Aku dan Pisau

advertise here
Rate this posting:
{[["☆","★"]]}
>

Oleh: Nela Vitriani

Hiruk pikuk pasar Aceh begitu terlihat dari ramainya pengunjung dan pedagang. Umi memegangi tanganku erat agar tak terpisah dan larut dalam gelombang arus keramaian pasar. Umi mempercepat langkahnya, agar terhindar dari tabrakan para pengunjung pasar lainnya yang bisa saja berhenti mendadak untuk membeli sesuatu yang dianggapnya perlu atau tak sengaja menjadi singgahan yang tak terencana.
Mau beli apa lagi, Mi?tanyaku pelan.
Umi menoleh ke arahku. Tangannya tetap menggenggam erat tangan mungilku. Namun aku belum dapat mendengar jawaban atas pertanyaanku. Umi mengajakku untuk menepi dari jalan setapak pasar dan singgah di sebuah lapak penjaja bumbu-bumbu masakan.
Sabar ya. Umi mau beli bumbu masak dulu. Mau beli cabe, bawang dan kunyitjawabnya sambil tersenyum tipis.
Oo, untuk masak kari ayam ya, mi?tanyaku polos.
Iya sayang. Kan tadi Rifa minta dimasakin kari ayam kan?jawabnya bersahabat.
Tapi Rifa jangan jauh-jauh dari Umi ya. Di pasar inibanyak orang lalu lalang. Nanti susah nyariRifa kalau jauh dari Umi…”lanjutnya menasehati.
Iya Umi. Rifa ngakjauh-jauh kok. Rifa kan di samping Umi terusjawabku meyakinkan Umi.
Aku melihat Umi sibuk memilih bahan-bahan yang dijajakan pedagang pasar. Bukan toko ataupun kios yang biasa kulihat di dekat rumahku, melainkan hanya lapak yang berjejer yang di atasnya tersusun tumpukan bahan-bahan masakan yang hampir semuanya sama antara pedagang yang satu dengan pedagang lainnya. Umi mengeluarkan isi dompetnya dan menerima bungkusan bahan-bahan masakan yang baru saja dibelinya.
Nah, udah siap semuanya. Kita pulang yuk!ajak Umi yang langsung membuatku bersemangat. Karena sebentar lagi Umi akan masak makanan kesukaanku, kari ayam.
*****

Lelah menyelimuti tapi aku tetap mengabaikannya. Aku sibuk mengeluarkan isi bungkusan demi bungkusan yang sedari tadi Umi bawa pulang dari pasar. Kulihat Umi sibuk menyiapkan bahan-bahan untuk memasak.
Rifa mau bantu Umi masak kan?tanyanya lembut.
Mau, Mijawabku singkat.
Umi menyodorkan aku beberapa bahan masakan, ada bawang, cabe, kentang, dan banyak sekali bahan-bahan yang aku tak tau apa namanya karena aku belum hafal semuanya. 
Nah, cuci dulu bahan-bahan ini sampai bersih ya, sayangkata Umi lembut.
Aku langsung bergegas menuju keran kamar mandi yang disusul oleh Umi. Ia juga mengajariku bagaimana cara mencuci bahan-bahan ini. Aku mempraktikkannya dengan penuh semangat. Hari ini aku akan membantu Umi masak makanan favoritku!
Itu apa, Mi?tanyaku sambil menunjuk sesuatu yang sedari tadi dipegangnya.
Oh ini namanyaPi..saujawabnya sambil menirukan ejaan benda yang dipegangnya itu.
Oh i-sausahutku menirukan Umi.
Bukan isau, tapi pi-saujawab Umi seraya menekankan kata yang ingin dijelaskan.
Oh pi-sautiruku terbata.
Nah, itu baru bener. Pisaukatanya sembari tersenyum.
Emangnya pisau itu untuk apa, Mi?tanyaku ingin tau.
Pisau ini Umi pakai untuk memotong sayuran, ayam, atau bahan-bahan yang udah Rifa cuci tadijelasnya sembari memberikan contoh dengan memotong bahan-bahan yang disebutnya tadi.
Biar semuanya bisa Umi masak jadi kari ayam kesukaan Rifa, trusbisa Rifa makan deh!sambungnya sembari menirukan gaya berbicara seperti artis-artis yang ada dalam sinetron di televisi yang biasa aku tonton bersama Umi dan Abi.
Ooh, gitu ya, Misahutku sambill mengangguk-angguk tanda mengerti.
Nah, sekarang bantu Umi lagi ya. Rifa tolong ambilinpiring yapinta Umi dengan lembut.
Aku bergegas memenuhi permintaan Umi. Sekejap masak-memasak dimulai dan aku terus memperhatikan dan membantu Umi dengan semangat. Sampai akhirnya masak-memasak sampai pada proses akhir, yaitu menunggu kari ayamnya matang dan siap untuk disantap. Hmm, aku jadi tidak sabar. Baunya sungguh menggoda indera penciumanku. Hingga saat makan malam tiba, aku, Umi, dan Abi dengan lahap menyantap makanan hasil karya kami.
Abi, tadi Rifa bantuin Umi masak kari lho!cerita Umi sambil menyendokkan kari ayam ke piringnya.
Oh ya? Wah anak Abi udah tambah gedenih! Udah bisa bantuin Umi masak di dapur. Kalau gitukari ayamnya pasti enak. Hmm, nyam-nyamTuh kan enaaak..sahut Abi sambil mencicipi kari ayam bikinanku dengan Umi. Pujian Abi membuatku girang bukan kepalang.
Besok Rifa mau bantu Umi masak lagi, Bisahutku ceria.
Oh ya? Masak apa?tanya Abi penasaran.
Masak.. ng..aku coba mengingat apa nama masakan yang disebutkan Umi tadi sewaktu kami sedang memasak kari ayam. Umi sempat mengajakku untuk membantunya lagi memasak menu makanan esok hari.
Oh ya! Masakngmasak gulee-pliek u!ucapku girang karena berhasil mengingat menu masakannya walau sedikit terbata menyebutkan nama makanan tersebut.
Pliek u? Wah, itu kesukaan Abi tu!sahut Abi senang.
Aku, Umi, dan Abi tertawa riang sambil menyantap makan malam. Hatiku sangat bahagia dan tak sabar menunggu hari esok tiba.
*****

RifaaMain yuk!sebuah suara terdengar dari arah depan rumahku.
Rifaaaa..suara itu untuk kedua kalinya kembali memanggil.
Aku bergegas menuju teras rumah. Sesosok bocah kecil berambut pirang yang sedikit acak-acakkan dengan bibir tipis yang mungil sedang berdiri di teras rumahku. Ia terlihat senang ketika melihat kedatanganku.
Fa, main yuk! Mamaku baru beliin mainan masak-masakan nihsahutnya sembari menunjukkan bungkusan yang berisi mainan.
Aku juga punya banyak mainan laintambahnya sembari tersenyum riang.
Aku penasaran dengan bungkusan hitam yang dibawa bocah kecil yang bernama Yuli ini. Ingin segera bermain rasanya. Yuli adalah tetanggaku yang seumuran denganku. Setahun yang lalu ketika aku, Umi dan Abi baru pindah ke Aceh, aku berkenalan dengan Yuli. Awalnya aku tidak mau ikut pindah, karena aku sudah betah tinggal bersama nenek di Semarang. Tapi karena Abi harus bekerja di Aceh dan kebetulan daerah asal Umi juga di Aceh, terpaksa aku juga harus ikut tinggal di sini. Namun tak lama aku jadi kerasan tinggal di sini. Karena ada Yuli yang menjadi teman bermainku setiap hari. Kami sering bermain bersama sepulang sekolah. 
Aku dan Yuli sangat akrab karena tak ada anak-anak yang sebaya dengan usia kami di komplek kecil tempat kami tinggal. Walau ada beberapa anak-anak lain, tapi umur mereka tidak sama persis dengan umur kami.
Aku bilang Umi dulu yasahutku singkat.
Aku masuk kembali ke dalam rumah menemui Umi untuk meminta izin bermain bersama Yuli. Kudapati Umi terlihat sibuk dengan pekerjaannya di dapur.
Mainnya di depan rumah aja ya, nak. Jangan jauh-jauh. Kan nanti sore katanya mau bantu Umi masak lagikatanya mengingatkan.
Iya Umijawabku.
Aku langsung bergegas menemui Yuli yang sedari tadi sudah menunggu. Berdua kami mencari tempat yang nyaman untuk bermain. Beruntung rumah kami mempunyai perkarangan yang cukup luas. Rumahku dan rumah Yuli berdampingan, sehingga pekarangan rumah kami terlihat menyatu. Kami pun memilih bermain di bawah pohon jambu rindang yang terletak tepat ditengah-tengah perkarangan rumah kami yang menjadi perbatasan antara pekarangan rumahku dan Yuli.
Hari ini kita bisa masak-masak betulansahut Yuli senang.
Maksudnya?tanyaku bingung tak mengerti apa maksud perkataannya.
Lihat! Aku bawa lilin, korek api, terus..sahutnya penuh misteri.
Pernyataannya yang terpotong itu membuatku semakin penasaran. Aku melihatnya mengeluarkan sesuatu dari dalam bungkusan yang sedari tadi dipegangnya.
Terus apa Yul? Kamu bawa apa?tanyaku tak mampu membendung rasa penasaran dari pernyataannya barusan.
Ini dia! Pisau!sahutnya riang sambil menunjukkannya kepadaku. Ia tersenyum tanda kesenangan dalam permainan baru yang akan dimulai.
Aku kaget bukan kepalang. Aku tak pernah menyangka akan bermain masak-masakan sungguhan. Ada api dan ada pisau juga!
Tapi Umi bilang Rifa belum boleh main api sama pisaukataku mengingat pesan yang pernah Umi sampaikan kepadaku.
Gak apa-apa Fa. Ini kan cuma pakeklilin, trus pisaunya keciljelas Yuli sembari mempraktekkan pisau lipatnya memotong dedaunan yang kami petik tadi sebelum permainan masak-masakan dimulai.
Awalnya aku merasa enggan. Aku hanya memperhatikan Yuli memainkan pisaunya dengan memotong dedaunan demi dedaunan. Ibarat sayur-sayuran yang akan kami masak untuk makan siang. Walaupun hasilnya nanti akan kami buang dan tidak akan mungkin kami makan.
Yuli menyodorkan pisau lipatnya kepadaku. Aku ragu, tapi aku juga penasaran. Aku mengambil pisau yang disodorkan Yuli. Kucoba memegangi pisau itu dan mulai memotong daun-daunan yang bertumpuk di hadapan kami. Asik juga, pikirku.
Rifa potong sayur-sayurnya, trus biar aku yang masakkata Yuli riang.
Yuli menghidupkan korek apinya dan mulai menghidupkan lilin. Api kecil menyembul dari sumbu sang lilin. Ia menyusun beberapa batu untuk menutupi api lilin agar tidak mati tertiup angin. Ia juga menyusunnya membetuk sebuah tungku api kecil agar kami bisa memasak sayur daun-daunan ini di atasnya. Yuli terlihat sangat lihai bermain masak-masakan ini. Ia terus sibuk dengan kompormininya tersebut. Sementara aku sibuk memotong dan mengiris daun-daunan untuk kami masak bersama.
*****
Aku teringat beberapa kejadian lalu. Benda runcing berwarna perak dengan pegangan berwarna hitam tergeletak di atas meja. Besar benda itu kira-kira hampir setengah dari lenganku yang kecil. Aku coba meraihnya namun secara tiba-tiba Umi menarik benda itu dan meletakkannya jauh dari jangkauanku. Seingatku, kejadian itu dua tahun yang lalu sebelum umurku menginjak lima tahun di umurku sekarang.
Aku kembali melihat benda itu ketika Umi memberiku potongan apel dan pepaya. Benda itu kembali tergeletak di atas meja dapur. Aku berhasil meraih pegangannya yang berwarna hitam, karena ujung yang runcing berwarna perak itu terlihat licin dan sedikit kotor dengan getah buah-buahan tadi. Aku tak ingin menjatuhkan benda itu dengan memegang ujung yang licin itu. Namun aku tetap menyentuh ujung benda ini karena rasa penasaranku. Ujungnya dingin dan terasa halus di permukaannya. Seketika Umi tiba di dekatku dan langsung memegangi tanganku sambil berkata:
Sayang, Umi pinjam ya mau potong buah-buahan lagi. Boleh kan?pintanya lembut.
Aku menyodorkan benda itu ke tangan Umi. Dengan cepat Umi mengambil benda itu dan berlalu hingga aku tak lagi melihat benda itu. Baru ketika aku membantu Umi memasak kemarin, aku mengetahui apa nama dan fungsi benda itu. Pisau. Kata Umi bisa untuk memotong sayur-sayuran, buah-buahan, daging, dan sebagainya. Aku sempat memegang benda itu kembali ketika Umi sibuk memasukkan bahan-bahan yang sudah dipotong itu ke dalam wajan untuk dimasak. Tapi seketika itu juga umi tersadar dengan apa yang aku pegang dan kembali Umi berkata:
Umi pinjam ya pisaunya. Umi mau potong daging ayamnya. Umi kembali meminta dengan lembut.
Aku kembali memberikan benda itu kepada Umi dan memperhatikan Umi memotong ayam dengan menggunakan benda yang bernama pisau itu. Ingatanku terus hinggap di kepala sembari aku terus mengiris-iris dedaunan yang sedari tadi kupegang.
Fa, masukin daunnya ke panci kecil ini. Udah siap nihkompornya!suara Yuli menyentakku dari lamunan dan ingatanku akan kejadian-kejadian itu terbuyarkan.
Fa aduk-aduk ya sayurnya, aku mau cari bahan-bahan lain untuk masak-masakan. Tuh di sana ada belimbing!sahutnya tetap dengan nada riang.
Okejawabku sambil meletakkan pisau lipat kecil yang menjadi teman baruku memotong dedaunan dan mulai mengambil sepotong kayu yang kufungsikan sebagai sendok untuk mengaduk-aduk sayur dedaunan ini.
Aku meihat Yuli berlarian kecil menuju pohon belimbing yang ada di seberang pekarangan rumah kami. Ia memetiknya dengan semangat. Namun selain memetik belimbing, aku juga melihatnya mencabuti beberapa ilalang yang ada di dekat pohon tersebut. Sekejap tangannya penuh dengan genggaman ilalang dan belimbing. Ia kembali berlari kecil menuju ke arahku.
Fa, lihat! Aku ketemu kangkung!serunya girang bukan kepalang.
Hah? Kangkung?tanyaku heran.
Ia menyodorkan ilalang yang disebutnya kangkung itu ke arahku.
Iya, nih. Aku liat tadi di dekat parit itu. Jadi ya aku ambil ajajawabnya singkat.
Tapi..ia terlihat sedikit bingung.
Kenapa Yul?tanyaku heran.
Bentar ya aku mau ke rumah dulu. Kalau kita pakai pisau kecil ini gakmungkin bisa potong kangkungjawabnya sambil kembali berlari kecil menuju rumahnya. Sekejab ia hilang dari pandanganku. Namun seketika pula dia muncul lagi dengan mambawa sesuatu.
Nah, kalau dengan ini baru asik untuk potong kangkungucapnya singkat.
Aku memperhatikan benda yang baru saja dibawanya. Ya ampun! Aku kaget. Benda yang serupa seperti yang pernah Umi pegang waktu memasak kemarin. Pisau. Tapi ini pisau sungguhan dan jauh berbeda dari pisau lipat yang tadi aku pegang untuk memotong dedaunan.
I.ini kanIni kan pisau beneran, Yul!kataku seakan masih tak percaya.
Iya memang. Tadi aku ambil di dapur waktu Mamak gakadajawabnya tanpa rasa bersalah.
Memangnya kamu tau cara pakeknya?tanyaku penasaran. 
Aku semakin merasa was was saja dengan benda yang dibawa Yuli ini. Bentuknya hampir mirip dengan pisau yang ada di rumahku. Aku pernah memegang benda itu beberapa kali tapi Umi selalu memintanya kembali karena Umi hendak menggunakannya untuk memotong sesuatu.
Aku sering liat Mamak potong sayur pakekini koksahutnya singkat sambil mulai memotong sayur kangkung yang telah dipegangnya kembali.
Yuli mulai mengangkat pisaunya sedikit meninggi. Kemudian dipukul-pukulnya kangkung tersebut dengan pisau yang terhunus. Aku bergerak sedikit menjauh. Aku pernah melihat Umi memotong ayam dengan cara seperti ini. Mungkin karena ayamnya keras sehingga Umi harus memotongnya dengan cara sedikit memukul. Persis seperti yang dilakukan Yuli!
Yuli terus memukulkan pisaunya ke arah kangkung. Kangkung terlihat berserakan bahkan sebagian daun-daunnya berterbangan ke udara. Yuli sangat menikmati setiap pukulannya. Bahkan ia terus mempercepat pukulan sambil berteriak kegirangan. Daun-daun kangkung terus saja berserakan dan semakin berserakan.
Aku tak tahan melihat apa yang dilakukan Yuli. Aku memintanya untuk segera berhenti. Namun ia tak mengabaikan permintaanku. Ia terus saja asik memukul-mukulkan pisaunya. Aku melihat pisau itu semakin mendekat ke arah tangan Yuli yang satunya, yang sedari tadi memegangi kangkung.
Yuli, stop!teriakku panik.
Yuli seakan tak mendengar teriakkanku. Ia terus menjerit kegirangan dengan apa yang sedang ia lakukan. Malah ia tak melihat ke arah kangkung, melainkan menoleh ke arahku! Seakan ia ingin menunjukkan betapa asiknya memukulkan pisau ke kangkung ini. Aku semakin panik. Yuli semakin menyeringai kegirangan melihat kepanikanku. Mungkin ia berpikir kalau aku sangat takjub dengan apa yang dilakukannya. Secara tiba-tiba
Jessss!!!. Pisau itu tak mampu lagi dihentikan ketika mengenai tangan Yuli. Aku berteriak! Namun teriakanku dikalahkan oleh pekikkan Yuli yang kudengar mengerikan!
Auuuuuuu.!!!Yuli tak kuasa menahan rasa sakit yang datang tiba-tiba. Kulihat darah merembes dari tangan Yuli. Merah segar. Aku tak percaya apa yang kulihat. Yuli semakin terpekik dan menjerit kesakitan. Ia menangis sambil menjerit.
Mamaaaaakkk..!jeritnya kuat.
Aku semakin gemetar. Darah semakin banyak bersimpah di dedauan. Hijaunya daun kangkung kini tertutupi dengan tetesan darah Yuli. Aku pun ikut menjerit dan menangis sambil sedikit menjauh dari Yuli. 
Sesosok wanita dewasa keluar dari arah rumah Yuli dengan panik dan keheranan. Ia berlari kecil ke arah kami.
Pakon?tanya sosok wanita dewasa ini penuh rasa penasaran yang kukenal sebagai Ibu Yuli.
Tak percaya dengan apa yang dilihatnya, wajahnya berubah merah padam. Ia menarik tangan Yuli dan menyambar pisau yang sedari tadi masih dipegang Yuli.
Udah Mamak bilang jangan main pisau! Bateu that! Udah kekgini Mamak juga yang susah!ucapnya dengan nada meninggi tanda kekesalan dan amarah, namun tetap saja wajahnya terselimuti kekhawatiran dan kepanikan yang luar biasa.
Seketika aku melihat Umi berlarian ke arahku dengan wajah yang tak kalah keheranan. Penasaran dengan apa yang terjadi dengan kami. Umi merangkulku seraya bertanya dengan wanita yang telah lebih dulu hadir di hadapan kami.
Kenapa buk? Ada apa?tanya Umiku.
Lihat ini ulah Yuli. Tangannya sampai terpotong pisau. Udah berkali-kali saya bilang jangan main pisau tapi tetap aja nakal!ucapnya kesal namun masih tetap bercampur panik.
Yuli tak henti-hentinya menagis. Menahan rasa sakit yang luar biasa. Darah terus menetes dari ujung jarinya.
Aduh buk bawa aja langsung ke rumah sakit. Takut nanti bisa infeksisahut Umiku dengan nada khawatir.
Iya buk, saya pergi dulu ya!sahut Ibu Yuli sambil menggandeng Yuli yang terus menangis kesakitan. Mereka sedikit berlarian menuju rumah. Rasa panik dan khawatir tak mampu lagi dibendung Ibu Yuli akan apa yang baru saja menimpa anaknya.
Umi menggenggam tanganku erat. Aku melihat wajahnya masih diselimuti kekhawatiran. Ia menoleh ke arahku dan bertanya:
Rifa ada pegang pisau juga?tanyanya penasaran.
EnggakUmi. Tadi Rifa udah bilang sama Yuli untuk berhenti potong kangkung pakekpisau. Tapi Yulinya gakmau dengerjelasku panjang lebar, takut Umi juga memarahiku.
Umi sedikit membungkukkan badannya ke arahku sambil tersenyum. Tangannya membelai lembut kepalaku. Dengan nada berbisik Umi mengucapkan sesuatu
Itu makanya Umi sering hindarin Rifa dari pisauucapnya.
Karena ada bahayanya jugasambung Umi sembari tetap membelai kepalaku.
Kalau nanti Rifa udah gede, baru Umi ajarin cara pakekpisau ya, sayangucapnya semakin memudarkan rasa gelisahku atas kejadian yang baru saja aku alami.
Aku kembali melirik ke tumpukan dedaunan yang berserakan. Cipratan darah masih ada di antara dedaunan tersebut. Seketika aku merinding. Namun ketika aku melirik kembali ke arah wajah Umi yang masih tersenyum, hatiku luluh. Ternyata selama ini Umi selalu melindungiku dari pisau. Agar terhindar dari bahaya seperti yang dialami Yuli tadi.
Kita masuk yuk?ajak Umi membuyarkan lamunanku.
Aku kembali menoleh ke arah dedaunan. Aku melihat sesuatu. Bentuknya aneh dan memancing rasa penasaranku. Aku kembali memperhatikannya. Benda itu terlihat sangat kecil, terbungkus diantara dedaunan dan bercak darah Yuli. Semakin aku perhatikan benda itu terlihat semakin asing. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk bertanya kepada Umi agar rasa penasaranku bisa terjawab.
Itu apa, Mi? Kayakada sesuatu di daun-daun tempat masak-masakan kami taditanyaku sambil menunjuk ke arah benda yang sedari tadi aku perhatikan.
Umi ikut melihatnya dengan seksama. Ia seperti berusaha mengenali benda yang kutanya tadi. Lumayan lama aku menunggu jawaban Umi. Hingga tiba-tiba
Astaqfirullahalazim!!! Itu kan potongan jari Yuli?!!!sahut Umi kanget bukan kepalang.

---selesai---

Keterangan:
Pakon              = Kenapa
Bateu that        = nakal sekali
Kayak              = seperti
Pakek              = pakai / menggunakan

Click to comment