Rasa

advertise here
Rate this posting:
{[["☆","★"]]}
>


Oleh : Fara Fajrina
Mahasiswa  Jurusan Tata Busana, FKIP Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh

Ternyata kata kata “semua akan baik-baik saja”itu cukup menyakitkan.
Kala kau pergi kau menyuruhku untuk berbahagia, kau katakan semua akan baik-baik saja 
Kau suruh aku percaya tanpa mau tau apa yang kurasa.
Aku sangat membenci segala ucapanmu saat itu, bagaimana cara aku bahagia sedangkan bahagiaku adalah saat-saat denganmu.
Tetesan air mataku berjatuhan, namun aku berusaha menyembunyikannya dengan kedua tanganku, hingga air hujan ikut mengiringi saat itu, seolah langit paham akan gundah gulana serta gemuruh yang beradu gelut dalam relungku.
Aku masih berdiri disini dengan harapan kau akan kembali, lalu kuhitung kenangan demi kenangan yang telah kita lalui.
Satu,,,,
Dua,,,,
Tiga,,,
Kau tak kunjung datang,namun aku tetap berdiri berpangku waktu yang inginku hentikan atau sebatas mengajaknya untuk sama sama menantimu, namun dia tetap saja berjalan sahut -sahutan hingga meninggalkanku jauh di belakang, dia tak mau mendengarku dan ikut meratap kepergianmu.
Bisa tolong kau jelaskan padaku apa itu cinta?
Apa itu perpisahan?
Mengapa semuanya menyakitiku?
Jangan pernah kau tanya rindu kepadaku. Tentu saja aku punya itu, walaupun ia telah diam membisu dan jauh di sudut bayang.
Ya kau benar, aku memang sering berusaha membunuh, lalu menguburnya dalam dalam, karena rasa rindu itu hanya menyiksa dan selalu berusaha meruntuhkan pertahananku.
Setiap saat aku berusaha melawan rasaku, kau tahu mengapa?
Biar aku bantu berikanmu jawaban mengapa rasa itu tak kubiarkan, karena ia mengubah setiap detikku kian memekik. Ia juga membuat penuh seluruh riuh hingga sesak kian menyesak dan kusutpun lebih tajam dari tusuk.
Dan ketahuilah untuk melakukan hal itu aku membutuhkan keberanian yang tak sedikit, mungkin seperti harus tega menyakiti diri sendiri atau sebatas tertawa seolah semua benar adanya baik baik saja seperti pesan terakhirmu.
Benar rasaku memang tlah tak bertuan di sini, aku merindukanmu hingga senjaku selalu sendu dan pagiku seolah kelabu. Sedangkan disana kau bercanda ria dan berbagi cerita dengannya yang kau pilih untuk menggantikan posisiku mendampingimu.
Dan pada akhirnya aku harus mengaku kalah, mungkin tuhan memang lebih memilihnya daripada memilihku untuk berada disisimu. Mungkin dia lebih mampu berbesar hati ketika kau berkelana ke beberapa hati,mungkin dia mampu mengubah alur mainmu hingga kau lebih baik bersamanya.
Namun kau pernah singgah dan tinggal di hatiku,kala itu aku menyebutnya cinta.
Andai aku tahu dalam persinggahanmu, kau memahat luka. Sungguh aku takkan mengizinkanmu untuk singgah, walau hanya sedetik di sana. Tahukah kau kini di hatiku seolah telah ada lubang yang kau ciptakan sebelum kau pergi? Tapi tenanglah, aku tidak akan memintamu untuk mengobati rasaku. Kau teruskan saja bahagiamu itu, aku sadar bahwa rasaku adalah tanggung jawabku. Semoga waktu yang tak pernah mau berhenti itu segera menghempas dan membuangmu dari fikirku. Masamu kini telah usai hingga mereka menyebut kisah kita hanya masalalu.
Aku kembali menanti fajar untuk menemukan hati lain yang bisa memberiku penawar dari luka yang kau beri, lalu mengganti senduku dengan senja indah yang merah merekah. Kuharap ia mampu menyusun kembali kerangka rasa yang kau patahkan sepatah patahnya. Tenanglah sayang, kau bisa teruskan bahagiamu. Aku takkan mengusik itu, sudah kukatakan bukan rasaku adalah tanggung jawabku.
Seluruh rindu yang dulu terpupuk itu telah kukubur dalam dalam dan biarkan aku berandai bahwa kelak akan datang, hari dimana ia akan mengirim penggantimu dan akupun tiba di titik melihatmu menjadi biasa saja.
Dan ketika saat itu tiba akan kujemput kembali setiap rasaku lalu kuserahkan padanya..

Click to comment