Siapkah Indonesia Menghadapi Era Revolusi Industri 4.0?

advertise here
Rate this posting:
{[["☆","★"]]}
>
dok. Pribadi


Oleh Fara Fajrina 
Mahasiswi Jurusan Tata Busana, FKIP, Universitas Syiah Kuala ( Unsyiah) Banda Aceh
Bagi sebagian orang, era revolusi Industri 4.0 tentu sudah tidak asing lagi, namun tidak menutup kemungkinan bahwa masih banyak pula orang yang masih belum paham, bahkan mendengar istilah tersebut pun jarang. Mak,  bila kita telusuri lebih jauh, sebenarnya Revolusi Industri tersebut muncul awalnya dipicu oleh terjadinya revolusi Industri di seluruh dunia. Revolusi yang kini  kita hadapi bahkan sudah menjadi era revolusi industri ke empat. Pertanyaannya, mengapa pula dikatakan sebuah revolusi?  Tentu ada latar belakangnya. Paling kurang, kita tahu bahwa hal ini dikarenakan perubahan yang terjadi memberikan efek besar terhadap tata cara kehidupan, bahkan ekosistem dunia. 
Menurut catatan sejarah, revolusi industri pertama berlangsung pada periode 1750-1850, yang ditandai dengan penemuan mesin pembuat kapas menjadi benang. Mesin yang diciptakan oleh James Hargreaves. Kemudian, seiring  dengan berjalannya waktu, kemajuan peradaban ditandai dengan lahirnya mesin uap, moda transportasi bermesin,t elegram, hingga alat pertanian mewarnai kehidupan pada masa itu. Dari waktu ke waktu, teknologi terus bergerak maju, seolah dunia menolak stagnan. Karya- karya bermutu terus dilahirkan oleh tangan-tangan dan fikiran para ilmuan serta cendikiawan dan kini zaman revolusi industry 4.0 telah singgah di pelupuk mata. Nah, ketika era revolusi insutsri 4.0 sudah di pelupuk mata, maka sewajarnya kita bertanya,  siapkah kita, bangsa Indonesia menghadapi era tersebut?
Sebagaimana kita ketahui bahwa era revolusi Industri  4.0  diyakini dapat meningkatkan kualitas kehidupan yang signifikan dan juga perekonomian. Agar kita tidak tergilas oleh kemjuan zaman,  maka sekali lagi kita bertanya kepada diri kita, bangsa kita, apakah kita sudah berbenah, menyiapkan diri?  Pertanyaan ini penting dijawab bersama. Dikatakan demikian, karena Revolusi industri sebelum mengarah pada generasi ke empat  yang sedang membuat seluruh dunia berbenah menyonsongnya telah dimulai sejak abad ke-17.  Kita?
Bisa jadi, kita akan mengatakan bahwa Indonesia sudah siap. Alasannya, karena rata-rata indeks kesiapan industri manufaktur Indonesia ada di level  2,14.  Angka ini dinilai telah cukup siap menerapkan industri 4.0.  Hal itu disimpulkan berdasarkan hasil self-assessmentyang dilakukan setiap industri. Namun terlepas dari hal tersebut, coba kita pertanyakan kembali apakah setiap daerah di Indonesia memiliki pertumbuhan industri yang sama seperti yang ada di kota-kota besar? Bagaimana dengan daerah-daerah tertinggal?. Presiden Indonesia Joko Widodo bahkan telah menetapkan 122 kabupaten di wilayah Indonesia  yang merupakan daerah tertinggal 2015-2019.  Penetapan tersebut tertuang dalam Perpres (Peraturan Presiden) nomor 131/2015 tentang penetapan daerah tertinggal tahun 2015-2019. Perpres itu ditanda tangani pada (4/11/2015). Namun hal ini tentunya tidak dapat dilakukan negosiasi. Mau tidak mau, Indonesia tetap harus menghadapi era 4.0.  Langkah utama yang harus dipersiapkan adalah mendorong angkatan kerja Indonesia untuk terus belajar dan meningkatkan keterampilan dalam menggunakan internet. Tentunya pemanfaatan internet berkembang cukup pesat dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu perkembangan internet adalah  yang kita kenal dengan sebutan Internet of Things (IoT).
Sri Mulyani Indrawati yang merupakan Menteri Keuangan (menkeu)  pada acara KADIN entrepreneurship forummemaparkan bahwa dalam menghadapi era 4.0,  meningkatkan sumber daya manusia atau yang lebih dikenal dengan istilah SDM merupakan hal yang wajib dilakukan. Hal tersebut dilakukan dengan penyediaan beasiswa pemerintah melalui lembaga pengelola dana pemerintah (LPDP) yang telah mencapai 20.255 orang penerima beasiswa. Peningkatan kesehatan dan jaminan sosial masyarakat dengan penyediaan kartu Indonesia sehat (KIS) yang mencapai 96,8 juta jiwa, serta usaha peningkatan presentase ketersediaan obat dan vaksin dalam puskesmas sebesar 95% pada tahun 2019 ini.  
Kiranya, ukuran-ukuran kesiapan kita, tidak bisa hanya berpegang pada kondisi tersebut di atas, kita sebagai bangsa yang besar harusnya secara terus menerus meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia. Kuncinya adalah pada bagaimana membangun kemampuan literasi anak bangsa. Dengan tingginya indeks kemampuan literasi anak bangsa, kita tidak akan menjadi objek dari revolusi industry 4.0, tetapi kita gendaknya menjadi subjek yang produktif. Mungkinkah?

Click to comment