Pelukis Yang Hilang

advertise here
Rate this posting:
{[["☆","★"]]}
>
dok. majalah Anak Cerdas

Oleh: M. Mufti Syahreza
Angin sepoi-sepoi mengikuti gerak tanganku yang menari-menari di atas selembar kertas buram. Jari jemariku seolah tak jemu-jemu melukis apapun yang ada di sekitarku. Sebuah pensil selalu menempel di tangan kanan. Entah berapa lukisan yang telah aku lukis, aku tak dapat menghitungnya lagi.
Sejak kecil aku telah melukis. Sejak aku masih bersekolah di TK dulu. Aku sangat senang dengan seorang guru yang mengajarkanku menggambar segala hal, sehingga melukis kemudian menjadi hobiku.
Aku anak desa. Kampungku terletak di lereng bukit. Kata orang-orang di negeriku, aku “ABG” alias Aneuk Bineh Gle (Anak Lereng Bukit). Ah, aku tak peduli perkataan orang-orang tentang ku, toh aku juga seorang manusia muda. Aku juga bisa menghasilkan karya.
Sekarang umurku  15 tahun. Aku  anak bungsu dari 7 bersaudara. Abu (ayah)ku sudah tua dan saudara-saudaraku sudah pergi ke kota serta sudah berkeluarga semuanya. Tinggal diriku sendiri di kampung mengurus orang tuaku satu-satunya dan juga kerbau-kerbau milik keluarga. Aku mencintai semuanya, termasuk umi (ibu)ku yang telah pergi 15 tahun lalu, ketika aku baru pertama kalinya menampakkan muka dan suara di dunia ini. Aku yakin, Umi telah bahagia di alam sana.
Seperti biasanya, sambil mengembalakan kerbau-kerbau, aku melukis pemandangan kampungku. Aku amat bahagia, karena kampungku masih indah dan nyaman. Tidak seperti kampung Udin, temanku, yang sudah gersang dipenuhi dengan pabrik-pabrik, ruko, perusahaan, dan juga rumah-rumah penduduk. Kasihan dia.
Setelah matahari mulai meredupkan cahayanya, aku menyimpan semua peralatan lukisku di sebuah jambo(gubuk). Aku menuntun kerbau-kerbauku ke kandang. Begitulah rutinitasku setiap hari.
Aku senang melukis, tetapi aku tidak pernah mempublikasikan satupun  karyaku. Aku hanya mengoleksinya untuk sendiri. Aku tidak begitu percaya diri untuk mempublikasikan lukisanku atau sekedar mengikuti perlombaan melukis, karena aku merasa lukisanku belum bagus. Walaupun begitu, aku bercita-cita  bisa menjadi seorang pelukis terkenal seperti pelukis-pelukis Eropa atau Amerika yang bisa mendapatkan banyak uang dari hasil melukisnya. Aku selalu membayangkan bisa mengajak abuku ke tanah suci dengan hasil kerja kerasku dalam melukis.
Meskipun aku tinggal di daerah yang amat pelosok, tapi tak sulit bagiku untuk mendapatkan berbagai informasi. Karena Udin, temanku yang tinggal di kota, selalu mengirimkan sepucuk surat untukku tentang keadaan dan perkembangan di kota setiap bulannya. Melalui surat itu, aku tahu bahwa di Banda Aceh akan diadakan pameran lukis dalam rangka memperingati  Hari Kebangkitan Nasional yang akan dihadiri oleh ahli-ahli lukis yang terkenal dan hebat. Aku sangat antusias mendengar kabar itu. Aku berencana ke Banda Aceh untuk menyaksikan pameran tersebut dan menemui ahli lukis yang terkenal dan hebat-hebat tersebut. Aku ingin menanyakan pada mereka, apakah karya-karyaku layak untuk dipublikasikan atau apakah aku berbakat dalam bidang melukis.
Niatku ke Banda Aceh tak terbendung lagi. Dengan modal menjual seekor kambing akhirnya aku bisa berangkat ke ibu kota Provinsi Aceh yang terkenal dengan sebutan Serambi Mekah itu. Aku menyisihkan sedikit uang itu untuk kuberikan pada Anief agar dia menjaga kerbau-kerbau dan abuku selama tiga hari. Aku berpamitan pada abuku, walaupun beliau sangat berat melepaskanku untuk pergi ke Banda Aceh sendirian.
Aku tiba di Banda Aceh setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, selama 12 jam. Aku menginap di rumah temanku. Besoknya aku langsung ke tempat berlangsungnya pameran lukis itu dengan tidak lupa membawa sebuah hasil lukisanku untuk kutanyakan pada ahli-ahli itu, apakah aku berbakat di bidang seni lukis atau tidak. Aku sangat kagum melihat lukisan-lukisan yang dipajang di gedung megah itu, karena memang dilukis oleh ahli-ahli lukis terkenal di Indonesia. Aku berharap, kelak aku bisa memajang hasil karyaku di sebuah gedung yang besar dan disaksikan oleh banyak pengunjung seperti ini. Kapankah aku bisa mewujudkannya? Entahlah..
Hari ini adalah hari terakhir pameran tersebut. Aku berencana setelah pameran ini, akan mulai terjun ke dunia lukis secara konsisten. Karena itu, sebelumnya aku ingin sekali menanyakan dan memperlihatkan hasil karyaku pada ahli-ahli lukis itu. Aku ingin mendengar komentar mereka. Kebetulan mereka belum kembali ke kotanya masing-masing. Sebelum kesempatan itu berakhir aku langsung menjumpai salah seorang dari ahli-ahli itu.
“Assalamualaikum, Pak?” sapaku dengan ramah.
“Waalaikumsalam. Ada keperluan apa, Dik?” tanyanya.
“Perkenalkan Pak, nama saya Abdul. Saya sangat senang melihat lukisan Anda. Saya  bercita-cita kelak  bisa menjadi seorang pelukis terkenal seperti bapak, namun sebelumnya, saya ingin menanyakan kepada bapak, apakah saya berbakat atau tidak.”
“Dimana lukisanmu, saya ingin melihatnya,” jawabnya lekas.
“Ini, Pak,” aku langsung menyodorkan lukisanku padanya.
Belum 5 menit dia melihat gambarku, kepalanya langsung menggeleng-geleng pertanda lukisanku kurang menarik.
“Sepertinya kamu kurang berbakat di bidang lukis.” katanya memvonis.
Aku langsung menangis mendengar perkataan itu. Hari itu juga aku pulang kembali ke kampungku tanpa berpamitan kepada Udin, sahabatku semenjak kecil. Setibaku di kampung, aku langsung menuju jambo(gubuk). Aku merusak semua lukisanku yang telah aku lukis dengan susah payah selama ini. Aku membakar semuanya. Begitu sakit aku hari itu.

20 Tahun Kemudian
Sekarang aku telah berkeluarga. Aku bekerja sebagai petani dan juga masih memelihara beberapa ekor kerbau milik Abuku. aku telah memiliki dua orang putra yang amat kubanggakan. Beberapa hari yang lalu, aku mendapat kabar dari Udin, sang ahli lukis yang 20 tahun yang lalu pernah menggelar pameran datang kembali ke Banda Aceh untuk acara yang sama.
Walaupun sekarang aku tidak melukis lagi, aku masih senang dengan dunia itu. Aku masih ingat ucapan sang ahli lukis 20 tahun yang lalu yang membuat aku berhenti terjun ke dunia lukis melukis. Aku berniat ke sana untuk melihat sekaligus menanyakan pada sang ahli, mengapa dulu dia mengatakan aku tidak berbakat.
Akhirnya, aku berangkat ke sana ditemani 2 putraku yang masih kecil. Istriku tidak bisa ikut karena harus merawat abuku yang sudah sangat tua. Aku kembali menginap di rumah Udin yang selalu setia memberikan tempat jika aku berkunjung ke Banda Aceh.
Ketika pameran itu telah dibuka, aku langsung berkeliling melihat-lihat semua lukisan yang terpajang anggun dan berjejer rapi. Dalam benakku, masih teringat cita-citaku 20 tahun yang lalu. Sebuah keinginan yang sangat kudambakan, menjadi seorang pelukis.
Saat sedang berkeliling arena pameran, aku bertemu dengan sang ahli yang dulu pernah mengatakan bahwa aku tidak berbakat. “Wah, ini kesempatan yang sangat tepat untuk menanyakan perihal 20 tahun yang lalu itu,” gumamku.
Langsung saja kusapa dia seperti dulu. “Assalamualaikum”.
Dia menjawab salamku dengan fasih.
“Saya Abdul yang dulu bercita-cita ingin jadi seorang pelukis yang hebat, apakah bapak masih ingat?” tanyaku.
“Oh, jadi kamu anak itu, bagaimana lukisanmu sekarang, apakah sudah berkembang?” tanyanya.
“Jadi bapak sudah lupa. Dulu bapak mengatakan bahwa aku tidak berbakat di dunia seni lukis, sayapun kemudian mengambil keputusan untuk tidak melukis lagi.” Ujarku panjang lebar.
“Maafkan saya, Nak. Saya dulu sangat lelah karena telah 3 hari bekerja sekeras mungkin agar pamerannya berlangsung sukses, sehingga ketika kamu memperlihatkan lukisanmu saya tidak benar-benar memperhatikannya. Saya membandingkan lukisan anak berumur 15 tahun dengan lukisan saya,” jawabannya membuat hatiku meledak.

Keutapang, 14 September 2014

Click to comment