Mewujudkan Asa Belajar di Luar Negeri

advertise here
Rate this posting:
{[["☆","★"]]}
>


Oleh :  Harri Santoso dan Chandra Sihotang

Tulisan ini merupakan lanjutan dari tulisan pertama yang pernah kami sampaikan yaitu terkait aktivitas yang penulis lakukan di Program Persiapan Bahasa Untuk Tujuan Akademis atau Language Training for Academic Purpose (LTAPT) yang diselenggarakan oleh Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Aceh. Program yang dilaksanakan kurang lebih selama 3 bulan yaitu bulan Agustus hingga November 2019.

            Bagi penulis dan seluruh peserta pelatihan ini dan mungkin bagi para pembaca sekalian. Belajar di luar negeri merupakan salah satu impian yang ingin diraih, sehingga perlu kiranya untuk melakukan upaya untuk mendapatkannya seperti misalnya menghadiri seminar beasiswa, mengikuti pelatihan TOEFL dan IELTS serta tentunya yang tidak kalah penting yaitu mendapatkan izin dari keluarga seperti orang tua, isteri/suami serta anak-anak.

Bagi penulis, sangat beruntung sekali dapat mengikuti program kegiatan ini, karena program ini cukup diminati banyak calon peserta dari seluruh Aceh.  Program-programnya yang telah disusun sedemikian rupa, mulai dari persiapan bahasa inggris dari sisi akademis baik reading, writing, speaking dan listening. Yang tidak kalah pentingnya yaitu penyiapan berkas-berkas pendukung beasiswa seperti Daftar Riwayat Hidup, Proposal Penelitian, Surat Motivasi. Selain itu   yang tidak kalah pentingnya juga adalah Cross Culture Awareness, materi akhir ini mengajarkan para peserta untuk terlebih dahulu mengenal budaya serta adat istiadat Negara yang akan menjadi tempat tujuan studi mereka.
Semua hal di atas sangat penting, mengingat banyaknya tawaran beasiswa dari berbagai lembaga, baik dalam negeri maupun luar negeri. Sebut saja misalnya LPDP Departemen Keuangan RI, Program 5000 Doktor Kemenag RI, Australia Award Scholarship Pemerintah Australia, Chevening Pemerintah Inggris, Swisszerland Scholarship Award Pemerintah Swiss. Menurut salah satu narasumber  lembaga di atas, menyebutkan bahwa Pemerintah Aceh adalah satu-satunya pemerintah daerah yang menyiapkan anak-anak mudanya untuk mendapatkan beasiswa. Tidak hanya dari lembaganya, namun juga lembaga-lembaga bergengsi lainnya. Oleh karena itu, sebagai masyarakat yang tinggal di wilayah Aceh, kita patut mengapresiasi upaya yang dilakukan ini khususnya kepada BPSDM Aceh, semoga kiranya kegiatan serupa dapat dilanjutkan di masa yang akan datang dengan jumlah peserta yang lebih besar tentunya. Karena bagi penulis, jika pemerintah Aceh menyiapkan anak mudanya mendapatkan beasiswa dari lembaga-lembaga untuk studi di luar negeri akan lebih murah, jika dibandingkan pemerintah Aceh mengirimkan putra-putrinya belajar di luar negeri. Hal ini menjadi penting mengingat masih banyaknya generasi Aceh di wilayah pedalaman yang masih belum mendapatkan pendidikan yang layak serta semakin mengecilnya jumlah dana otonomi khusus yang didapatkan oleh Aceh ke depan.

            Melanjutkan studi di luar negeri dengan bantuan lembaga-lembaga bergengsi, baik dalam dan luar negeri seperti yang telah penulis sebutkan di atas, tentunya memiliki pertimbangan masing-masing dari peserta. Sebagai contoh adalah mendapatkan kesempatan untuk dapat belajar di kampus-kampus terbaik dunia, mendapatkan jaringan internasional khususnya dalam bidang pendidikan, merasakan kehidupan di negeri-negeri yang sama sekali berbeda dengan Indonesia serta tentunya sekembalinya ke tanah air para peraih beasiswa ini dapat mendapatkan karier yang lebih baik, memberikan kontribusi positif kepada lembaga asal serta mampu menjadikan Aceh menjadi lebih baik.

Semoga semangat BPSDM Aceh dalam  menyiapkan masyarakatnya untuk mendapatkan beasiswa berbanding lurus dengan semangat para pencari beasiswa tersebut. Tentunya diikuti dengan kesiapan pemerintah Aceh, masyarakat Aceh serta unsur lainnya sekembalinya para pemuda ini dari belajar di berbagai penjuru dunia mendapatkan tempat dan kesempatan untuk mengabdikan ilmu serta pengalaman mereka di Aceh. Jika tidak harapan dan cita-cita kita terhadap hadirnya Aceh yang sejahtera hanyalah harapan dan cita-cita kosong.

Harri Santoso., S.Psi.,M.Ed adalah Dosen Tetap Bukan PNS  di Fakultas Psikologi UIN Ar-Raniry dan Peserta LTAPT Angkatan VI Gelombang II – 2019. E-mail: harri.santoso@ar-raniry.ac.id.
Chandra Sihotang.,S.Pd.,M.Pd adalah Guru MTsN 1 Kota Subulussalam dan Peserta LTAPT Angkatan VI Gelombang II – 2019. E-mail: cand.otank90@gmail.com


Click to comment