MEMBANGUN SEMANGAT ENTREPRENEURSHIP BAGI KAUM MILENIAL DI ERA DIGITAL

advertise here
Rate this posting:
{[["☆","★"]]}
>

Oleh Fadly Irawan
Mahasiswa Jurusan Perbankan Syariah, FEBI, UIN Ar-Raniry, Banda Aceh

Enterpreneurship. Ketik kita mendengar atau membaca kata itu, pasti yang terbayang di pikiran kita  adalah orang-orang yang berdagang atau bejualan seperti orang- orang yang menjual dagangannya di pinggir jalan atau di toko-toko. Juga sekarang sejalan dengan perkembangan zaman  apa yang dilakukan orang denga bejualan online atau ke stan- stan pameran.  Hal itu tentu tidak salah, karena selama ini pemahaman kita memang demikian. Namun, mengikuti perubahan zaman,  makan entrepreneurship jiha dengan cepat bergeser. Ternyata enterpreneurship adalah terbentuknya inovasi yang diimplementasikan (Schumpeter:2011). Ya, entrepreneur adalah seorang innovator, industrial leader atau orang yang mampu mengoordinasiakan sumber daya ekonomi (Green:2005).
Dengan demikian,  di zaman ini pemikiran kita menjadi salah dan membuat kita memandang entrepreneuship secara sempit. Sehinga di jaman yang sudah serba digital ini banyak kaum milenial yang gagal memanfaatkan jaman, walau ada juga yang dengan cerdas memanfaatkan jaman serba digital ini dengan menjadi seorang entrepreneur.  Kita mengenal sejumlah nama yang telah mengukir sukses sebagai entrepreneur. Mungkin di anatara kita banyak yang mengenal yang namanya Achmad Zaky atau juga Adamas Belva Syah Devara. Mungkin juga yang lainnya, yang tidak bisa kita sebutkan satu per satu. Ya mereka adalah pengusaha muda yang mendapatkan ratusan juta rupiah, bahkan sampai miliran rupiah setiap bulannya. Kita pasti bingung dan kaget serta bertanya, bagaimana mereka bisa  mendapaakan uang sebanyak itu? Ternyata mereka mampu memanfaatkan jaman serba digital ini dengan menjadi seorang entrepreneur. Lohatlah Adamas Belva Syah Devara yang behasil meraup untung dengan mendirikan bimbel online. 
Pasti sebelumnya kita  ti dakterbayangkan bagaimana  ada orang belajar, tanpa harus bertemu langsung dengan guru atau mentor. Tetapi Adamas berhasil memanfaatkan era yang seba digital ini dengan membangun sebuah bimbel  online. Membangun bimbingan belajar dengan harga yang jauh lebih murah dibandingkan dengan bimbel bimbel di luar sana.  Tidak jauh berbeda dengan Adamas Belva Syah Devara, Achmad Zaky yang berhasil menjadi seorang entrepreneur.  Buah kreativitas dan inovasinya telah menjadikan banyak orang diuntungkan. Bila kita banyak membaca, maka kita tidak merasa asing dengan dengan nama Achmad Zaki yang mendirikan situs jual beli online, bernama Buka Lapak.
Nah, apa yang dilakukan oleh Achmad Zaki?  Ternyata,  Achmad Zaky hanya membuat situs jual beli online. Dia tidak  menjual  barang, tetapi hanya menampung orang- orang yang ingin menjual dagangannya. Dengan itu pula buah kreativitasnya dikenal dan digunakan orang, karena   banyak orang yang akan mengunjungi situsnya dan dia  mendapatkan keuntungan dari orang - orang yang mengunjungi situsnya. Terbukti, setelah situsnya terkenal banyak orang yang  meminta bekerja sama dengannya, baik itu dari orang orang yang ingin memasang iklan di situsnya dan orang orang yang akan menggunakan situsnya. Hebat bukan? Ya, bagaimana tidak hebat?  Mereka yang hanya memikirnya hal sepele itu mendapatkan uang ratusan jutan bahkan milliaran rupiah.  
Kiranya, kita sebagai generasi milenial yang hidup di era serba digital ini, jangan hanya menjadi konsumen yang menjadi objek. Seharusnya kita termotivasi dan mau berbuat seperti mereka. Kita harus lebih banyak belajar, banyak membaca dan terus membangun semnagat untuk berkreasi. Kita harus berubah, mengubah paradigma berfikir. Jangan hanya terlena dengan kemalasan belajar dan mimpi ingin bekerja di perusahaan atau sebagai peganwai negeri. Sudah saatnya kita membangun semangat  kita untuk menjadi seorang enterpreneur dengan memanfaatkan kemajuan jaman yang serba digital ini untuk mengembangkan ide- ide gila kita  yang bisa menjadikan kita  seorang entrepreneur  yang sukses dan terkenal. Jangan sampai  di era yang serba digital ini malah membuat kita menjadi orang yang menghilangkan jiwa- jiwa entrepreneurship kita.  Apalagi kita seorang mahasiswa telah diberikan banyak fasilitas oleh kampus untuk mengembangkan kemampuan kita dalam berentrepreneurship dengan diadakan seminar entrepreneurship atau dengan pelatihan dan magang serta yang lainnya. Segeralah kita bergerak, agar kita tidak menjadi penonton kelak.

Click to comment