TRAGEDI TAIK KUCING DI KERAJAAN BLANG RAYA

advertise here
Rate this posting:
{[["☆","★"]]}
>


Oleh Fitriadi Mahmud

Alkisah tersebutlah sebuah negeri, di penghujung pulau. Kerajaan Blang Raya namanya. Pada suatu hari sang raja diundang oleh hulubalang ke sebuah acara negara. Menurut isu yang berkembang di istana, hari itu akan datang calon prajurit dari sebuah kerajaan seberang ingin belajar ilmu kanuragan di negeri tersebut.

Menjelang malam sebelum acara tersebut dilaksanakan, sang raja sudah memerintahkan panglima perang untuk menghias balai room istana yang megah tersebut.
Panglima, panggil sang raja kala itu.
Siapkan kursi-kursi yang empuk untuk tamu kita.
Siap baginda, titah segera saya laksanakan.
Tidak menunggu lama, panglima sudah memerintahkan pada anak buahnya untuk menyiapkan tempat sedemikian rupa, seperti titah sang raja.
Menjelang tengah malam, semua persiapan sudah dipersiapkan oleh panglima perang bersama para prajurit.

Esok pagi, burung-burung berkicau seperti biasa di perkarangan istana.
Tidak ada tanda-tanda hari itu akan turun hujan, karena mentari yang mulai keluar dari ufuk timur memancar dengan terang.
Kehidupan pagi itu di istana, berjalan seperti biasa.
Beberapa penjaga masih siaga di pos depan.
Terlihat di belakang istana, para istri prajurit sedang menjemur belimbing.
Panglima perang juga sedang, di samping istana melihat kuda-kuda jantan.
Terlihat sang raja sedang, bermain di taman bersama kupu-kupu.

Menjelang tengah hari, para prajurit dari negeri seberang sudah mulai datang satu persatu mengenderai kuda masing-masing.
Sesuai arahan hulubalang, mereka langsung menuju balairoom istana yang sudah disiapkan.

Dengan tergesa-gesa panglima menghadap raja.
Daulat tuanku raja, acara akan segera kita mulai.
Semua prajurit negeri seberang menunggu raja di balairoom.
Baik, saya akan bersiap-siap.

Dengan gagah perkasa sang raja menuju balairoom istana.
Terlihat di kebun istana, dua orang prajurit sedang memetik belimbing.
Begitu melihat raja datang, semakin semangat mereka memetiknya.
Sambil berlalu, raja berkata,,,, bagus..bagus..bagus.
Kalian memang prajurit terbaik.
Setelah musim panen tahun ini, saya angkat kalian menjadi pengawal pribadi saya.

Dengan mata berbinar dan perasaan bahagia, kedua prajurit itu, segera mendekati raja.
Terima kasih banyak baginda
Saya siap membantu baginda. Kata seorang prajurit dengan percaya diri.

Raja terus berjalan menuju aula. Kedua prajurit itu terus mengikuti sang raja dari belakang.
Ketika sang raja masuk ke balairoom istana, dan akan duduk di tempat yang sudah disediakan.
Terlihat muka raja berubah menjadi merah,
Pandangannya mulai berbinar
Tatapannya mulai tajam.

Panglima perang yang sedang di samping raja segera mencari tahu, ada apa gerangan sang raja mulai murka.
Ternyata, di atas meja sang raja,, tampak taik kucing berceceran dan mencret lagi.
Gawat pikir panglima,,, dengan pucat basi.

Melihat gelagat itu,, dua prajurit tadi langsung beraksi
dan menghampiri sang raja.
Daulat tuanku,, masalah taik kucing ini, biar kami yang bereskan. Kata kedua prajurit tadi dengan gagah berani.

Oooooo, kalian memang luar biasa,,.. kata raja dengan penuh wibawa.
Dengan cekatan, kedua prajurit tersebut langsung mengambil taplak meja, dan mengeluarkannya. Untuk dibersihkan.

Selang beberapa menit, kedua prajurit langsung kembali lagi menghadap raja.
Baginda,,, taik kucing sudah kami bersihkan, taplak meja juga sudah kami sikat sampai wangi.

Yayayayayaya... kalian memang layak diangkat jadi perdana mentri setelah musim rambutan tahun ini. Kata raja dengan penuh wibawa dan terlihat senang.

Panglima perang yang di samping, merasa heran... wah hebat kedua prajurit ini, dalam tempo 5 menit masalah taik kucing mencret bisa diatasi.

Acara hari itu berlangsung sampai sukses, dan diterimalah calon-calon prajurit dari negeri seberang untuk menimba ilmu membelah diri di kerajaan Blang Raya.

Setelah selesai acara, panglima perang keluar balairoom, untuk mengecek kuda-kuda prajurit yang diikat di luar.
Setelah berjalan beberapa meter di luar halaman, panglima melihat ada bungkusan kain di pojok balairoom.
Kain apa itu gerangan, pikir panglima !!!
Apa ada orang yang membuang bayi !! Pikirnya bertanya-tanya

Dia dekati perlahan, sampil mengintip lewat celah- celah tumbuhan di perkarangan itu.
Tidak ada tanda-tanda, suara bayi dalam bungkusan itu.
Dengan menggunakan ujung pedang, digeser-geser kain itu.

Dengan wajah terkejut,,,, setelah melihat jelas kain tersebut. Ternyata itu taplak meja yang kena taik kucing, dibuang begitu saja sama prajurit tadi.

Apa juga sudah dibersihkan dan disikat katanya di depan raja tadi.. pikir panglima.

TAIK KUCING JUGA RUPANYA.... guma panglima dengan kesal. (PYM)

Penulis : Fitriadi / Penggiat Literasi Aceh

Catatan : cerita ini hanya fiktif belaka, apabila ada kesamaan tokoh dan tempat itu hanya kebetulan saja, tanpa disengaja oleh penulis.

Click to comment