Meneladani Jiwa Entrepreneur Ummahatul Mukminin

advertise here
Rate this posting:
{[["☆","★"]]}
>

Oleh; Ahmad Arif*
Islam tidak pernah menilai perempuan sebagai masyarakat kelas dua dengan hak dan tanggung jawab yang lebih rendah dari pada kaum lelaki. Islam mewajibkan menuntut ilmu bagi perempuan dan lelaki. Rasulullah Muhammad SAW mewasiatkan agar para orang tua mengutamakan pendidikan anak perempuannya dengan sabdanya, Barang siapa mempuanyai anak perempuan, kemudian mendidiknya, berbuat baik kepadanya dan menikahkannya, maka baginya surga(HR. Ibnu Hibban).
Panggung sejarah keagungan islam jelas banyak sekali merekam jejak keikutsertaan dan peran aktif kaum perempuan di berbagai bidang. Dalam hal jihad dan pengorbanan kepada islam, tercatat syuhada pertama adalah perempuan bernama Sumayyah binti Khubath yang menyumbangkan nyawanya demi mempertahankan keimanan dan keislamannya hingga titik darah penghabisan.
Di bidang ilmu pengetahuan, para shahabiyat (sebutan untuk perempuan-perempuan yang hidup pada zaman Rasulullah) pernah meminta agar diadakan pertemuan khusus untuk mereka dalam mempelajari ilmu, sebagaimana yang dilakukan Rasulullah kepada para shahabat laki-laki. Rasulullah pun kemudian memenuhi tuntutanmereka dengan memberikan waktu khusus.
Lelaki dan perempuan diciptakan memiliki ciri khas kemanusiaan yang tidak berbeda antara satu dengan yang lain. Keduanya dikaruniai potensi hidup yang sama berupa kebutuhan jasmani, naluri dan akal. Islam juga telah membebankan hukum yang sama, apabila dalil itu ditujukan untuk manusia secara umum.
Namun, jika sebuah dalil dikhususkan untuk jenis manusia tertentu, bisa lelaki bisa pula perempuan, maka akan terjadi perbedaan hukum antara mereka. Misalnya, kewajiban mencari nafkah (bekerja) hanya dibebankan kepada lelaki terkait dengan fungsinya sebagai kepala rumah tangga. Karenanya, perempuan tidak dibebani tugas (kewajiban) mencari nafkah, baik untuk dirinya sendiri maupun keluarganya. 
Hal tersebut bukan berarti perempuan tidak boleh bekerja. Perempuan diberi kebebasan untuk memiliki harta sendiri. Bahkan, perempuan  pun boleh berusaha mengembangkan hartanya agar semakin bertambah. “…Bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan dan bagi perempuan pun ada bagian dari apa yang mereka usahakan, demikian ditegaskan dalam Al quran (QS An Nisa: 32).
Alasan Berbisnis
Hepi A. Bastoni (2012; 3-4) mengatakan, tahun 2006, sebanyak 60% dari total 44,6 juta pelaku UMKM (usaha mikro kecil dan menengah) adalah perempuan. Sumbangannya terhadap PDB, penyerapan tenaga kerja dan sebagian besar ekspor tertentu bisa dihitung dan ada datanya. Jika jumlah wiraswasta di Indonesia saat ini baru mencapai 0.18% dari total penduduk, sedang untuk meraih kemakmuranminimal harus ada 4% pelaku wirausaha, maka perempuan memiliki peluang untuk berbuat.
Perempuan bisa menjadi pencipta lapangan kerja. Mampu mengurangi angka pengangguran, mengentaskan kemiskinan, dan menjadi pahlawan! Perempuan juga bisa mengucapkan selamat tinggal kepada anemia yang biasanya menyerang mereka. Perempuan pasti kuasa menekan AKI (angka kematian ibu) dan AKB (angka kematian bayi). Perempuan punya kuasa untuk mencegah KDRT (kekerasan dalam rumah tangga) dan tak perlu jauh-jauh pergi menjadi TKW (tenaga kerja wanita) jika harus berhadapan dengan penistaan. Perempuan bisa tetap tinggal di negeri zamrud khatulistiwa tercinta, menjadi manusia mulia.
Saat ini, di antara ranah yang paling potensial dimasuki perempuan adalah wilayah entrepreneurship atau bisnis. Setidaknya ada tiga alasan yang bisa dikemukakan. Pertama, dengan berbisnis perempuan bebas menentukan waktunya. Lebih fleksibel dalam menentukan jam kerja. Tidak seperti bekerja kantoran yang mengharuskan jam kerja dari pagi hingga sore hari. Pemilihan tempat kerja pun bisa yang dekat dengan rumah. Bahkan, jika memungkinkan, salah satu ruangan dalam rumah bisa disulap menjadi tempat berkantor yang sedang ngeterensejak beberapa tahun terakhir.
Kedua, dengan berbisnis perempuan bisa menaikkan harga dirinya. Dengan demikian, perempuan tidak menjadi objek yang selalu berada di bawah kendali laki-laki. Namun demikian, jangan pula karena kondisi ini perempuan lantas merasa lebih tinggi. 
Ketiga, dengan berbisnis, perempuan bisa mengembangkan potensi dirinya. Tidak sedikit perempuan yang dulu semasa kuliah aktif di berbagai oraganisasi. Tapi, ketika menikah, seluruh potensinya hilang. Dengan alasan kesetiaan kepada suami dan anak, perempuan-perempuan hebat itu menghabiskan waktu yang sebetulnya bisa dilakukan oleh ART (asisten rumah tangga). Padahal, banyak yang bisa dikerjakan; aktif di kegiatan social, keagamaan dan wirausaha. Dengan demikian, potensi yang mereka miliki tidak hilang, tapi malah menjadi asset bagi banyak orang.
Meneladani Umahatul Mukminin
Beberapa tahun terakhir ini, media massa, baik cetak maupun elektronik, sering mengangkat profil perempuan-perempuan sukses dalam berbisnis. Namun tidak ada salahnya pula kita mengambil pelajaran dari perempuan-perempuan tangguh nan sukses di dunia bisnis pada zaman Rasulullah. Bahkan, di antara mereka itu adalah para umahatul mukminin (istri-istri Rasulullah) yang begitu piawai dalam mensukseskan roda bisnis mereka. 
Tentu kita tidak ingin menjadi seperti kebanyakan orang yang punya hasrat begitu menggebu-gebu untuk mencapai tujuan, tapi tidak mempersiapkan proses untuk mencapai tujuan itu. Dengan kata lain, mereka itu silau dengan gemerlap sukses seseorang. Tapi lupa akan bagaimana proses yang ditempuh oleh orang yang sukses itu hingga meraih kesuksesan. Oleh karena itu, yuk bercermin pada proses kesuksesan. Bukan malah terpaku di hadapan sukses (hasil) itu sendiri. 
Khadijah Kubra
Istri pertama Rasulullah, Khadijah binti Khuwailid, dinobatkan oleh teoritisi dan praktisi entrepreneurship saat ini sebagai pengusaha ekspor impor yang sukses (Zain; 2010). Sebelum menikah dengan Rasullah, Khadijah dikenal sebagai entrepreneur yang sukses dengan kekayaan berlimpah. Kepiawaiannya dalam berbisnis membuatnya mampu memutar bisnisnya dan menghasilkan keuntungan yang mengagumkan. Pada masanya itu, ia dikenal sebagai pedagang terkaya di kota Mekkah dan mendapat gelar The Princess of Makka atau Putri Makkah (Djunaidi; 2008).
Khadijah juga dikenal sebagai manager handal. Karena kejeliannya menangkap berbagai peluang bisnis, pada waktu itu memunculkan kelakar, Setiap debu yang disentuh Khadijah akan berubah menjadi emas. Posisinya semakin menjadi sangat terhormat karena ia satu dari sedikit perempuan Mekkah yang meggeluti bisnis dan memperoleh kesuksesan. 
Kebiasaan para pedagang pada masanya, ikut serta dalam kafilah dagangnya menuju negeri Syiria atau Yaman pada musim-musim tertentu. Hal ini mereka lakukan untuk mengawasi seluruh transaksi yang berjalan. Namun jika tidak dapat pergi, para pedagang (saudagar) itu menunjuk agen yang terpercaya dan dikenal luas baik reputasinya. Agen ini ini mendapat imbalan tertentu sesuai kesepakatan.
Khadijah tidak melakukan apa yang dilakukan oleh saudagar-saudagar itu. Dia lebih suka mengangkat agen untuk mengawasi perniagaannya. Nah, salah satu agen kepercayaan Khadijah adalah Muhammad muda. Dalam riwayat Allamah Dzahabi dikisahkan Khadijah pernah memberi Muhammad upah dua ekor unta betina dewasa (Antonio; 2007). Dengan cara seperti ini keuntungan yang diperolehnya berlipat ganda.
Setelah menikah dengan Muhammad, aktivitas bisnis Khadijah tetap berlanjut. Sang suami pun tetap menjadi mitra bisnisnya hingga turun wahyu dan Muhammad diangkat menjadi Nabi dan Rasulullah yang terakhir (Afzalurrahman; 2000). Dalam menjalankan bisnisnya, Muhammad telah lebih dahulu menerapkan prinsip-prinsip bisnis seperti yang dipaparkan oleh Robert T Kiyosaki dalam bukunya The Cach Flow Quadrant.
Di balik kesuksesannya sebagai great entrepreneur, Khadijah adalah perempuan yang sangat pemurah dan memiliki akhlak yang agung. Dia selalu menambahkan upah melebihi perjanjian yang sebelumnya telah disepakati dengan agen-agennya. Setelah menikah dengan Muhammad dan kemudian Muhammad diangkat menjadi Rasul, Khadijah menyerahkan seluruh hartanya di jalan Allah untuk membela islam. 
Hal inilah yang mengundang kecintaan sekaligus penghargaan sang suami kepadanya, bahkan setelah dia wafat. Rasulullah dengan tegas pernah mengatakan, Allah tidak mengganti yang lebih baik daripada Khadijah karena ia beriman kepadaku ketika orang-orang masih kafir terhadapku. Ia membernarkanku ketika orang-orang mendustakanku. Ia mengorbankan hartanya untukku ketika orang-orang tidak memberikan apapun kepadaku
Zainab yang Paling Panjang Tangannya
Istri Rasulullah lainnya yang menekuni bisnis adalah Zainab binti Jahsy. Meski keturunan bangsawan dan berparas cantik, ia tidak pernah malu menyibukkan dirinya dengan aktivitas usaha mikro. 
Zainab menekuni pembuatan qirbah, sejenis tempat air yang terbuat dari kulit hewan. Dia juga merupakan sosok taat beribadah, sangat pemurah dengan gemar berinfaq dan bersedekah. Hal ini disampaikan Nabi dalam sabdanya, Sebaik-baik perempuan adalah zainab karena ia bekerja dengan tangannya dan berinfaq darinya.
Menjelang wafat, Rasulullah mengisyaratkan, di antara para istrinya yang akan segera menyusul kematiannya adalah yang paling panjang tangannya. Yang dimaksud Nabi dalam hal ini adalah yang paling banyak bersedekah. Orang tersebut tak lain adalah Zainab.
Selain Khadijah dan Zainab, disebutkan dalam buku The Secret of Khadijah(Sulaiman; 2007) bahwa Shafiyah binti Huyay, istri lain Rasulullah, putri seorang pemuka yahudi, memiliki keterampilan merias pengantin. Memang tidak dijelaskan apakah ia mengambli upah dari jasa yang diberikannya itu atau tidak. 
Penutup
Uraian dan nukilan panjang di atas diharapkan menjadi penguat bahwa perempuan yang berprofesi entrepreneur sudah dikenal sejak lima belas abad silam, saat Rasulullah masih hidup. Tidak ada larangan untuk berbisnis bagi perempuan selama dilakukan dalam koridor yang telah digariskan oleh islam. Bahkan, kegiatan ini mendapatkan apresiasi jika hasilnya digunakan untuk kemaslahatan diri, keluarga dan orang banyak.
Kisah-kisah tersebut perlu sering diangkat di kalangan perempuan islam agar dapat membangkitkan semangat berwirausaha sehingga potensi mereka bisa lebih dioptimalkan. Tentunya tanpa mengabaikan dua tugas utama mereka; sebagai ibu dari anak-anaknya dan istri dari suaminya. Dua hal itu tak mungkin dapat diwakilkan kepada orang lain. Hatta, kepada ART sekali pun. Wallahu alam.
* Penulis adalah contributor situs asyeh.com Arab Saudi yang focus pada upaya penguatan lembaga keluarga

Click to comment