Kala Berdua

advertise here
Rate this posting:
{[["☆","★"]]}
>


Oleh : Suci Wahyuni
Mahasiswi  jurusan Perbankan Syariah, FEBI, UIN Ar-Raniry. Banda Aceh




Mengingat dan mengenang masa lalu, lalu bersedih atas apa yang terjadi dan kegagalan di dalamnya merupakan tindakan yang sangat tidak menguntungkan. Sama halnya dengan membunuh semangat dan memupuskan tekat dan mengubur masa depan yang belum terjadi..

Kala itu saat berdua, semua angan dan impian akan digapai bersama tanpa mengingat di semesta mana kita berada saat ini, namun saat semua sudah berubah, senyum yang dulu sehangat mentari pagi, kini berubah manjadi bara api yang akan melukai sebuah hati. Aku seperti kehilangan kaki untuk berdiri. Aku seperti kehilangan mata untuk melihat. Oh, bagaimana cara aku melupakanmu?, Harus dimana aku tempatkan diri ini jika bertemu denganmu nanti?

Janji yang dulu terucap di bawah sinar rembulan dan disaksikan oleh kebisuan yang mampu menghentikan waktu, ketika kau ucap janji dari mulut yang begitu membuat telingaku bergetar mendengarnya. Semuanya hilang. Yang aku tahu, janji dan impian yang pernah kita rangkai menghilang bersama menghilangnya rembulan di malam hari. Semua hal yang dulu manis, berubah menjadi hal yang sangat menyakitkan.

Manusia boleh merencanakan segala hal yang dia inginkan, tetapi apa daya jikalau semesta memiliki rencananya juga. Manusia dengan semesta, seperti nol berbanding sepuluh. Sudah seperti ketentuan yang tidak dapat diubah lagi. Manusia memang ditakdirkan untuk siap pada segala kemungkinan dalam hidupnya. Seperti perpisahan, mau ataupun tidak mau.

Karena mencintaimu adalah hal pertama yang muncul di benakku, maka perpisahan adalah hal terakhir dan melupakanmu menjadi hal yang tidak pernah aku inginkan….

Click to comment