Sekolah Lima Hari

advertise here
Rate this posting:
{[["☆","★"]]}
>


Oleh Tabrani Yunis


Sekolah - sekolah yang berada di bawah payung Kementerian Agama ( Kemenag) Aceh, seperti Madasah Ibtidaiyah Negeri ( MIN) di kota Banda Aceh mulai tahun ajaran 2019 ini sudah melaksanakan konsep sekolah 5 hari. Dengan demikian, kegiatan belajar berlangsung selama lima hari yang dimulai dari pukul 07.30 dan berakhir pada pukul 16.00 WIB yakni pada hari Senin hingga hari Kamis. Program ini selama ini dikenal pula dengan sebutan fullday schoolyang semasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ( Kemendikbud) berada di bawah kendali Prof. Muhajir Effendi menjadi wacana yang yang begitu intens dibicarakan. Walau wacana itu hangat didiskusikan di kalangan Kemendikbud, namun Kemenag di kota Banda Aceh, lebih dahulu melakukan uji coba sekolah lima hari dan fullday. Buktinya, kini Madrasah Ibtidaiyah (MI) Negeri dan Swasta itu sudah berjalan selama hampir satu semester.

Berlakunya, konsep sekolah lima hari fullday tersebut,  membawa konsekwensi kepada semua pihak, sekolah, guru, orang tua dan juga anak-anak yang menjadi warga sekolah tersebut. Sebagai konsekwensinya, sejak kebijakan sekolah lima hari, fullday dilakukan, ada sejumlah kesibukan baru yang bisa kita simak. Kesibukan pertama adalah pada sekolah tersebut. Sekolah atau madrasah yang sebelumnya menjalankan aktivitas belajar selama 6 hari, tidak fullday, harus mengubah jadwal sekolah dari 6 hari, menjadi 5 hari. Artinya aktivitas atau kegiatan belajar mengajar yang hari Sabtu, harus dipindahkan ke hari lain, dengan memenuhkan waktu belajar hingga sore hari  dan di hari Sabtu semua insan sekolah, baik guru, siswa dan bahkan orang tua tidak disibukan oleh kegiatan sekolah.

Di pihak sekolah kesibukan, kesibukannya tentu bukan hanya pada aktivitas mengubah jadwal belajar, tetapi banyak lagi hal yang ikut berubah, termasuk mengubah kebiasaan belajar. Misalnya, mengubah kebiasaan guru dan siswa  yang sebelumnya hanya melakukan aktivitas belajar di pagi hari, kini mengharuskan guru harus berada di sekolah hingga sore hari. Para guru sebagai pihak yang mengelola sekolah, juga harus mengubah pola dan sebagainya. Yang lainnya, ada tugas sebagian guru yang bertambah, walau hanya pada tugas wali kelas, yakni menyediakan dan menjaga tempat pentipan makanan atau makan siang di sekolah, serta memastikan bahwa setiap siswa harus sudah ada tersedia makanan. Perubahan lain, tentu saja perubahan suasana belajar dan sebagainya.

Di pihak orang tua, penerapan sekolah lima hari juga membawa dampak. Dampaknya juga memberikan beberapa kesibukan baru yang harus dilakukan oleh orang tua. Ya, di kalangan orang tua, atau keluarga, sebagai orang atau lembaga pendidikan yang pertama dan utama serta mengemban beban dan ganggung jawab mendidik yang pertama dan utama, diberikan tambahan beban dan tanggung jawab terhadap anak di sekolah. Beban dan tanggung jawab itu, dirasakan dalam tataran yang relative. Maksudnya, pada kalangan orang tua yang aktivitasnya tidak padat dan longgar, perubahan itu tentu tidak begitu membebankan. Apalagi disadari bahwa itu adalah tugas dan tanggung jawab orang tua memberi makan anak. Tugas yang memang sudah melekat pada kedua orang tua. Namun berbeda dengan orang tua yang sibuk dan keduanya bekerja di kantor atau di perusahaan yang menuntut mereka harus memenuhi kriteria kinerja yang ideal. Sekolah lima hari ini juga menjadi hal yang membebani atau memberatkan. Yang memberatkan bukan pada biaya, karena harus mengantarkan makanan, tetapi pada persoalan waktu. Sebab dengan diterapkan konsep sekolah lima hari ini, di mana orang tua harus mengantarkan makanan dan bila sebelumnya hanya ke sekolah dua kali, yakni saat mengantar dan menjemput. Sekarang harus tiga kali, yakni mengantar pagi, mengantar makan siang dan saat pulang di waktu sore. Ini adalah hal yang mungkin dirasakan oleh para orang tua di sekolah yang fullday.

Sekali lagi tugas baru ini, bagi orang tua yang tidak sibuk, tentu tidak merepotkan. Namun, bagi orang tua yang sibuk, aktivitas ini bisa jadi merepotkan. Oleh sebab itu, sebaiknya sekolah juga memberikan pilihan. Ya, mungkin akan lebih baik, makan siang itu dikelola sekolah dengan cara makan bersama di kantin sekolah. Sekolah bisa menyediakan kantin makanan sehat yang memberikan pilihan menu kepada anak-anak sesuai dengan standar yang diberlakukan. Walau orang tua harus menyediakan anggaran khusus untuk makan siang. Sebab, kalau pun tidak dikelola oleh sekolah, anak-anak dan orang tua cenderung membeli makan siang di luar dan menambah jumlah uang jajan setiap hari.  Jajan di luar yang belum tentu bersih dan higienis.

Selain kesibukan di pihak sekolah dan orang tua, sekolah lima hari ini juga akan berdampak pada siswa atau anak didik. Dampak yang pertama adalah pada rasa lelah yang dirasakan oleh anak, karena waktu tidur siang mereka terpakai untuk kegiatan belajar. Kedua, anak dipaksa belajar dalam waktu yang cukup lama, sementara anak pada usia tersebut merupakan fase bermain. Jadi, mereka kehilnagan waktu bermain. Lalu, hal yang sangat berpengaruh adalah pada aktivitas belajar agama, belajar mengaji yang sebelumnya bisa dilakukan sepulang sekolah, kini aktivitas mengaji atau belajar al quran menjadi terganggu. Anak-anak sudah merasa lelah dan kemudian sulit diajak untuk mengikuti pelajaran mengaji di tempat-tempat belajar mengaji yang dilakukan setiap hari.

Nah, mengingat ada yang hilang dari konsep sekolah lima hari, terutama hilangnya kesempatan untuk belajar mengaji, seharusnya kegiatan belajar sore itu diisi dengan pelajaran mengaji, yang dapat melancarkan anak-anak membaca Al- Quran, sebagai pengganti mereka belajar Al Quran di tempat-tempat pengajian. Tentu bila ini disediakan, tidak ada masalah bila kegiatan mengaji itu dikenakan biaya, sepertihalnya mereka mengaji di tempat-tempat pengajian selama ini. Tentu, akan banyak hal yang bisa dilakukan. 

Sekolah lima hari, mungkin masih dalam tahap atau fase uji atau coba. Oleh sebab itu, sebelum terlambat, ada baiknya konsep ini dievaluasi dan terus dimonitoring agar tidak merugikan anak di masa depan.

Click to comment