Hutanku Dirampas Rajanya Maling Hutan

advertise here
Rate this posting:
{[["☆","★"]]}
>

Oleh Linda Ramadhani
Siswa Sekolah Lingkungan Aceh



Bicara mengenai hutan, Indonesia memang negara dengan luas hutan ke-3 di dunia. Maka, dengan kekayaan hutan yang begitu luas, harusnya menjadi sumber kesejahteraan bagi rakyat. Namun, kini kondisinya terus berkurang dan pengelolaan kini diambil alih oleh industri berskala besar. Berkurangnya jumlah luas hutan kita, salah satu penyebabnya adalah karena pemberian izin oleh pemerintah. Izin yang diberikan pemerintah tak sebanding dengan lahan yang dipakai oleh perusahaan. Perusahaan mengambil lahan yang lebih luas dari yang seharusnya yang diberikan oleh pemerintah. Sehingga, hutan yang seharusnya menjadi warisan sejarah, kini telah hilang dimakan zaman.

Pemerintah harusnya lebih jeli dan bijak dalam mengeluarkan izin. Tentu saja, harus melihat konsekuensi apa yang harus diterima oleh masyarakat sekitar, apabila hutan mereka diberi izin untuk perusahaan. Dengan adanya pemberian izin tersebut, maka akan banyak melahirkan potensi konflik yang akan terjadi, baik antara perusahaan dengan rakyat, pemerintah dengan rakyat, bahkan akan ada konflik dengan satwa penghuni hutan tersebut. Kita bisa melihat peristiwa yang meresahkan masyarakat. Banyak gajah yang turun ke kebun masyarakat, bukan hanya merusak kebun dan rumah, tempat tinggal masyarakat, tetapi mengancam nyawa manusia. Konflik satwa tersebut bukan hanya antara gajah dan manusia, tetapi juga harimau, monyet, babi dan sebagainya. Celakanya, selama ini, semua satwa ini yang disalahkan, karena mereka merusak perkebunan sekitar, dan bahkan menghancurkan rumah dan menginjak-injak manusia. Padahal, manusialah yang telah mengganggu dan bahkan mengambil tempat atau habitat mereka. Nah, ketika habitat mereka sudah diganggu dan bahkan diambil alih oleh manusia penjahat lingkungan hutan tersebut, maka satwa-satwa tersebut turun ke kebun masyarakat.

Konflik manusia dengan gajah atau hewan lain, selama ini semakin sulit diselesaikan. Sementara konflik antara pengusaha penguasa dan perusak hutan juga semakin menjauhkan masyarakat dari kemakmuran. Kemakmuran yang adil dan merata untuk seluruh masyarakat bangsa ini ternyata hanya sebatas angan-angan dan cuma jadi impian. Negara yang kaya raya akan sumber daya alam ini hanya mengenyangkan perut segelintir manusia rakus dan memiskinkan jutaan rakyat yang lainnya. Sejak puluhan tahun lampau hutan-hutan Indonesia tempat habibat dari berbagai jenis satwa dirusak keberadaannya demi dorongan ambisi yang tidak manusiawi. Pohon-pohon besar yang memayungi sebuah keseimbangan ekosistem dijarah tanpa henti. Pengambilan keuntungan dari alam dengan cara memotong pohon dan merusak alam tanpa ada kesadaran untuk menanam kembali hutan yang telah dirampas, pada akhirnya akan menghadirkan bencana serta mendatangkan penderitaan dan kerugian bagi rakyat dan negara.

Padahal, pada prinsipnya bahwa penebangan hutan secara ilegal adalah sebuah tindak kejahatan. Sudah menjadi rahasia umum bahwa praktek-praktek itu merupakan jaringan mafia yang sulit diberantas karena di dalamnya bermain aktor-aktor ulung berkedok penegak hukum dan pejabat. Penebangan hutan ilegal menjadi sebuah bisnis besar dan menguntungkan. Wajar saja, kalau penebangan hutan secara tidak sah ini menjadi marak terjadi di negeri yang dipenuhi tikus kantoran.

Kondisi ini semakin parah karena pemerintah kita belum bisa berbuat banyak. Di satu sisi, parlemen terus bersidang merumuskan peraturan atau regulasi. Sayangnya, mereka lupa satu hal bukanlah kata-kata atau rumusan perundangan yang terpenting, melainkan tindakan nyata yang harus cepat dilakukan, mengingat kondisi hutan yang sudah sangat kritis. Dikatakan demikian, karena areal hutan kita semakin berkurang dari hari ke hari. Meski sudah terlambat jangan biarkan aksi si rajanya maling hutan semakin merajalela. Karena apabila masalah ini tak pernah terselesaikan, yakinlah bahwa akan datang bencana yang tak terhindarkan lagi, seperti longsor, banjir dan perubahan iklim yang sangat ekstrim.

Apalagi, seperti yang kita amati selama ini bahwa masalah hutan di Indonesia memang masalah yang belum pernah terselesaikan. Penggundulan hutan dari tahun ke tahun semakin meningkat, pembukaan lahan yang secara besar-besaran, bahkan pembakaran hutan yang tak tanggung-tanggung. Setidaknya dalam setiap tahunnya luas hutan yang berkurang yaitu seluas 684.000 hektar. Memang kawasan hutan yang berkurang tak serta merta karena ulah tangan manusia, tetapi disebabkan juga faktor alami dari alam itu sendiri, seperti kemarau panjang, gempa bumi dan gunung berapi.

Namun, penyebab terbesar dari berkurangnya hutan adalah karena ulah tangan manusia yang terlalu rakus dalam mengambil sumber daya alam. Kerakusan manusia yang menyebabkan berkurangnya luas hutan seperti pengalihfungsian hutan menjadi lahan kelapa sawit, pengalihan fungsi hutan menjadi proyek, pembakaran hutan dan penebangan liar yang dilakukan secara besar-besaran.

Sehingga, hutan yang seharusnya menjadi tempat berlindung dan mencari makan bagi berbagai makhluk hidup sebagai penyeimbang ekosistem, kini telah berubah menjadi sumber bencana bagi makhluk hidup itu sendiri. Dahulu ketika kita mendengar kata hutan, maka yang terlintas di pikiran kita bahwa di dalam hutan itu terdapat deretan pohon-pohon yang rimbun, banyak satwa liar, bunga yang berwarna-warni, sungai yang jernih, bahkan tempat yang menakutkan.

Namun, kini hutan yang kita espektasikan penuh dengan pohon-pohon rimbun itu, telah berubah menjadi deretan kelapa sawit yang kita lihat sejauh mata memandang. Satwa liar itu kini berubah menjadi transformer besi yang ditunggangi manusia untuk menghancurkan kehidupan dalam hutan itu sendiri. Bunga yang berwarna-warni itu, kini telah berubah menjadi hamparan tanah kosong. Sungai yang jernih tempat ikan bermain, kini keruh, bahkan tak berpenghuni lagi. Hutan tak lagi menakutkan, yang menakutkan sekarang adalah nafsu para penguasa.

Nafsu mereka bahkan lebih besar dari pohon Ulin, lebih liar dari harimau Sumatera, lebih berbahaya dari duri Kaktus dan lebih dalam dari sungai Amazon. Tak ingatkah mereka bahwa Allah telah memperingatkan kita manusia dalam Al-Quran surat Ar-Rum ayat 41 yang artinya “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi. Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. Allah telah menyuruh agar manusia mempelajari sejarah umat-umat terdahulu. Banyak bencana yang menimpa mereka disebabkan atas kelalaian mereka yang tidak pernah menghiraukan seruan Allah. Allah menciptakan manusia sebagai makhluk yang berakal, agar menjadi khalifah di muka bumi, bukan untuk merusak segala ciptaan-Nya.
            

1 komentar:

avatar

Tulisannya bagus, semoga bisa membuat para pembacanya menyadari pentingnya hutan, bukan hanya menyadari tapi juga benar2 menjaga dan melestarikan lingkungan khusunya hutan 👍

Click to comment