Perjalanan Meraih Asa

advertise here
Rate this posting:
{[["☆","★"]]}
>

Catatan Seorang Guru

( bagian Pertama)

Oleh Iskandar Is
Kepala Sekolah SD Negeri 2 Krueng Simpo, Juli, Bireun?

Senda Gurau Di Bangku SD
            Kami sungguh sangat senang canda riang, senda gurau, tawa ria semasih duduk di bangku SD. Sebelum aku berangkat ke sekolah, terlebih dahulu ibuku menyiapkan makanan, sarapan pagi buat kami sekeluarga. Yang sangat kami kagumi ibuku memasak makanan lebih yang bisa buat bekal kami bawa ke sekolah.
Kadang-kadang adikku dapat uang lagi dengan makanan tadi. Sebab makanan yang bagian untuk adik ia jual. Dia pandai tentang itu.
            Makanan tidak mau semuanya ia makan, tetapi sebagian dapat dijualnya. Kesimpulannya kami makanan ada, uang pun dapat.

                        Ketika pulang sekolah
            Perjalananku pulang sekolah cukup jauh dari sekolah ke rumah, kadang-kadang ayah pun tidak sempat menjemput kami ke sekolah, sebab orang tua kami sibuk di ladang.
Kami terus jalan kaki dan bersabar, apalagi uang jajannya pun sudah bertambah dengan dagangan adik tadi.
            Dalam perjalanan pulang, banyak sisa makanan yang bisa terjual juga, seperti keripik yang tak pernah lupa ibu menggoreng buat jajanan kami. Kami juga tidak pernah lupa membawa jambu ke sekolah juga itu pun dapat menghasilkan uang kami. 
                        Saat tiba di rumah….
            Ketika kami sampai di rumah, terus makan siang walau waktu sudah menunjukan pukul dua, tetapi itu tetap makan siang. Kemudian shalat, terus tidur sejenak, lantas pekerjaan pun sudah menunggu kami pulang. 
Seperti biasanya orang tua zaman dahulu, pasti memelihara lembu dan kerbau barang beberapa ekor. Tugas kami berdua dengan adik yaitu memberi makanan lembu dan kerbau ke ladang. Itu pekerjaan kami sehari-hari kami ketika pulang sekolah.
            Kami tetap setengah hari mengembala lembu dan kerbau. Itu pun kami tetap membawa tas buku, sebab sambil mengembala, kami harus belajar manakala membuat PR dari sekolah. Bila malam nanti kami berdua harus ke tempat pengajian itu pun rutinitas kecuali malam minggu.
Kami tetap tidak membantah apapun keadaannya, walau hujan turun, walau matahari terik, namun pekerjaan harus selesai.
Semua PR terselesaikan, walau sesibuk apapun.
Namun pekerjaan tak pernah tertunda.

            Ketika mentari di pagi itu mulai cerah menyinari seluruh jagat raya, burung pun berkicau riang bersahut-sahutan dari ranting ke ranting. Dedaunan semakin perlahan di antara sepoi-sepoinya angin yang menyejukkan orang-orang yang biasanya menjalankan segala aktifitas atau rutinitas yang selalu mereka jalani setiap hari.
            Kebetulan pagi itu pagi Senin. Anak-anak di kampung kami bergegas cepat-cepat untuk ke sekolah seperti biasa dilakukan. Kami berdua juga tidak kalahnya sama-sama dengan adik lebih kurang empat KM berjalan kaki ke sekolah. Maklum tempat tinggal kami di pelosok pedalaman yang sangat jauh dari kota salah satu desa yaitu Teupin Mane, dusun Seunubok Dalam.
            Tepat sekali hari itu Senin, tanggal 10-06-1981. Aku masih duduk di bangku kelas V SD. Namun pikiran dan hatiku selalu berniat untuk menjadi seorang guru yang berhati mulia.
Seandainya mimpi ini terwujud hendaknya, alangkah bahagianya hati orang tua kami. Perasaan itu selalu timbul terlintas dalam benak hati seorang anak yang kian mengimpikan semoga kelak menjadi sosok seorang guru yang bijaksana.
            Karena hari demi hari, yang selalu kami terima pelajaran yang diberikan oleh guru-guru kami di SD Inpres Teupin Mane sungguh menarik dan menyenangkan hati.
            Ibu gurunya cantik-cantik. Bapak guru pun tidak kalah gantengnya. Semua mereka berbudi pekerti yang tulus dan iklas, juga mereka semua adalah insan-insan yang penuh tanggung jawab, rela berkorban jiwa dan raga demi kami anak-anak didiknya.

Click to comment