SATU KALI SUMMER, SATU KALI AUTUMN

advertise here
Rate this posting:
{[["☆","★"]]}
>


Oleh: Armielda Rayya


Aku menatap laki-laki ini. Wajah tirusnya tersisip senyum khasnya yang santai.
“Dave...?” Aku hendak bertanya, tetapiurung. Jadilah ucapanku itu terdengar menggantung.
“Hmmm, ya?” Dia bergema, membuatku kehilangan kata-kata.
“Ah, bukan apa-apa,” sahutku pendek.
Davemenggeleng. Mendekatiku, dia berbisik lembut, “I’mgonnabefine…
Aku menatapnya sekali lagi. Memperhatikan raut wajahnya yang halus dan memerah karena tersengat matahari, lalu turun ke bibirnya yang tersenyum dengan tenangnya.
“Hanya satu kali summerdan satu kali autumn, masa bisa sekangen itu?” godanya.
Kupukul lengannya yang berlapis t-shirtputih. Pastilah saat ini wajahku telah ikut memerah. Bukan karena tersengat matahari sepertinyaandaipun begitu, mungkin hanya sedikit. Dia tahu betul aku paling tidak bisa menutupi perasaan. Rona-rona merah jambu akan menyembul di pipiku yang penuh, khas wajah Indonesia yang menjadi favoritnya.
“Pokoknya oleh-olehku jangan sampai lupa, haighchocolate. Awas kalau lupa!” rengekku.
Pelan, ditangkapnya kepalan tanganku dan menggenggamnya. Dave lalu menatapku begitu dalam, begitu lama, hingga dilepasnya genggaman itu dan bergegas menyuguhkan sebaris senyumnya yang selalu indah.
Terpatah sudah apa yang ingin kukatakan. Aku lupa pada setiap kata itu. Entah menghilang ke mana, semua menjadi gamang, lenyap, membisu. Seperti Dave yang dengan tenangnya tak bersuara, membiarkan aku dan dirinya tenggelam dalam bisu yang biru.
Kuperhatikan saja geraknya membenahi kopor yang tergeletak di atas tempat tidurnya. Ada juga tiket dan syal cokelat muda pemberianku yang mungkin bisa menghangatkannya di malam-malam dingin di Adelaide. Sesekali dia melihatku dan melempar senyum. Menyelipnya dengan kedipan, diamenyambung senyumnya kembali. Tak ada yang bisa aku lakukan. Mencoba membantunya? Ah, sepertinya tak ada gunanya untuk Dave yang begitu terencana.
“Hm..., lapar!” Dave memegang perutnya seraya membanting tubuh ke sofa. “Hm..., makan mieinstansepertinya enak.”
“Ya, udah masak, gih… Aku juga mau…,” kataku memamerkan sebaris gigi. 
Dave berubah cemberut. Sebetulnya aku sudah tahu, sebentar lagi dia akan merengek minta dibuatkan.
“Tapi, harus mi goreng, seperti dulu, dengan bumbu dan rasa yang sama. Persis seperti sepuluh tahun lalu di Adelaide.”
“Hah?”
“Masa nggak ingat?”
“Kapan,ya?” Kukerutkan kening. Hei, aku suka melihatnya sebal.
“Selepas pulang dari kampus dan kita berkhayal seolah-olah salju turun padahal itu masih summer  yang luar biasa panas. Lalu kita kegerahan melewati jalanan mendaki. Kamu ingat, tidak?”
“Lalu, apa hubungannya dengan mi goreng?”
“Hm, benar-benar lupa, ya?” 
Aku mengangguk.
“Sampai di rumah, kamu masak mie yang enak banget!”
“Oh ya?” kataku pura-pura mengingat.
“Masa, sih, kamu lupa momen seperti itu...?”
”Memangnya penting, ya?”
“Ya, pastilah. Itu, kan, pertama kali kamu masak buatku…”
“Ooo.” Kubuang pandangan sambil mengulum senyum. Tentu saja aku masih ingat, selamanya ingat.
Tiga kali pergantian setiap musim di Australia, di kota kecil bernama Adelaide, aku dan Dave pernah menyusuri jalan kecil berbukit, berjalan kaki selama dua puluh menit pulang dari FlindersUniversity. Ke pustaka, mencari buku dan mempersiapkan presentasi. Merasakan kantuk saat masih harus begadang menyusun tesis di akhir kuliah. 
Aku tinggal tepat di seberang rumah Dave.
Ia—warga negeri kangguru itu—sebagian darah di tubuhnya asli Jawa. Dave bahkan fasih berbahasa Jawa. Sebab itu menjadi mata kuliah wajib dari sang nenek yang masih kental dengan adat istiadat ketimuran. 
Sahabat sejati. Itulah janji kami waktu itu, hingga degup-degup itu terasa, mengalir melewati bilur jiwa dan hati, menamatkan janji semusim. Di sebuah malam culturedinner, saat berdansa dengannya, pertama kali keningku disinggahi hangat kecupnya.
“Hei, kenapa melamun?”
“Siapa yang melamun?”
“Kamu!”
Aku menggeleng saja.
“Apa yang kamu pikirkan?”
“Tidak ada.”
“Dengar, ya, aku sangat mengenalmu, youcan’tlie…, apalagi padaku. Karena hidung pinokio-mu ini!” Dia menarik hidungku yang mancungnya pas-pasan.
“Aaaah!” teriakku, yang diikuti gelak tawanya. 
“Ayo, aku ingin mi goreng,” rengeknya lagi.
“Oke…oke…”
Tubuhku berhambur menjauh dari sisinya. Memotong bawang sambil menangis. Mengiris tomat sambil sesekali mengiris kuku sendiri tanpa sengaja. Terakhir, aku membujuk Dave memanaskan air. Aku tidak suka masak.Entah apa yang terjadi jika jodohku tipikal orang yang mewajibkan istri untuk memasak setiap hari. Aku alergi bumbu. Alat-alat dapur selalu menyisakan luka di jari-jariku. Tentu saja, rahasia ini yang hanya Dave yang tahu. 
Hm, coba saja nanti kalau aku menikah dengannya, aku tak perlu memasak seumur hidup karena Dave jago masak, kecuali kalau sesekali dia ingin masakan istimewa dariku. Istimewa dalam tanda petik karena biasanya hangus, gosong, atau paling hebat, keasinan! Tapi, tentu saja, setiap masakanku adalah yang spesial baginya karena dia yang paling tahu pengorbananku di dapur.  Hmmm, mengkhayalkan semua itu, alangkah bahagianya.
Tamat kuliah, aku kembali ke Indonesia. Lulus pegawai negeri dan bekerja di sebuah pulau kecil yang dikelilingi lautan. Dave tidak pernah lupa mengirimiku kartu bergambar bunga matahari yang datang setiap bulan. Dia selalu mengatakan mataku bersinar seperti matahari. Sebuah alasan yang sangat merayu…
Hmmm, sebenarnya, kurangkah semua sinyal cinta itu? Namun tetap saja, aku tak pernah bisa seratus persen mengikatnya dalam kenyamanan perasaan. Aku selalu terjebak dalam kegalauan juga ketidakpastian. Cinta yang tak terucap. Selalu datang dan pergi bak matahari yang muncul di balik awan pegunungan dan tenggelam di tenangnya permukaan laut. Guratan kehadirannya hanya bisa terjamah dengan selembar tiket Jakarta-Australia.
Hingga suatu hari, Dave tiba-tiba muncul di depanku dengan tiga kopor besar, tersenyum dengan lebarnya. Dia akan menetap di Indonesia, melakukan peninjauan untuk proyek konservasi alam bawah laut. Tapi, itu sudah tiga tahun yang lalu. Tak ada yang terjadi di antara aku dan dia. Meski aku tahu dia tidak bersama orang lain, tapi dia pun tidak bersamaku.
Apakah benar cinta harus terkatakan? Dan, salahkah bila mendambakan cinta yang entah butuh perkataan atau tidak itu berlabuh dengan pasti lewat guratan namanya pada sebuah cincin yang melingkar di jari manis? Tapi, keberanian itu tak pernah pecah lewat kata-kata. Setidaknya labuhan pertanyaan akan kelanjutan kasih sayang yang sepertinya semakin tak berujung ini.
Dan, besok, dengan kapal cepat pertama di pagi hari, dia harus segera menggusur langkah. Tiba di jakarta dan kembali ke Adelaide. Kenyataan itu meruntuhkan segenap harapanku, bahkan untuk sekadar bertanya.
“Enak?” tanyaku sembari memerhatikannya melahap mi goreng buatanku.
“Nggak ada gosong-gosongnya. Nggak asyik!” cetusnya sambilmanyun.
Kucubit gemas pangkal lengannya. Dia hanya menyeringai. Dia masih saja terus meledek mi goreng yang hangus sepuluh tahun lalu? Ah, lihatlah caranya menyendoki mi panas itu ke mulutnya, sungguh lucu sekali.
“Kenapa melihatiku seperti itu? Aku jadi tidak selera makan. Jadi ingin memandangmu juga!” katanya sambil menahan tawa.
Senyumku semakin lebar. Bagaimana bisa memindahkan pandang dari bangir hidung blasteran, juga rambutnya cokelat itu?
“Pasti ada yang kamu pikirkan. Benar begitu?” selidiknya.“Kamu pikir bisa berbohong dariku?”
“Hanya sedang memikirkan, akan kulabuhkan ke mana rinduku saat kamu pergi?” kataku akhirnya, tanpa rasa gugup sedikit pun.
Dave tahu betul, aku pasti akan kangen padanya. 
Santai, dia tersenyum.“Kamu tidak akan kangen padaku!” ujarnya mantap.
Keningku berkerut.
Mengelus alisku, dia bilang, “Sssttt..., jangan mengerenyitkan kening begitu. Jadi mirip Mbah, tahu nggak!”
Kami tertawa. 
Namun, perasaanku tetap bermain. Mengapa dia bilang, aku tak akan kangen? Waktu satu tahun akan menjadi penghalau mata ini memandang wujudnya. Merintangi wajah ini untuk menyentuh tatapannya. Segalanya dapat terjadi. Segalanya dapat berubah.
“Mbah lagi apa, ya? Kok, aku jadi kangen.” Aku jadi teringat pada neneknya yang tak pernah melepaskan batik solonya. Itu menjadi iconpenampilannya sehari-hari. Bersahaja tapi karismatik, sebuah bakat yang juga muncul di diri cucunya, Dave.
Ah, Mbah…, aku jadi ingat. Suatu kali aku pernah minum teh bersama Mbah. Kami asyik membahas tentang bunga anggrek kesukaannya, yang juga bungakesukaanku. Kami suka berbincang di halaman belakang rumah, duduk di kursi rotan yang jadi terlihat sangat kontras dengan meja kecil jenjang marmer yang elegan.
Mbah sangat suka anggrek berwarna violet. Apapun jenisnya, dia sangat mengagumi warna itu. Menurutnya, warna itu menggambarkan keceriaan dan kekaleman pada saat bersamaan. 
“Anggrek ungu itu pencemburu dan penyedih,” komentarnya terhadap warna anggrek acuan mataku. “Meski begitu, ia anggun dan memesona….,” sambungnya.
Aku tersenyum malu; seakan itu pujiannya untukku, bukan kepada anggrek ungu di sana.
“Apa Mbah masih saja menyuruhmu melamarku?” Aku menggoda Dave.
Tapi, yang dituju hanya tertawa terbahak-bahak.
“Terakhir ketemu Mbah, aku dimintauntuk tidak pulang lagi ke sana. Kecuali..., ada cincin di jariku.”
“Lho, kok Mbah aneh, sih? Mestinya laki-laki yang memasangkan cincin!”
Dave mengangkat bahu. “Aku juga bilang begitu. Tapi, sepertinya Mbah mulai tak percayakalau aku mampu melamar anak orang. Sebab, kata Mbah, mungkin malah aku yang dilamar,” kelakarnya. 
Aku ikut tertawa. Tertawa dingin. Getir. Benar juga. Aku sudah lama mengenalnya. Satu-satunya perempuan yang dekat dengannya hanya aku. Jadi, wajar Mbah semakin gelisah melihat tingkah cucunya yang sepertinya takut dengan perempuan lain tapi tidak juga melamarku. Entah itu berkah buatku atau malah musibah. Karena, tak ada juga laki-laki yang berani dekat denganku dengan adanya dia yang selalu di sampingku.
“Jadi, besok kamu tak bisa mengantarku?”
Aku menggeleng.
“Sampai pelabuhan pun?”
Aku masih menggeleng.“Ada meetingpagi, seperti biasa.”
Dave mengangguk-angguk.
“Tidak apa-apa, kan? Kalau kamu balik nanti, aku jemput di bandara,” kataku.
Sebenarnya, itu cuma alasanku. Aku benci lambaian tangan. Aku lebihmendamba menunggu pelukannya di koridor bandara. Dan, itu akan terjadi setahun kemudian. Miris.
“Setahun lagi?” gumamku lirih, setengag melamun.
“Hei, apa maksudmu?” Dave penasaran.
“Ma-maksud yang mana?” Aku tergagap.
“Dengan nada..., setahun lagi?”
“Ya, setahun lagi! Benar, kan?”
“Tapi, nada suaramu….”
“Kenapa dengan nada suaraku?”
Dave mendengus pelan. Sekarang, seharusnya aku yang bertanya, ada apa dengan dia? Ada apa dengan perasaannya terhadap nada suaraku. Mengapa dia berpikir seperti itu? Bukankah, seharusnya aku yang mempertanyakan mengapa dia bertanya?
“Setahun lagi, menjemputmu di bandara, lalu memulai lagi denganmu, beberapa bulan kemudian, kau akan pergi, dan aku kembali menunggu untuk menjemputmu. Berapa kali lagi?”
Dave menatapku. Dia bingung, ini pertanyaan tentang pekerjaannya atau tentang hatinya. Ah, Dave, memutuskan apa yang kau pikirkan pun kau tak mampu.
“Kamu mulai lagi, tentang hubungan kita…,” ucapnya pelan.
“Kamu pikir tentang apa, Dave?” Nada suaraku tidak lagi meninggi seperti tiga atau empat tahun lalu, ketika dengan santainya dia bertanya mengapa aku menunggu. Tentang apakah semua ini? Tanyanya waktu itu yang membuatku meledak. Aku marah. Dan, aku merasa cukup berhak untuk marah. Karena aku mencintaimu!Itu jawabanku waktu itu. Aku tak percaya, jika detik ini dia kembali bertanya. Sungguh, tidak adakah dia bermain rasa dengan apa yang aku rasakan?
“Aku tidak tahu, apakah kita akan bicara lagi seperti dulu?”
“Menurutmu?” Aku balik bertanya.“Dave, aku tak ingin menunggu setahun lagi, atau sedetik lagi, untuk sebuah kesia-siaan.”
“Kesia-siaan?” tanyanya gusar. 
Aku mengangkat bahu. Aku bisa bilang apa, hampir sepuluh tahun berhubungan tanpa status jelas dengannya? Ah, apakah ini persoalan status? Hanya setipis itu? Sebuah status? Pentingkah? Mengapa pikiranku kembali dibaluri pertanyaan-pertanyaan itu? Dan, mengapa harus merasa bersalah, jika memang itu yang aku inginkan untuk kuketahui?
“Adakah orang lain?” tanyanya.
Membuatku tersenyum, sungguh aneh.
“Hanya ada aku dan kamu!” Aku menunjuk dadanya.
“Kamu bosan dengan aku?” tanyanya lagi.
Kali ini aku nyaris tertawa.
“Bulan depan, satu angka lagi bertambah untuk usiamu. Tiga belas hari kemudian, aku menyusul. Kamu tahu apa yang ingin aku dengar selama hampir 10 tahun? Kata-kata, ‘kamu cinta aku’,” kataku. 
Dave terbata. Kuriaki dalam matanya yang biasanya terasa hangat. Tapi, detik ini begitu kering dan gersang di sana.
“Katakan, sekali saja, kamu cinta aku!” Kutunggu jawabnya, tapi hanya matanya yang menyapu pandang ke sudut daguku.See, it’strulywastingtime.”
“Jika itu saja tidak bisa kamu ucapkan, bagaimana bisa aku bermimpi tentang hal lain?” Kemudian aku menunduk, menyegerakan diri pamit dari bingkai tatapannya.
***
Langit terang kembali tegak setelah milyaran bintang semalam hilang cahaya. Riak ombak terdengar nyaring dalam ruangan rapat kantorku, sesaat setelah pertemuan staffselesai. Dan, aku menyisakan sosok di depan sebuah jendela kaca, memandang laut lepas yang hanya beberapa meter jarak di depan langkah.
Pelan air mataku menetes. Sungguh rumit, bahkan untuk memilih di antara pilihan yang kubuat sendiri. Melindungi hati menjadi begitu naif, ketika yang kudapati justru hatiku yang berontak, melawan pikiran. Hatiku rindu padanya. Hatiku tidak ingin lepas mencintai, bahkan ketika mulutku berkata, aku telah berhenti! Sepuluh tahun kurasa cukup untuk hanya menanti sebuah kata cinta. Dan, yang membuatku sakit hati, ternyata waktu selama itu pun masih belum bisa membuatnya menyakinkanapa yang dirasakannya terhadapku.
Puluhan kilometer di seberang, pelabuhan kecil telah begitu ramai dengan penumpang kapal cepat yang bertaburan dengan pikiran mereka masing-masing. Mungkin, tentang rindu pada pekerjaan atau pada rumah dengan segenap kehangatan di seberang yang lain.
Telepon genggamku bergetar. Dave mengirimku sms. Tas dokumen dan sampel penelitian yang seharusnya dibawanya, tertinggal di kamar. Aku harus mengambil dan mengantarnya ke pelabuhan. Kepalaku mendadak pusing tujuh keliling, menahan cemas. Seorang Dave bisa seceroboh ini? Meninggalkan dokumen dan sampel yang menjadi alasannya untuk kembali ke Adeilaide? 
Aku tiba di rumahnya, instingmengambil kunci di bawah pot bunga anyelir. Tas yang dimaksud terletak dengan meringis di sudut ruangan. Pasti dia tertinggal karena bentuknya yang lumayan mungil. Kuraih dan setengah berlari menuju mobil, segera beranjak dari sana.
Tapi, kapal cepat itu sudah berangkat. Beberapa meter saja di depanku. Aku meloncat di tempat, berteriak memanggil namanya dengan bingung, hingga akhirnya menyerah. 
Aku terduduk di kursi tunggu pelabuhan. Dengan gontai menopang kepala. Melepaskan tas mungil itu hingga menyentuh sepatuku. Kutelengkupkan muka dan mulai menangis penuh kesedihan. Seolah tas yang tertinggal ini adalah hatiku. Tertinggal begitu jauh dan dengan cara yang tak penting. 
Mengapa dia bisa seceroboh ini? Meninggalkan tas dan hatiku sedemikian rupa? Seakan dia tak pernah tahu apa yang penting dan tidak untuk dirinya. Apa gunanya membawa semua kopor berisi baju dan playstationkesayangannya, sedang hal yang paling penting tertinggal di sudut ruangan seperti itu? Apa gunanya hidup begitu bahagia, dengan segala senyum itu jika dia melupakan bahwa akulah yang membuatnya bahagia? Melengkapi sebelah hatinya hingga penuh terisi cinta yang dia tidak mengakuinya?
“Dave yang bodoh!” gumamku.
Bahuku dihuyung dengan pelan. Aku baru menyadari seseorang telah duduk di sampingku.
“Kamu?” Aku tak percaya pada apa yang kulihat.
“Aku tidak mungkin pergi tanpa ini,” ucapnya seraya meraih tas dari bawah kakiku.
Aku mengangguk paham. “Maaf, aku terlambat. Kalau saja aku bisa menyetir lebih cepat. Siang nanti masih ada kapal cepat, sudah tunda tiket pesawat?”
 Dave diam saja.
“Oke. Aku pergi sekarang,” kataku seraya menyeka sisa air mata dan beranjak dari tempat duduk. Tapi, Dave menyambar tanganku, menggenggamnya, meremasnya erat, dan memaksaku berdiri di hadapannya yang masih pada posisi duduk.
“Karin, dari kecil, aku takut pada laut bahkan hanya dengan suaranya. Tapi, karena kamu mencintai laut, aku belajar menyukainya. Kamu tidak pernah tahu, kan?” ucapnya. “Di Adelaide, ketika pertama kali aku tahu kamu alergi bumbu, sebulan penuh aku belajar masak makanan kesukaanmu. Demi apa? Hanya agar kamu kagum padaku yang ternyata bermanfaat untuk mengobati homesick-mu. Kamu belum lagi tahu, kan?”
Aku terperangah.
“Aku tidak mengerti, mengapa aku bisa begitu jauh berubahnya hanya karena kehadiranmu dalam hidupku. Aku bingung. Ketika aku tidak lagi suka kopi, berhenti merokok, mau menonton drama korea bersamamu, dan bisa menyelam setelah belasan tahun aku membenci laut, semua karenamu.” Dave menghela napas. Matanya menyeruak masuk lebih jauh ke dalam mataku. 
“Hingga akhirnya, aku tiba di titik di mana aku tidak bisa membedakan lagi, siapa diriku dan siapa dirimu. Bagiku, aku dan kamu terlihat sama, seperti pada satu tubuh, dan aku lupa, apa yang sesungguhnya aku sukai, dan apa yang aku benci.” Dave berhenti di situ. Matanya berlinang, suaranya gemetar, dan untuk pertama kalinya diangkatnya wajahnya yang memerah menatap wajahku.
“Aku mencintaimu…” Air matanya menetes, melumerkan sebongkah rasa di hatiku yang tidak kumengerti. Aku tak bergerak, bukan karena tak ingin, tapi lantaran tidak mampu. Apa yang aku dengar terasa nyaring dan gaib. Menempuh perjalanan surut sepuluh tahun ke belakang. Dan, kembali lagi sekelebat dalam suasana ini. Tepat setelah aku tak ingin apa-apa lagi darinya. Hanya, bila mungkin, menunggunya kembali setahun lagi.
“Aku membuatmu kehilangan dirimu, aku sungguh tidak sengaja. Aku tidak ingin kamu seperti ini. Seandainya aku tahu kamu tidak suka apa yang kini kamu cintai, aku sungguh tidak sengaja….” Aku kembali menangis.“Aku telah menyakitimu…,” kataku terisak-isak.
“Kamu menyakitiku hanya satu kali itu, setiap kali kamu bertanya tentang cintaku. Dan, aku begitu bodoh, karena tidak bisa menjawabnya.”
Aku dan Dave saling tatap. Dia masih duduk sambil menengadahkan wajah, sedang aku masih berdiri, menempatkan wajah penuh dalam matanya.
“Kamu tahu? Tas ini tertinggal karena semalam aku kembali membongkarnya. Aku ingat, tiga tahun lalu, ketika aku tiba pertama kali di pulau ini, itu untuk bertemu denganmu, dan hanya karena alasan menemuimu. Kusimpan dua cincin di salah satu sakunya. Aku mencari-cari, ternyata masih ada.” 
Dave tersenyum dengan mata yang masih berair. Lalu, dia meraih dua tanganku, menggenggamnya erat.
“Kamu mau lihat?”
Serta merta, aku mengangguk dan tersenyum.
“Tapi, kamu mau janji?”
“Janji apa?” 
Dave diam sejenak. “Memilikiku selamanya,” ucapnya syahdu. 
Kupandangi dalam mata yang kembali penuh air. Dengan tenang, mataku mengimitasi lekuk senyumnya. 
Beku bibirku seakan meretakkan kegalauan yang berumur bak ratusan abad, menyisakan debar dalam ruang kelegaan. Kali ini, sebelum sempat aku mengangguk, dengan pelan diraihnya pundakku, menenggelamkan kepalaku, menemui hangat peluk, sehangat summerdan autumn, di sepanjang musim.

Click to comment