KAU BERDOA, BERARTI KAU PERCAYA

Rate this posting:
{[["☆","★"]]}
>


Oleh Nurul Qadri
Mahasiswi Prodi Bimbingan dan Konseling, Fakultas Tarbiah dan Keguruan, UIN Ar-Raniry, Darussalam, Banda Aceh 

Dalam kehidupanku, banyak kenangan indah dan cerita-cerita indah yang tak mungkin dapat kulupakan dari sisi kehidupanku. Seiring waktu pun terus berjalan, tak terasa semua kenangan indah hanya dapat diukir dan dikenang. Dulu sewaktu masa kecil, aku bisa tertawa, bercanda, bersenang bersama-sama, tetapi semua kenangan itu hanya dapat kuceritakan dalam kehidupan sekarang. 
Masa kecil yang dulu begitu indah, yang dulu begitu cerah, begitu senang kulewati. Namun, semua itu hanya dapat kukenang. Aku hidup dalam keluarga yang sederhana yang sama seperti orang lain. Aku  merupakan anak ke 2 dari 3 bersaudara.  Sehari-hari ku ewati dengan canda, kesenangan, kebahagiaan dan kenyamanan. Hari-hari kulewati terkadang juga banyak rintangan,tantangan bahkan cobaan yang sering kuhadapi di depan mata.
Sebagai anak kedua dalam keluarga, segala curahan hati, tantangan kehidupan  kubicarakan bersama-sama kakakku Rizka.   Mungkin karena dia seorang kakak yang bisa diajak berkomunikasi  dalam segala hal.  Sering kulampiaskan kepenatanku kepadanya  di saat aku sedih, galau, bahkan di saat aku membutuhkan seorang teman . Ya, walau terkadang sering ada selisih paham. Maklum keadaan juga tidak selalu senang.  Ketiga adikku, kebetulan juga cewek.  RAIHANUL JIHAN, itulah namanya.  Dia masih terlalu kecil.  Anaknya manis sekali.  Dialah adik yang saat ini yang harus aku dan keluarga jaga dengan penuh kasih sayang, karena dia adik yang paling kecil dalam keluarga.   
Sekarang umurku pas 20 tahun. Semenjak lulus SMA, aku melanjutkan study di UIN AR-RANIRY. Aku kuliah  di fakultas Tarbiah, jurusan Bimbingan dan konseling. Alhamdulillah aku lewati dengan senang hati,  walaupun banyak tantangan yang terkadang banyak ku hadapi tapi itu semua aku lewati dengan tabah hati,mungkin ini lah hidup,banyak cobaan,tantangan dan rintangan yang mungkin harus di lewati dalam perjuagan.
Kehidupan yang kami lewati sekarang beda jauh dengan kehidupan yang dulu. Aku dan keluarga, kehilangan sosok ayah.  Semenjak kehilangan sosok seorang ayah, kami harus lebih mandiri dan berpacu untuk masa depan. Ibu sekarang menjadi  tumpuan harapan utama kami dalam keluarga. Ibu juga adalah satu-satunya orang yang sekarang harus kami bahagiakan. Maka, kami jaga dengan penuh perhatian. Itulah kehidupan, terkadang senang, juga terkadang menggembirakan. Betul kata orang, dunia ini adalah fatamorgana yang kita pikir semuanya ada, tetapi nyatanya fana.
Seiring berjalannya waktu, lilin yang dulu terang, sekarang menjadi sedikit redup dan kurang bercahaya. Ke mana masa dulu yang selalu kuimpikan, yang aku bisa bermanja ria, bercanda bersama dan kebahagiaan bisa kurasakan. Ke mana semua itu? Ke mana?  Aku merindukan semua kenangan dulu. Ingin kumengulang semua jejak-jejak kaki yang dulu pernah kulangkahkan bersama, yang dulu pernah kulewati bersama. Namun, semua hanya akan kuceritakan di masa sekarang. Kasih sayang yang dulu pernah kudapatkan. Kasih sayang yang dulu selalu terukir dalam hidupku, tapi sekarang semuanya hilang, hilang ditelan asa.

7 TAHUN YANG LALU
Tujuh tahun lalu,  masa di mana aku masih lugu-lugunya dalam dunia fana. Masa di mana aku selalu ditertawakan karena tingkah laku yang sering berantakan. Masa di mana aku masih dalam keadaan tidak memahami bahasa yang modern.  Masa dimana aku selalu harus berhadapan dengan tangisan. Masa di mana aku selalu dikerjai oleh orang-orang yang kumanjakan, berlalu sudah hilang ditelan asa, tanpa bekas, tanpa coretan bahkan tanpa setitik tinta yang jatuh. Entah ke mana masa itu sekarang. Entah ke mana kenangan itu sekarang.  Bila kuingat, ingin kuulang, tapi sayang semua itu hanya memori yang akan kuceritakan di masa depan nanti.
Tujuh tahun adalah kenangan yang tak mungkin bisa kulupakan. Tak mungkin bisa kuhapus dalam sisi kehidupanku. Berlalu bagaikan air yang mengalir hingga aku menjadi sosok seorang remaja yang kini tumbuh layaknya orang-orang yang lain, juga bisa tertawa, bercanda, bersenang, walau terkadang batin sering tersiksa dengan keadaan yang ku alami.
Siapa yang harus di salahkan, waktu atau keadaankah? Kalau kita menyakahkan waktu, sama sekali tidak bersalah, karena  dia hanya berputar mengikuti rotasi yang ditentukan, tetapi kala kita menyalahkan keadaan, dia juga tidak bersalah, karena dia hanya melewati apa yang kita kerjakan. Jadi siapa yang harus disalahkan? Aku tak mengerti dengan kehidupan ini. Ini semua hanyalah fatamorgana yang sering dibicarakan oleh orang-orang yang terkadang harus dipercayai.
Nah sekarang apa lagi yang harus kupikirkan? Apakah aku harus menjadi sesosok orang yang lemah? sosok orang yang tidak berguna bagi siapapun atau sosok orang yang selalu mengharap kan kepada yang lain?  Dulu aku pernah berpikir demikian, tetapi seiring berjalannya waktu, aku tersipu malu dengan keadaan yang mungkin belum pernah bisa kuajak untuk bangkit. Seharusnya aku harus bangkit menuju sinar-sinar cahaya yang menanti. Aku tak boleh kalah dengan keadaan. Aku tak bisa menjadi sosok orang yang lemah, karena aku masih mempunyai adik yang harus bisa aku didik dan aku bimbing.  Inilah likaliku kehidupanku yang harus kulewati dalam berbagai keadaan.

Nah semenjak aku jarang di tengah-tengah keluarga, kerinduan selalu menghantuiku untuk bisa selalu bersama mereka, tapi sayang, aku juga harus menempuh jejakku dalam studiku. Banyak tantangan yang terkadang aku tak tahu harus kulampiaskan pada siapa, sedih rasanya kalau aku harus menangis tanpa sesosok orang pun di sampingku, tapi yang namanya perjuangan harus bisa kulewati dengan mandiri. 
Hidup berstatus anak kos harus bisa kukenang selamanya. Masak sendiri, cuci baju sendiri, semuanya serba sendiri.  Semua itu tidak kuhiraukan dengan kesedihan, karena masih banyak kawan yang Insya Allah bisa membuat kutertawa tanpa kesedihan. Debu-debu penderitaan sering kualami, baik dalam lingkungan pribadi, dalam lingkungan pertemanan, dalam lingkungan persahabatan bahkan dalam lingkungan persaudaraanku sendiri. Pahit manis penderitaan tak henti-hentinya kunjung datang. Terkadang aku sering bertanya, kenapa hidup ini terkadang tak adil, kenapa? Sayangnya, tak ada seorang pun yang bisa menjawab teka teki pertanyaan yang kulontarkan, kapan semua pertanyaan itu akan terjawab, kapan?

Aku tak mengerti, terkadang juga orang hanya bisa tertawa dan tersenyum. Aku merasa hina, merasa kucil di saat semua orang harus tertawa dengan pertanyaan yang kupaparkan. Jadi ke manakah aku harus mengadu pahit manisnya derita yang kualami? Orang-orang, bahkan mengabaikan. Terkadang pun kertas putih tak sanggup lagi menahan coretan-coretan yang kututupi dengan berbagai warna tinta. Aneh memang, jika kubayangkan dunia fana ini.
Sekarang masa remajaku akan terlewati. Aku harus bersiap-siap menuju masa dewasa yang akan rumit kulangkahi dan kujawab teka teki yang muncul di tengah-tengah layar kehidupan. Memang waktu itu sangat cepat berlalu, hingga aku harus lebih berfikir matang tentang dunia maya ini.
Hari demi hari telah kulewati, saat aku melanjutkan study di UIN AR-RANIRY. Berbagai macam watak telah aku temui dalam pertemanan, kelembutan, keegoisan dan bahkan kekejaman telah aku dapatkan. Yang dulunya mungkin aku bisa dikatakan gadis lugu yang tak mengerti apa-apa tentang layar permainan kehidupan, tetapi sekarang semua itu aku tahu karena keadaan telah memperlihatkan semua tentang dunia maya ini. Telah banyak skenario yang kudapatkan. Terkadang menggembirakan juga, terkadang menyedihkan.
Memang tak selamanya hidup itu indah, karena hidup selalu butuh akan perjuangan,akan tantangan bahkan akan cobaan yang diberikan Allah, Benar kata orang                               “bersusah-susah dahulu dan Memang tak selamanya hidup itu indah karena hidup selalu butuh akan perjuangan, akan tantangan bahkan akan cobaan yang diberikan Allah.  Benar kata orang “bersusah-susah dahulu dan bersenang-senang kemudian”. Semoga kata-kata tersebut bisa menjadi motivasiku untuk hidup lebih tegar, lebih bersemangat dan lebih bermakna untuk semua.
Seperti halnya hujan. Terkadang hujan tak pernah menyesal menyirami bumi. Karang juga tak pernah menyesal selalu diterjang ombak. Bunga pun tak pernah marah jika harus dipetik, walau sangat sakit yang dirasakan.  Seperti itulah kehidupan. Seharusnya aku malu dengan hujan yang selalu bersabar menyirami bumi. Seperti karang yang selalu harus menahan rasa sakit kalau diterjang ombak dan seperti bunga yang selalu pasrah jika dipetik. Mereka tidak bernyawa, tidak bisa mengeluh rasa sakit yang dirasakan, tapi aku sebagai manusia yang bernyawa, yang diberikan akal pikiran untuk berpikir, kenapa selalu harus mengeluh dengan keadaan yang diberikan Allah?  Ya Allah, semoga aku juga bisa lebih tegar sama seperti makhluk-makhluk lain yang engkau ciptakan.
Pada bagian lain, “Bersenang-senang kemudian”.  Ungkapan yang penuh harapan. Semoga kata-kata tersebut bisa menjadi motivasi ke depan untuk hidup lebih tegar, lebih bersemangat dan lebih bermakna untuk semua..

2 komentar

avatar

Bereh,mantap,luar biasa

avatar

Good kali kakak

Click to comment