Mencegah Pergaulan Bebas, Tak Harus Nikah Dini

advertise here
Rate this posting:
{[["☆","★"]]}
>
ilustrasi dok.majalah anak cerdas

Oleh Nadiatul Hikmah S.Pd.i
Penulis adalah seorang guru, berdomisili di Aceh Besar
            Berbicara mengenai remaja dengan globalisasi dewasa ini memunculkan berbagai isu untuk terus diikuti perkembangannya, juga sebagai bahan pembicaraan yang tidak kalah menarik. Kita sebagai remaja dituntut untuk menjadi seorang remaja yang tidak “Gaptek” (ketinggalan zaman), dengan adanya peran media di zaman sekarang ini, yaitu seperti televisi, radio, majalah, HP, internet dan lain-lain. (kompasiana.com).
            Seperti yang kita ketahui, bahwa media sekarang, terutama internet mempunyai peranan yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan moral. Karena situs-situs yang dipaparkan banyak mengandung unsur-unsur pornografi dan kekerasan, sehingga mereka berani melakukan hal-hal yang dilarang agama, bahkan kelakuannya jauh di luar koridor agama Islam, karena mereka terpengaruh dengan apa yang mereka tonton, dan tontonan tersebut dijadikan tuntunan dalam hidup mereka.
            Sering kita mendengar kata-kata “zaman sekarang tuntunan menjadi tontonan, dan tontonan menjadi tuntunan”, apa maksudnya? Maksudnya adalah tuntunan dalam Islam yaitu Al-qur’an dan Hadis yang seharusnya dijadikan pedoman dalam hidup. Akan tetapi mereka hanya menonton saja, ketika ada orang yang berpegang teguh dengan Al-Qur’an dan melakukan kebaikan-kebaikan seperti yang dituntun Al-Qur’an, mereka hanya memuji saja dan mengakui kebenarannya, sementara mereka sendiri tidak mau melakukannya.
            Sebaliknya, tontonan-tontonan yang dipaparkan oleh media-media sosial ini malah dijadikan tuntunan dalam hidup mareka. Sehingga moral mereka rusak dan perilaku mereka melanggar norma-norma yang ada di kalangan masyarakat, karena menurut mereka, masa remaja adalah masa untuk mencoba-coba semua hal yang didapat, khususnya hal-hal baru. Dampak dari mencoba adalah pergaulan bebas dan mereka terjebak di dalamnya.
            Tidak sedikit orang tua yang mengkhawatirkan anak-anak mereka terlibat dalam pergaulan bebas, sehingga mereka mengambil solusi untuk menikahkan anak-anak mereka di usia dini. Sementara Zumrotin K. Susilo dari Yayasan Kesehatan Perempuan (YKP) menyebutkan penelitian yang dilakukan di sejumlah daerah menunjukkan pernikahan usia muda rentan bagi kesehatan reproduksi perempuan, dan juga menimbulkan masalah lain, seperti kemiskinan. Anak-anak yang menikah di usia dini cendrung berhenti melanjutkan sekolah yang merupakan hak anak. Mereka juga dinilai sebagai anak yang belum siap mental untuk membina rumah tangga.
            Banyak pihak lain yang menentang pernikahan dini disebabkan khawatir akan terjadi hal-hal yang telah tersebut di atas, sementara dalam Islam menikah dini malah disunnahkan asalkan sudah mampu dan telah memenuhi syarat untuk menjalankannya. Sesuai Hadis Nabi Saw yang artinya “Wahai para pemuda, barang siapa yang sudah mampu , hendaklah kawin, sebab kawin itu akan lebih menjaga kemaluan, kalau belum mampu hendaknya berpuasa, sebab puasa akan menjadi perisai bagimu”(HR. Bukhari Muslim).
            Hadis di atas menyeru kepada siapapun yang sudah siap menikah untuk segera menikah, tidakdikhususkanuntuk orang dewasa, bukan pula untuk orang tua, tetapi untuk yang sudah mampu dan sudah menjalankan pernikahan dan membina rumah tangga.
Sementara fenomena yang kita lihat sekarang banyak orang yang menikahkan anaknya di usia dini hanya untuk menghindari pergaulan bebas. Memang benar Islam mensyari’atkan agar menikahkan dengan segera orang yang sudah ingin menikah daripada terlibat dalam pergaulan bebas. Akan tetapi, anak usia dini zaman sekarang beda dengan anak usia dini di zaman dahulu. Anak-anak di zaman dahulu benar-benar dididik oleh orang tuanya sesuai dengan syari’at Islam serta benar-benar dijaga dan dikontrol aktivitas sehari-hari mereka agar tidak keluar dari koridor agama Islam.
Sedangkan anak-anak di zaman sekarang pendidikan agamanya tidak terlalu diperhatikan dan tidak dikontrol aktivitas sehari-hari mereka. Karena orang tua sekarang banyak yang sibuk bekerja saja, pergi pagi saat anak masih tidur dan pulang malam sa’at anak sudah tidur kembali. Mereka tidak terkontrol, mereka mudah saja menggunakan media sosial sekarang ini untuk hal-hal yang negatif, sehingga moral mereka rusak dan terlibat dalam pergaulan bebas.
            Jadi, jika tujuannya untuk menghindari pergaulan bebas, tak harus dengan nikah dini, akan tetapi, banyak cara lain yang dapat dilakukan untuk menyelamatkan anak dari pergaulan bebas, seperti menyekolahkan anak di sekolah-sekolah islami atau di Pesantren Islam Terpadu. Juga sepatutnya orang tua melarang anak-anak menggunakan media sosial untuk hal-hal yang tidak berkepentingan. Selain itu, seharusnya orang tua mendidik anak dari kecil, mengajarkan anak untuk jujur pada diri sendiri dan sering-sering berkomunikasi dengan anak, sehingga terbina hubungan yang baik untuk memberikan batas diri terhadap kegiatan yang berdampak negatif. Dengan demikian, insya Allah kita dapat menyelamatkan anak-anak kita dari pergaulan bebas.


Click to comment