Menulis Seperti Bercerita

advertise here
Rate this posting:
{[["☆","★"]]}
>


Oleh Tabrani Yunis

Berbagi atau sharing itu bukan hanya sekadar indah, tetapi lebih dari itu. Ya berbagi itu, khususnya berbagi kebaikan, seperti berbagi pengalaman, berbagi ilmu dan berbagi ketrampilan yang bermanfaat merupakan perilaku yang baik dan sangat bermanfaat. Dikatakan demikian, karena sesungguhnya, ketika kita  berbagi pengetahuan, pengalaman dan ketrampilan kepada orang lain, tidak ada yang akan berkurang daru diri kita. Tidak ada pengetahuan, ketrampilan dan pengalaman yang berkurang setekah kita membagikannya kepada orang lain. Malahan sebaliknya, semakin sering kita berbagi pengetahuan, pengalaman dan ketrampulan kepada orang lain, maka semakin banyak ilmu pengetahuan, ketrampilan dan  serta pengalaman yang kita dapatkan. Di situlah letak indah dan bermanfaatnya berbagi tersebut.

Itu pulalah yang menjadi trigger dan penyemangat bagi penulis untuk selalu berbagi kepada orang lain. Salah satu strategi berbagi yang sebenarnya sangat mengasyikan tersebut ada;lah lewat kegiatan menulis. Andai boleh berkata bahwa aksi berbagi ilmu, pengetahuan dan ketrampilan kepada orang lain tersebut, bagi penulis, berbagi atau sharing, boleh dikatakan sudah menjadi kebiasaan, baik secara lisan, maupun lewat tulisan. Baik di berbagai media social atau medsos, maupun di kegiatan-kegiatan lain, seperti workshop, seminar, diskusi dan sebagainya.

Pokoknya, aktivitas berbagi atau sharing  kepada teman-teman di era digital ini, semakin banyak dan beragam, semakin mudah dan mengasyikan. Lisah saja bagaimana aktivitas berbagi yang dilakukan oleh masyarakat generasi milenial lewat media social saat ini. Sungguh tidak sanggup kita hitung berapa banyak jumlah orang yang melakukan aktivitas berbagi lewat media social tersebut  dalam setiap detik. Sungguh tidak mampu kita menghitungnya. Jangankan untuk menghitung di semua media social, di satu media  social saja, seperti facebook, atau yang lainnya, tidak mampu kita hitung.

Jangankan menghitung jumlah postingan orang lain, jumlah postingan berbagi yang penulis lakukan setiap hari, tidak pernah terhitung. Yang jelas, selama ini penulis selain berbagi pesan  kepada teman-teman atau publik lewat media yang tersedia saat ini, seperti whatsapp, Facebook, LinkedIn, Twitter atau media sosial lainnya. Berbagi tulisan adalah aktivitas yang juga tidak atau jarang  dilupakan.  Penulis sangat  suka membagi tulisan sendiri kepada public, lewat medsos yang penulis miliki, yakni facebook, twitter, lindkedin dan whatsapp. Itu adalah pilihan terbaik, dari pada menyebar berita bohong atau kebohongan alias hoax. 

Namun, penulis selayaknya juga memohon maaf, karena jarang atau  tidak mempertimbangan apakah tulisan itu mengganggu para penerimanya. Bisa jadi, penulis juga seperti lupa bahwa apakah teman, penerima kiriman tulisan saya tersebut tertarik untuk membacanya. Juga tidak mengidentidikasi siapa yang membaca tulisan tersebut. Secara fakta, itu penulis lakukan dengan niat yang utama untuk berbagi. Lebih jauh dari itu, bisa sebagai motivasi bagi teman-teman atau para pembaca yang punya niat, potensi untuk menulis. Selain itu, boleh dikatakan bahwa dengan cara berbagi tulisan sendiri, dapat memberi banyak manfaat lain, seperti kata orang di negeri Paman Sam atau orang Inggris  “writing for reminding“, atau bahkan dalam bahasa kita bisa sebagai silaturahmi literasi.


Terkait soal berbagi lewat tulisan tersebut, penulis teringat dengan apa yang penulis temukan pada pagi Jumat, 11 Oktober 2019. Ya,  setelah beberapa saat tidak menulis di Kompasiana,  lalu pada Kamis malam, penulis  menuliskan sebuah tulisan yang berjudul “. Ketika aku Tidak Menulis “ yang posting di Kompasiana.com. Lalu, kemudian tulisan tersebut  dibagikan atau share di media sosial. Kemudian, setelah diedarkan de medsos, ada banyak teman yang memberikan apresiasi dengan memberikan tanda like atau lainnya. Ada juga yang memberikan komentar yang juga beragam. Tentu saja dengan niat baik, difahami bahwa tulisan tersebut sudah dibaca orang dan orang-orang pun memberikan respon.

Di antara sekian banyak respon tersebut, ada satu respon yang menarik bagi penulis, hingga mememberikan ide baru untuk menulis lagi. Seorang mahasiswi FKIP Unsyiah, jurusan tata busana yang sudah dua kali menulis di www.potretonline.com, memberikan tanggapan. Katanya, tulisannya seperti bercerita. Dengan kata lain, menulis seperti bercerita. Maka, judul tulisan ini pun menjadi sama, yakni “ Menulis seperti bercerita”.

Nah, membaca tanggapan tersebut, sebenarnya menimbulkan banyak tafsir. Namun, sebagai sebuah tanggapan positif dari pembaca, maka respon tersebut perlu kiranya dikonformasikan dan bahkan diulas lebih jauh. Secara sederhana, menulis seperti bercerita itu adalah bukti bahwa menulis itu sebenarnya mudah, karena sama dengan kita bercerita. Begitu mudah bukan? Ya, tentu saja mudah. Karena memang, secara normative bahwa ketika kita menulis, sesungguhnya kita bercerita. Bercerita tetang sebuah kegiatan, sebuah kejadian, atau sebuah proses terjadi atau terbentuknya sesuatu. Sehingga, banyak tulisan orang yang ditulis dengan cara mengubah cerita dalam bentuk lisan, ke dalam cerita yang tertulis atau tulisan.  Sekali lagi, bercerita lewat tulisan dengan memindahkan cerita lisan ke dalam bentuk tulisan adalah sebuah kemudahan dalam mengembangkan ketrampilan dan aktivitas menulis.

Menulis seperti bercerita, akan semakin menarik dan mudah, ketika kita menulis dengan cara mengalir. Membuat atau menulis sebuah tulisan dengan cara mengalir itu, merupakan cara menulis yang mudah dibaca dan mudah difahami pembaca. Sehingga, menulis yang mengalir, selain memudahkan seorang penulis mengeluarkan pikiran secara tertulis dan mengalir, juga mempermudah para pembaca membaca, memahami dan menganalisis isi bacaan yang dibaca. Dengan demikian, maka dengan gampang kita berkata, menulis itu adalah bercerita dalam bentuk tulisan. Agar cerita dalam bentuk tulisan (tertulis) bisa ditulis dengan mudah, maka salah satu jalnnya adalah menulis dengan bahasa yang mengalir. Jadi, menulis menjadi semakin mudah. Selamat menulis. Silakan bercerita secara tertulis.

Click to comment