KONSELOR,BUKAN POLISI SEKOLAH

Rate this posting:
{[["☆","★"]]}
>

Oleh : Shelina, 
Mahasiswa Prodi Bimbigan dan Konseling, Fakultas Tarbiyah, UIN Ar-raniry Banda Aceh.

Ketika mendengar tentang BK, pasti yang terbayang di kepala kita adalah seorang guru dengan wajah seram yang kerjanya selalu menghukum siswa yang membuat kesalahan. Apalagi kalau namanya tiba - tiba dipanggil ke ruang BK,pasti jantung rasanya mau copot bukan? Ya, semua orang juga merasakan itu, ketika masih menjadi siswa,termasuk penulis sendiri, dulu juga begitu. Tapi sebenarnya apakah BK itu? Penulis yakin banyak orang yang tidak tahu apa BK yang sebenarnya. 
Ada baiknya kita bangun pemahaman kita akan hal ini. BK itu adalah singkatan dari bimbingan dan konseling atau bahasa kerennya itu  dalam bahasa Inggris Guidance and counseling. Menurut Prayitno,dkk Bimbingan dan Konseling ialah suatu pelayanan bantuan untuk peserta didik, baik secara perorangan maupun kelompok agar mandiri dan berkembang secara optimal, dalam bimbingan pribadi, bimbingan sosial, bimbingan belajar dan bimbingan karir berdasarkan norma-norma yang berlaku. Dari pengertian itu dapat disimpulkan bahwa tugas seorang konselor itu bukan hanya menghukum siswa yang nakal saja, akan tetapi konselor juga sangat berperan penting dalam penentuan bakat minat siswa ke depan.  Sayangnya, banyak dari kalangan orang tua atau siswa sekarang menganggap bahwa konselor itu adalah polisi sekolah, guru killer dan lain sebagainya. Hal itu tidak dapat dipungkiri karena semasa kita masih sekolah dulu, juga beranggapan seperti itu. Dulu semasa sekolah mungkin kita pernah dihukum membersihkan toilet karena terlambat datang ke sekolah pada hari Senin dan sebagainya. Maka, mulai dari situ kita tidak menyukai guru BK. Bahkan kawan kawan lain, termasuk penulis dulu kalau jalan melewati ruang BK sering mengatakan bahwa ruangan itu adalah ruangan terangker yang ada di sekolah.
Jadi pertanyaannya sekarang, penulis tidak suka guru BK, namun mengapa kuliah di jurusan BK?  Nah, menjadi menarik untuk ditelusuri. Ini adalah pengalaman pribadi penulis. Ceritanya bermula  ketika ingin melanjutkan perkuliahan. Penulis memilih jurusan yang  diinginkan, akan tetapi tidak sekalipun  diterima. Sampai pada akhirnya penulis mempunyai kesempatan terakhir untuk mengikuti tes masuk kampus sebelum semua jalur ditutup. Jadi, sebelum mengikuti tes penulis sempat berkonsultasi ke guru BK yang ada di sekolah. Penulis menanyakan jurusan yang mempunyai peluang besar ke depan. Beliau memberikan banyak sekali daftar jurusan,sambil menjelaskan satu persatu. Beliau juga menyertakan BK sebagai pilihan, karena katanya tenaga BK sekarang sudah sangat langka. Satu sekolah, biasanya hanya mempunyai satu guru BK dengan jumlah peserta didik yang lebih tiga ratus. Dengan begitu, maka kinerja guru BK akan tidak efektif, karena beban tugas guru BK itu adalah satu banding seratus lima puluh (1:150). Hal ini membuat beban tugas guru BK akan tidak tercapai seperti yang sudah direncanakan. 
Selain itu masih banyak sekolah di Aceh ini yang tidak mempunyai guru BK sama sekali. Jikapun ada guru BKnya, bukan ahli di bidang BK,atau dengan kata lain bukan lulusan strata bimbingan dan konseling. Biasanya apabila di sekolah tersebut tidak ada tenaga BK, yang diambil adalah guru agama atau guru yang sudah tua. Dari hal itu hal penulis tergerak hati  untuk memilih jurusan BK, dan pada akhirnya  lulus di jurusan bimbingan dan konseling, Fakultas Tarbiyah, UIN Ar-Raniry Banda Aceh. Suatu hal yang membuat penulis bahagia pada saat itu, karena hanya penulis sendiri yang pada saat itu belum mempunyai tujuan yang jelas, sedangkan teman teman lain, semua sudah lulus di kampus yang mereka inginkan. Walaupun awalnya penulis tidak menyukai menjadi seorang guru, tapi penulis yakin Allah tidak memberi apa yang  diinginkan, tetapi Allah memberikan apa yang penulis butuhkan. Ini adalah kebutuhan penulis. Ini adalah pilihan terbaik untuk dan ini adalah jalan  untuk membuktikan bahwa penulis juga bisa menjadi seseorang yang hebat, meskipun bukan pada sesuatu yang diinginkan. 
Nah, kembali ke pembahasan bimbingan dan konseling, mungkin banyak yang bertanya apa yang membuat kesalah- pahaman layanan BK  di sekolah, sehingga orang orang menganggap BK kerjanya hanya menghukum siswa saja. Kesalahpahaman layanan BK ini, bermula ketika pengangkatan guru BK yang bukan dari ahli BK atau bukan lulusan BK. Hal ini menjadikan pelaksanaan layanannya tidak sesuai dengan tuntutannya. Pengangkatan guru bidang studi menjadi guru pembimbing di satu sisi, memberikan dampak positif bagi penyelenggaraan program BK di sekolah, karena ada kepedulian kepala sekolah terhadap program BK. Namun di sisi lain, kebijakan tersebut memberikan dampak yang kurang baik bagi profesi bimbingan, yaitu melahirkan citra buruk bagi profesi bimbingan dan konseling itu sendiri, karena dilakukan oleh orang-orang yang tidak memiliki keahlian tentang BK. Hal ini lah yang membuat pemahaman orang tentang BK ini buruk. Padahal sebenarnya dalam  UU No. 20 Tahun 2003 tentang SISDIKNAS, dijelaskan bahwa :
"Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara"
Berdasarkan definisi di atas, bisa  ditemukan 3 (tiga) pokok pikiran  utama yang terkandung di dalamnya, yaitu: (1) usaha sadar dan terencana; (2) mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik aktif mengembangkan potensi dirinya; dan (3) memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Dari ketiga pokok ini kita bisa memahami bahwa keberadaan guru BK itu sangat penting di sekolah. Guru BK adalah cikal bakal pembentukan karakter siswa. Jadi sangat disayang kan jika pemahaman buruk tentang guru BK di sekolah itu masih diteruskan sampai sekarang. Padahal di era globalisasi sekarang ini, banyak sekali  anak yang sudah rusak moralnya dan mereka perlu bimbingan khusus, baik di sekolah maupun dari kedua orang tuanya. BK itu mempunyai banyak sekali layanan yang dapat diterapkan pada siswa, jikapun nantinya setelah dilakukan banyak layanan siswa tersebut masih belum berubah. Di BK kita mempunyai layanan alih tangan kasus, misalnya siswa yang bermasalah dengan psikisnya. Guru BK sudah melakukan banyak sekali teknik, tapi siswa tersebut masih trauma atau hal lain sebagainya. Hal ini selanjutnya akan dialih tangankan kepada yang lebih kompeten di bidangnya. Contohnya saja psikiater atau psikolog.
Kiranya, sudah saatnya bagi kita untuk meluruskan pemahaman dan pandangan kita terhadap keberadaan bimbingan dan konseling di sekolah. Selayaknya kita fahami, bahwa fungsi bimbingan dan konseling, bukan untuk kenghukum dan menakut-nakuti para siswa, juga bukan sebagai polisi sekolah, tetapi sebagai sahabat siswa yang dapat memberikan petunjuk dan jalan atau solusi, ketika siswa berhadapan dengan berbagai 

Click to comment