KEKURANGAN DI DALAM KESEMPURNAAN

advertise here
Rate this posting:
{[["☆","★"]]}
>

Oleh : Rosi Yuliana, AMd

Alumnus Teknik Elektronika FMIPA UNSYIAH Banda Aceh
Staf Dinas PMP2TSP Kab. Aceh Jaya

Duduk terdiam dan terhenyak di sudut meja dimana tempat saya bekerja, itulah yang terjadi setelah sebuah buku memberikan saya sebuah inspirasi dan motivasi yang luar biasa, namun jauh dari kata kesempurnaan. Itulah ia sebuah buku karya dari Fawaz yang berjudul “Yang Menyublim di Sela Hujan ” cerita yang dikupas di dalamnya adalah tentang pengalaman belajar mengajar di sokola asmat di daerah perdalaman Papua yang memiliki angka buta aksara tertinggi untuk saat ini. Direktur Pembinaan Pendidikan Keaksaraan dan Kesetaraan (Bindiktara) Abdul Kahar mengatakan masih ada beberapa daerah angka buta aksara yang tinggi. Salah satunya adalah wilayah Papua yang mencapai angka 25,843%. Ini bukanlah angka yang kecil jika dibandingkan dengan wilayah lain yang hanya mencapai 3 sampai 5 persen yang mengalami buta aksara. Hal ini dapat dimaklumi karena fasilitas yang disediakan sangat tidak memadai dan tenaga pendidik yang sangat kurang. 

Di sini saya sendiri tidak ingin membahas kisah tentang bagaimana mereka berjuang demi pendidikan mereka, namun setelah membaca buku tersebut. Saya bandingkan dengan literasi masyarakat di luar daerah Papua, malah sedikit sekali yang mengalami buta aksara. Mengapa banyak sekali di antara masyarakat kita yang mengabaikan pendidikan yang difasilitasi lebih dari apa yang mereka peroleh?

Salah satu jawabannya, semangat belajar yang kurang di dalam situasi dan kondisi yang sangat memadai hingga difasilitasi tenaga pendidik yang lengkap. Kondisi semacam ini sangat disayangkan karena masyarakat kita cenderung tidak peduli akan hal ini . Sayangnya, lebih memilih untuk membuang-buang waktu di warung kopi, hanya untuk mengscroll-scroll layar handphone yang tiada batas ujung penghabisannya. Bahkan di warung internet yang mana mereka hampir tidak sadarkan diri duduk dari pagi hingga ke pagi lagi. Ini adalah bukti nyata yang sering kita temui di wilayah kita. Sesungguhnya hal ini sangat disayangkan, karena dengan kemajuan zaman, tentunya juga diikuti oleh perkembangan teknologi yang ada pada era saat ini. Sesungguhnya pula hal ini dapat mempermudah kita dalam memperoleh data dan informasi yang dibutuhkan sesuai dengan permintaan dan kebutuhan, namun kebanyakan efek berkembangnya teknologi sekarang ini banyak disalah gunakan oleh masyarakat kita. Apakah ini kesalahan orang tua? 

Tentunya tidak. Orang tua mungkin hanya mampu menjaga kita di saat posisi kita berada di dalam lingkungan yang terjangkau dengan keduanya. Untuk selebihnya tidak, karena semakin hari kita selalu dihadapkan dengan hal-hal yang baru dil uar kendali orang tua kita, maka selebihnya diri sendirilah yang mampu menahkodakan akan mau dikemanakan tujuan hidup ini.

Begitu kagum kepada saudara kita di sana yang sedang menempuh pendidikan, namun dengan perjuangan yang besar dalam begitu banyaknya keterbatasan sarana dan prasarana yang terbatas, tidak membuat mereka patah semangat dalam proses belajar yang hanya difasilitasi bangunan kayu yang seadanya dan papan tulis kapur, tanpa kursi dan meja, baju dan sepatu. Namun semangat mereka demi dapat mengenal huruf dan angka sangatlah besar mengapa tidak? 

Mereka takut akan tertipu jika ada pihak yang membawa kantong plastik yang berisikan setumpuk uang datang dari luar daerah, menawarkan sejumlah uang untuk ditukarkan dengan lahan yang mereka punya demi suatu proyek. Mereka akan mengetahui isi kantong plastik tersebut berisikan uang lima ribu kah atau seratus ribukah karena, kedua lembaran uang tersebut memiliki latar belakang warna yang sama. Sungguh sebuah impian yang dapat dikondisikan. 

Maka dari itu selayaknya kita manfaatkan ruang besar serta fasilitas yang telah diberikan pemerintah kepada kita untuk belajar tanpa kendala apapun. Karena masa depan kita tidak ditentukan oleh kedua orang tua kita, melainkan kita sendirilah yang akan membawa kemana dan akan menjadi siapa kita di kemudian hari. Dan tentunya bersyukurlah bagi kita yang hidup dengan mudah dan difasilitasi pendidikan yang bagus serta layak. Karena apapun yang dipelajari di dunia, bukanlah suatu hal yang sia-sia untuk di kemudian hari.

Click to comment