AKU BENCI PERNIKAHAN DINI

advertise here
Rate this posting:
{[["☆","★"]]}
>
Ilustrasi majalah Anak Cerdas

Oleh: Zahara
Kelompok Perempuan Usaha Kecil (KPUK) Putro Aceh, Lipah Rayeuk Kabupaten Bireuen

Bulan April. Aku benci bulan itu, karena Aku selalu  sial. Semoga saja, hal ini tidak berlangsung lama. Untung aku masih bisa mengatur strategi agar bulan ini aku masih bisa berjalan, walau harus terbata-bata dan menahan rasa malu. Karena semua orang semakin tak mempercayaiku. Mungkin dibelakangku hujatan demi hujatan mengawali langkah kakiku.

Biarpun di balik kesialanku di bulan ini, setidak-tidaknya aku bisa memetik hikmahnya walaupun keluarga juga merasakan malu yang teramat dalam. Nasi telah menjadi bubur, tak mungkin lagi bisa berbalik dan menjadikannya kembali sebutir beras. Jika mungkin kesalahan yang kita perbuat., segeralah bertaubat.

Jika saja pada waktu itu kita bisa memutar waktu, mungkin Aku tak akan mengundangnya. Mengapa penyesalan selalu datang terlambat. Tiada guna juga masalah ini diperpanjang, Aku mencoba mengambil sisi baiknya saja. Meskipun belum waktunya. Namun kecerobohan membuat kebodohan nampak lebih nyata. Di usiaku yang masih 18 tahun, aku harus menerima aib yang  begitu besar dan tidak mungkin aku bisa menutupi lebih lama lagi. Lambat laun ini semua pasti akan tercium dan akan membusuk di dalam organ tubuhku.

Padahal, menikah di usia dini suatu hal yang paling aku benci. Tetapi sekarang aku tidak dapat mengelaknya lagi. Jika menolak untuk menikah, maka aku juga tidak mau jika Ia hidup dengan perempuan lain. Jalan satu-satunya, aku harus menikah dengannya walaupun masih dalam tahap pendidikan. Tetapi terpaksa aku lepaskan. Semua orang menangisi kebodohanku. Padaha,l masa depanku masih panjang dan mungkin di sana aku masih bisa berkarya dan cita-citaku akan tercapai.

Namun sayang mataku telah dibutakan oleh cinta. Sekarang di usia yang semakin menjelang, aku baru menyadari betapa indah masa-masa masih duduk di bangku SMP. Semua berjalan dengan garis yang sejalan dengan usia dan pendidikanku. Sangat sayang, jenjang pendidikan SMU, tak bisa kuselesaikan dengan baik. Aku hanya bisa setengah jalan. Aku harus meninggalkannya karena kebodohanku. Aku harus menjadi calon Ibu dari bayi yang aku kandung. 

Biarpun aku bahagia dengan kehidupan ku sekarang, tetapi jika waktu bisa berputar, aku akan memilih tetap melanjutkan pendidikanku dan belajar dengan tekun. Aku tidak akan menyia-nyiakannya, karena aku baru sadar kesempatan tidak akan datang dua kali. Hmm, betapa bodohnya aku. Itulah kata-kata yang selalu muncul dalam ingatan ku.  Cukuplah aku yang merasakan penyesalan ini. Oleh sebab itu, andai aku boleh meminta dan berpesan kepada para petempuan yang kini sedang menikmati indahnya masa-masa sekolah, indahnya masa remaja, aku akan katakana, janganlah pernah mau untuk menikah pada usia yang masih dini. Jangan takut tidak mendapat jodoh kelak. Bukankah langka, rezeki, jodoh dn maut adalah urusan Allah?

Tulisan ini dimuat di majalah POTRET edisi 26

Click to comment