak ada lagi pengangkatan guru honorer. Yang ada ini, mau diselesaikan. Ini adalah berita duka bagi para guru honorer yang kini terus dalam penantian untuk bisa diangkat menjadi guru PNS di tanah air. Sedih bukan?

Tentu saja sangat menyedihkan. Tidak selayaknya pula para guru honorer terus berlama-lama dalam ketidak pastian tersebut. Para guru honorer juga harus lebih rasional. Para guru honorer, harus mencari jalan lain, walau sesungguhnya kemampuan dasar adalah di dunia pendidikan. Namun, ketika peluang untuk menjadi guru yang berstatus PNS tidak kunjung tiba, para guru honorer harus banting setir, karena jalur yang diambil selama ini bukanlah jalur yang bisa membantu para guru honorer membangun kehidupan, tetpai sebaliknya telah membuta para guru honorer terpuruk dalam kondisi yang tidak berdaya. Tentu masih banyak jalan lain yang dapat ditempuh oleh para guru honorer.  Guru honorer bisa memilih menjadi entrepreneur atau wirausahawan, bisa membuka usaha sendiri, walau tidak memiliki pakaian seragam ke sekolah. Untuk apa kita berpakaian seragam guru PNS, kalau nasib tidak bisa berubah. Oleh sebab itu, para guru honorer tidak boleh membiarkan nasib tidak berubah, para guru honorer harus mengubah nasib sendiri dengan melakukan kegiatan ekonomi lainnya. Bahkan, bila para guru honorer mau berubah, guru honorer bisa menggunakan kemampuan menulis, pengalaman dan juga kemampuan berbahasa untuk menulis dan menjadikan aktivitas menulis sebagai salah satu sumber keuangan. Ya, banyak jalan untuk kelurag dari belenggu kesengsaraan seorang guru honorer. Ubahlah impian itu segera, agar tidak terus tenggelam dalam lumpur status guru honorer. Mari buka mata dan pikiran, bergeraklah dengan segera dan cepat. Pasti bisa.


Click to comment