Nilai- Nilai Tarbiyah Saat Nabi Ibrahim Menyembelih Nabi Ismail

advertise here
Rate this posting:
{[["☆","★"]]}
>


Oleh: Zulkifli,S.Pd.I,M.Pd
(Guru MTsN 6 Aceh Utara)

Awal dari beberapa syariat yang berada dalam Islam adalah peninggalan nabi-nabi terdahulu yang dilanggengkan.

Salah satunya adalah syariatnya nabi Ibrahim a.s, dimana nabi Ibrahim diperintahkan untuk menyembelih anaknya nabi Ismail dan juga nabi Ibrahim a.s membangun Ka'bah, Ka'bah merupakan qiblatnya umat muslim diseluruh dunia.

Ketika nabi Ibrahim menikahi Hajar, beliau dikaruniai seorang putra yang bernama Ismail. Hajar merupakan isteri kedua nabi Ibrahim setelah Sarah.

Dalam mengarungi rumah tangganya bersama Hajar, banyak kisah yang di abadikan dalam Quran yang kemudian menjadi i'tibar dan hukum bagi umat nabi Muhammad Saw.

Awal qurban yang disyariatkan kepada nabi Muhammad Saw juga sebagian berpendapat bahwa itu awalnya dari syariat nabi Ibrahim, walau sebagian yang lain berpendapat itu sudah ada sejak nabi Adam a.s yaitu ketika Qabil dan Habil diperintahkan berkurban oleh ayahnya nabi Adam a.s.

Kisah nabi Ibrahim ketika menyembelih anaknya nabi Ismail kemudian Allah gantikan dengan qibasy, mengandung beberapa nilai tarbiyah yang menjadi i'tibar bagi umat nabi Muhammad Saw.

Nilai-nai Tarbiyah Ketika Nabi Ibrahim Menyembelih Ismail

Ada beberapa nilai tarbiyah yang terkandung ketika nabi Ibrahim menyembelih anaknya nabi Ismail, yaitu:

Iman, keimanan nabi Ibrahim tidak dapat diragukan lagi, sehingga apapun yang diperintahkan oleh Allah Swt, beliau meyakininya dengan sepenuh hati dan ini dapat dilihat dari langsung mengerjakan perintah Allah tersebut.

Ketika nabi Ibrahim menerima perintah untuk menyembelih anak semata wayangnya Ismail, nabi Ibrahim mengerjakannya dengan ikhlas, karena beliau senantiasa memprioritaskan Allah Swt sebagai Tuhannya.

"Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata "wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka fikirkanlah apa pendapatmu?", Ia menjawab, "wahai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepada mu, insyaa Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar"", (Q. S As-safat: 102).

Bukan saja imannya nabi Ibrahim, namun imannya nabi Ismail yang kokoh, senantiasa menyakini segala sesuatu yang diperintahkan oleh Allah Swt adalah suatu kewajiban yang wajib dikerjakan dan ia yakin bahwa banyak hikmah dibalik menjalankan perintah Allah.

Hajar merupakan seorang isteri dan ibu yang sangat sabar dan kokoh keimanannya, melihat Ibrahim bersama Ismail dengan membawa pisau, tali dan kain penutup mata, tapi Hajar tidak curiga dan su-uldhan, ia mempercayai suaminya dan apa pun yang terjadi ia percaya kepada ketentuan Allah Swt.

Inilah keberhasilan nabi Ibrahim dalam menanam keimanan kepada dirinya, isteri dan anaknya, sehingga mereka selalu menjadikan Allah Swt sebagai prioritas utama dalam kehidupan.

Anak yang shalih, nabi Ismail bukan saja sekedar anak biasa, namun beliau adalah anak yang shalih, senantiasa taat kepada orang tuanya, ini terbukti ketika nabi Ibrahim menceritakan kepada Ismail bahwa Allah memerintahkan dirinya untuk menyembelih Ismail, dengan mantap dan penuh ketaatan Ismail menjawab yang itinya kalau itu perintah Allah, kerjakanlah wahai ayah ku.

Disembelih resikonya adalah meninggal, berpisah dengan ayah, ibu dan kehidupan dunia, namun lantaran ketaatan Ismail kepada ayahnya, tidak ada sepatah kata pun menolak apa yang ayahnya ceritakan kepadanya.

Keikhlasan, keikhlasan nabi Ibrahim dalam menjalankan perintah Allah adalah telah membuahkan hasil yang sangat baik.

Ketika nabi Ibrahim menyembelih Ismail dengan mata tertutup dan tangan kaki terikat, pisau tidak dapat melukai Ismail, akhirnya Ibrahim menceritakan kepada Ismail.

Keikhlasan Ismail dalam menuruti perintah ayahnya itu terbukti, ketika pisau tidak dapat melukai dirinya, maka Ismail meminta ayahnya untuk membuka ikatan tangan dan kaki dirinya agar tidak terlihat terpaksa.

Namun pisau masih saja belum mampu melukai Ismail, Ismail pun meminta ayahnya untuk membuka tutup matanya agar ia benar-benar ikhlas menjalankan perintah Allah.

Suatu keajaiban terjadi, ketika nabi Ibrahim menyembelih Ismail, keluarlah darah berceceran, namun betapa terkejutnya mereka, ternyata yang disembelih itu adalah qibasy yang digantikan oleh Allah Swt.

Allah merupakan prioritas utama, kisah nabi Ibrahim yang digambarkan dalam Al-Quran adalah merupakan buktinya keluarga Ibrahim senantiasa memprioritaskan Allah Swt dalam segala hal.

Apapun yang Allah perintahkan kepadanya, nabi Ibrahim, Hajar dan Ismail, itu yang pertama sekali dikerjakan.

Ketika Allah menjadi prioritas utama, maka tidak akan ada keraguan dalam menjalankan syariat.

Bisikan dalam hati dari gangguan si khannas dari golongan jin dan manusia untuk senantiasa meninggalkan perintah Allah, maka tidak akan dihiraukannya lagi.

Ketika Iblis berbisik kepada Ibrahim untuk tidak menyembelih anaknya Ismail, Ibrahim tidak menghiraukannya sehingga iblis dilempar dengan batu.

Bisikan kedua iblis kepada Ismail utuk tidak mematuhi perintah ayahnya untuk menyembelihnya pun tidak dihiraukan, sehingga Ismail melempar iblis dengan batu.

Bisikan terakhir iblis kepada Hajar agar menggalkan nabi Ibrahim untuk tidak menyembelih putranya Ismail juga tidak membuahkan hasil, Hajar melempar iblis dengan batu.

Ketika ditanam dalam hati, Allah sebagai prioritas utama, maka manusia tidak akan mendengarkan lagi bisikan iblis untuk senantiasa melakukan maksiat, baik secara dhahir atau pun batin.

Korupsi, kolusi, khianat, mendhalimi, pacaran, berzina, meninggalkan perintah Allah dan segala macamnya tidak akan lagi dikerjakan oleh manusia.

Maka ketika itulah, manusia akan menemukan hakikat dari tujuan hidup, yaitu senantiasa mencari ridha Allah Swt sehingga ia akan terpetunjuk dalam segala, inilah tujuan akhir, bahagia didunia dan di akhirat, husnul khatimah dalam menghadap Allah Swt.

Click to comment