Mereka Juga Ingin Bahagia

Rate this posting:
{[["☆","★"]]}
>


Oleh Putri Novita Sari

Mahasiswi  Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Pengetahuan 
Alam (FMIPA) Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh



Alam adalah sumber kehidupan, tempat makhluk menggantungkan hidupnya. Sama halnya dengan alam, hutan juga merupakan aset yang sangat penting untuk kita. Hutan adalah paru-paru dunia, keberadaannya sangat penting untuk keberlangsungan makhluk hidup baik manusia, hewan maupun tumbuhan. Menurut data Forest Watch Indonesia (FWI), sebuah lembaga independen pemantau hutan Indonesia, sejumlah 82 juta hektar luas daratan Indonesia masih tertutup hutan akan tetapi, pada tahun 2015 Global Land Analysis & Discovery (GLAD) dari Universitas Maryland menunjukkan bahwa kehilangan tutupan pohon di Indonesia tetap tinggi antara tahun 2001 dan 2015. Kehilangan tutupan pohon ini meningkat tajam pada tahun 2012 yaitu seluas 928.000 hektar. Hilangnya tutupan pohon ini diakibatkan karena adanya penebangan hutan secara liar, kebakaran hutan dan lahan gambut, produksi kertas, dan tindakan lainnya. 

Hutan merupakan tempat tinggal hewan. Di hutan mereka menghabiskan waktu hidup mereka mulai dari mencari makan, bertahan hidup dan berkembang biak. Menurut data tahun 2008, di Kalimantan hidup sekitar 56.000 orang utan di alam liar. Namun akibat pembalakan hutan yang terjadi setiap tahun, populasi orang utan saat ini diperkirakan tinggal 30.000-40.000. Menurut Borneo Orang Utan Survival Foundation (BOSF), 16 bayi orang utan yang berada di hutan rehabilitasi di Nyaru Menteng mengalami masalah kesehatan akibat paparan kabut asap. Sejak kabut asap yang dipicu kebakaran hutan, orang utan kerap terlihat di pemukiman warga. 

Dari peistiwa ini, kita tahu bahwa ketamakan manusia menjadi masalah utama dalam pembakaran hutan. Padahal yang kita ketahui orang utan merupakan hewan pemalu dan berusaha untuk menghindari kontak dengan manusia, akan tetapi karena habitatnya rusak dan musnah sehingga mengharuskannya untuk mencari makan dan bertahan hidup ditempat lain seperti pemukiman warga. 

Hutan Indonesia menyimpan keanekaragaman hayati paling kaya di bumi dengan 30 juta jenis flora dan fauna. Sebagai paru-paru bumi, hutan tidak hanya memproduksi oksigen, tetapi juga menyimpan gas rumah kaca. Begitu pentingnya hutan bagi hewan dan tumbuhan, lantas mengapa keberadaan hutan disalahgunakan oleh tangan-tangan kotor manusia ? Selain pohon, juga banyak tumbuhan dan hewan yang terancam punah dan langka. Padahal mereka juga ingin hidup sempurna layaknya manusia. Akan tetapi ada saja manusia yang tamak dan licik yang akan menghalalkan segala cara untuk kepuasan hidupnya tanpa memikirkan kehidupan yang dirusaknya. Anehnya, manusia yang merusak alam juga terkena dampak dari kerusakan tersebut. Sungguh ironis manusia serakah yang menghancurkan peradaban mereka sendiri. 

Manusia memang makhluk yang sangat pintar. Mereka mempunyai banyak ide yang inovatif untuk mengikuti perkembangan zaman teknologi sekarang ini. Karena ide-ide yang dianggap menguntungkan inilah yang merusak hati nurani mereka, sehingga tega melakukan berbagai hal untuk kepuasan diri sendiri. Di Indonesia banyak terjadi kasus perdagangan satwa langka secara illegal. Selama dua pekan terakhir, penegak hukum mengungkapkan adanya sejumlah upaya penjualan satwa langka keluar negeri. Contohnya saja satu bayi orang utan ditemukan dalam sebuah koper di Bandara Ngurah Rai, Bali saat hendak diterbangkan ke Rusia. Kemudian adanya perdagangan kulit harimau Sumatera selama 3 tahun terakhir, kasus penyeludupan 41 komodo di Jawa Timur pada pekan lalu, dan kepolisian juga menemukan sekitar 5.050 ekor kura-kura moncong babi yang akan diseludupkan dari Asmat ke Timika. Oleh karena ulah manusia inilah yang mengurangi populasi hewan sehingga banyak hewan menjadi langka dan dilindungi. 

Permasalahan seperti ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga terjadi di negara lain. Contohnya seperti Eropa yang merupakan pusat perdagangan reptile. Ribuan hewan diperdagangan di pameran lelang. Perdagangan satwa liar semakin diminati oleh konsumen karena dapat digunakan untuk membuat barang-barang dengan harga jual yang tinggi seperti tas berbahan kulit asli ular dan buaya, berang-berang sebagai peliharaan, kepala hewan liar seperti serigala, harimau, dan beruang yang dijadikan hiasan dinding, badak sebagai trofi, kayu tropis langka untuk furniture, hingga bagian tubuh hewan lainnya yang dikonsumsi sebagai hidangan makanan langka dan obat tradisional.

Sungguh tragis nasib flora dan fauna. Mereka hanya digunakan untuk keuntungan manusia semata. Kehidupan flora dan fauna yang dilindungi menjadi terancam, bahkan di hutan konservasi seperti Taman Nasional Gunung Leuser, terdapat beberapa kasus seperti seekor beruang madu terkena jerat pembuku di Taman Nasional Gunung Leuser dimana kaki beruang madu tersebut terjerat seutas tali nilon, sehingga ia mendapat luka dari jeratan tersebut. Kemudian seekor anak gajah Sumatera yang juga terkena jeratan pemburu berupa selang kawat baja yang cukup tebal bahkan hampir membuat kaki anak gajah tersebut putus. 

Tingkah dan sikap manusia yang semena-mena dan selalu tidak puas inilah yang merusak alam sehinga secara perlahan. Tanpa disadari, manusia menjadi pembunuh bagi flora dan fauna serta diri mereka sendiri. Contohnya saja seperti penebangan pohon secara tidak terkendali yang akan mengakibatkan banjir bagi manusia. Manusia dengan mudahnya membuang limbah hasil pikirannya ke laut, sungai maupun danau yang membuat biota laut menjadi terganggu, mengeksploitasi alam secara liar, membakar hutan, melakukan penyeludupan, dan banyak tindakan manusia yang merugikan alam lainnya. Lalu di manakah letak pikiran kita sebagai manusia ? Apa manusia hanya menciptakan sesuatu dari alam, tetapi tidak berniat untuk menjaga alam itu sendiri ? 

Hal inilah yang menjadi dasar kita agar menggunakan akal pikiran dan hati nurani kita secara seimbang. Berpikir bukan hanya menggunakan, tetapi juga mengembalikan dan menjaganya. Memang tidak mudah untuk memperbaiki keadaan ini, akan tetapi ada banyak hal yang dapat kita lakukan untuk mencegah kerusakaan alam ini, dengan hal yang kita anggap kecil akan tetapi dapat menjadi sesuatu yang besar dan sangat penting bagi alam sekitar. 

Pemerintah telah menerapkan hukum untuk masalah penebangan hutan, penyeludupan flora dan fauna, maupun pembuangan limbah industri. Akan tetapi, hukum ini hanya akan menjadi pajangan jika tidak ada bantuan dan kesadaran diri dari masyarakat. Oleh karena itu, sangat penting adanya kesadaran diri dan adanya rasa ingin melindungi bagi setiap manusia. Selain itu, kita juga dapat memulai dari hal yang kecil seperti melakukan reboisasi atau penghijauan kembali, tidak membuang sampah sembarangan, tidak membuang hasil limbah pabrik ke laut, sungai maupun danau, melakukan terasering untuk penanggulangan erosi tanah, melakukan eksploitasi alam secara tepat, melakukan proses daur ulang dan pengolahan limbah agar kadar bahan pencemar tidak melewati ambang batas dan selalu ingat bahwa di alam ini bukan hanya kita yang tinggali akan tetapi ada hewan dan tumbuhan yang hanya ingin hidup damai dan tidak ingin diusik.

Click to comment