Apa Kabar Hutan Negeriku?

Rate this posting:
{[["☆","★"]]}
>


Oleh Ulmiza Putri Mutia, 
Mahasiswi jurusan Farmasi FMIPA Unsyiah, Darussalam, Banda Aceh
Indonesia adalah negara yang memiliki kekayaan alam yang melimpah, mulai dari keanekaragaman hayati, hasil laut, hasil tambang, bahkan memiliki flora dan fauna langka yang yang tak terhitung jumlahnya. Memiliki kekayaan yang melimpah, tidaklah terlepas dari fakta bahwa Indonesia memiliki hutan yang sangat luas yang menjadi habitat flora dan fauna langka, serta menjadi penghasil kekayaan yang selama ini menjadi kebanggaan bangsa Indonesia. Sebagian besar masyarakat Indonesia  bergantung mata pencahariannya kepada hasil hutan. Mulai dari masyarakat kelas ekonomi rendah, menengah, bahkan masyarakat kelas atas. Setiap penelitian yang dilakukan di hutan Indonesia, selalu menghasilkan penemuan spesies-spesies baru serta keunikan lain yang tidak ditemukan di negara lain. 
Hutan Indonesia merupakan hutan dengan luas ke-3 di dunia dengan jenis hutan tropis dan hutan hujan dari wilayah Kalimantan dan Papua. Memiliki hutan yang sangat luas beserta kekayaan alam di dalamnya, tentunya kita sebagai warga negara Indonesia harus merasa bersyukur dan bertanggung jawab untuk mengelola dan merawat hutan dengan baik agar kelak bisa dimanfaatkan oleh anak cucu kita. Apa yang terjadi bila hutan kita jatuh di tangan yang tidak bertanggung jawab?
Kita bisa mulai dari suatu berita, yang menyebutkan bahwa perkembangan ekonomi di Indonesia melonjak naik dari mulai tahun 1980-an hingga tahun 1990-an. Industri pembuatan kertas dan pulp berkembang dengan pesat. Namun, industri ini hanya mengandalkan bahan baku dari pembukaan hutan secara besar-besaran dan tidak mendirikan Hutan Tanaman Industri.  Saat itu, perekonomian kita memang maju, tetapi yang sangat disayangkan adalah kemajuan ekonomi ini malah merugikan hutan kita sendiri. 
Apa kabar hutan negeriku saat ini?
Salah satu hutan terbaik di Indonesia yang terancam punah adalah Hutan Leuser. Hutan ini terletak di Pulau Sumatera, tepatnya di Provinsi Aceh dan sebagian Provinsi Sumatra Utara. Hutan yang memiliki keanekaragaman yang sangat tinggi ini menjadi terancam punah, karena banyaknya aktivitas yang dilakukan warga lokal, seperti menebang pohon dan membakar hutan secara illegal untuk ditanami sawit, dijadikan perkebunan, serta sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan hidup. Hutan Leuser adalah tempat bagi para fauna langka hidup, seperti orang utan, gajah Sumatra, dan badak Sumatra. Keberadaan fauna langka ini semakin menurun sepanjang waktu karena aktivitas pengrusakan hutan yang terus terjadi oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.
Hingga saat ini, hutan Leuser masih menjadi incaran para pelaku illegal logging. Pengurangan lahan hutan Leuser sudah mencapai 110.000 hektar dan jumlah ini semakin bertambah setiap tahunnya. Akibatnya, banyak habitat hewan rusak dan menyempit, sehingga hewan-hewan ini pun tersesat ke permukiman warga. Selain itu, banyak juga hewan yang mengalami dampak langsung dari aktivitas pembakaran yang dilakukan.
Tidak hanya hutan Leuser, beberapa hutan di Kalimantan, Kepulauan Riau dan Papua juga mengalami pengurangan lahan akibat aktivitas pembalakan hutan yang dilakukan oleh orang-orang tertentu. Pembakaran hutan di Kalimantan telah menyebabkan salah satu satwa yang dilindungi yaitu Orang Utan, kehilangan tempat tinggal, tewas dan sebagian terluka. Menurut Borneo Orang Utan Survival Foundation (BOSF), ada sebanyak 16 bayi Orang Utan mengalami masalah kesehatan akibat paparan kabut asap dan beberapa lainnya tewas akibat tidak bisa menyelamatkan diri dari kebakaran yang melanda hutan. Berikut adalah foto orang utan yang diambil pada saat kebakaran hutan di wilayah Kalimantan.


Sumber foto: Pemenang Foto Jurnalistik Anugerah Adiwarta | foto Jessica Helene Wuysang / Antara
Apa dampak nyata dari pengrusakan hutan yang terus menerus terjadi? Kita bisa meninjau dari suatu studi kasus yang terjadi pada tahun 2011, yaitu banjir bandang yang menghantam Tangse, Kabupaten Pidie. Banjir ini telah menyebabkan kerusakan yang parah dan kelumpuhan ekonomi di Tangse. Banyak jembatan dan jalan yang rusak akibat material lumpur serta kayu log bawaan banjir. Banjir ini disebabkan oleh pembalakan liar yang telah dilakukan warga lokal di hutan Tangse.
Dari studi kasus di atas, sudah jelas bahwa dampak dari pengrusakan hutan itu sangat besar bagi kita semua. Tidak hanya banjir bandang, dampak lain dari pengrusakan hutan ini ialah seperti: hilangnya keseimbangan alam, punahnya flora dan fauna langka, tanah longsor, liquifaksi, dan masih banyak lagi. 
Melihat banyaknya dampak yang ditimbulkan oleh pengrusakan hutan, sudah seharusnya kita sebagai masyarakat dan warga negara, sama-sama berpartisipasi untuk membantu Pemerintah dalam menjaga hutan. Karena jika bukan kita yang menjaga hutan maka siapa lagi yang akan menjaganya? 
Ada banyak hal yang bisa dilakukan dalam menjaga hutan, seperti melakukan reboisasi atau penanaman kembali pohon-pohon yang sebelumnya telah digundulkan, melakukan sistem tebang pilih, yaitu memotong pohon yang sudah tua, melakukan sistem tebang-tanam, mengurangi penggunaan kertas berlebih, memakai kertas hasil daur ulang, tidak mencoret-coret pohon di hutan, serta melindungi dan menjaga hutan dengan tidak membuang sampah sembarangan di dalamnya.

Click to comment