Penyesuaian di Tengah Pandemi Covid-19

advertise here
Rate this posting:
{[["☆","★"]]}
>

Oleh Rahmatil Adha Phonna 
Mahasiswa Prodi Statistika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh

Virus Covid-19 (novel coronavirus 2019) menjadi sesuatu yang diperhatikan oleh seluruh dunia. Penyebaran virus ini yang masif membuat penyebaran virus ini tidak mudah untuk ditangggulangi. Dari hari ke hari pasien yang mengidap virus ini semakin banyak dan sampai saat ini belum ditemukan obat paten yang mampu mengobatinya. Walau risiko kematian yang diakibatkan Covid-19 ini tergolong kecil,  tapi bukan berarti dianggap remeh. Agar lebih mengenal penyebarannya, pemerintah membagi beberapa kategori yaitu PDP (Pasien dalam pantauan), ODP (Orang dalam pantauan), OTG (Orang tanpa gejala) dan pasien positif. Beberapa kategori tersebut tergantung berapa besar risiko penyebaran yang harus dialami terhadap penyebaran virus tersebut.
Pandemi Covid-19 memberikan efek yang sangat buruk terhadap perkembangan ekonomi secara global. Setiap orang merasakan efek yang terjadi karena penyebaran virus ini. Pandemi ini membuat perekonomian ke depannya tidak bisa diprediksi. Ada beberapa perubahan yang mengakibatkan tindakan sebelumnya tidak efisien dalam mengatasi masalah dalam proses pembelanjaan yang dilakukan oleh negara-negara di seluruh nasional, risiko terburuk pun sedang dirancang seandainya pandemi ini semakin parah dan tak bisa dibendung lagi.
Saat ini pemerintah baik dari tingkat nasional maupun daerah telah berusaha melakukan beberapa kebijakan untuk menghentikan penyebaran virus Covid-19 ini di tengah masyarakat. Kebijakan tersebut tentu tidak akan berhasil jika hanya dilakukan oleh beberapa pihak saja. Setiap orang di Indonesia harus ikut andil dalam penerapannya. Misalnya saja saat ini di beberapa daerah telah ditetapkan melakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Walau telah diinstruksikan oleh pusat dan dilaksanakan tetap saja masih ada oknum masyarakat yang melakukan aktivitas yang seharusnya dibatasi sesuai anjuran dari pemerintah. 
Di tengah pandemi Covid-19, ada beberapa tindakan yang harus disesuaikan oleh masyarakat dalam menghadapi penyebaran virus tersebut. Salah satunya adalah perkembangan teknologi digital dan informasi saat ini. Seperti yang kita tahu, pemerintah sudah menganjurkan kepada masyarakat agar menghindari kerumunan, sekolah-sekolah juga sudah diliburkan, dan beberapa tempat kerja juga sudah membatasi aktivitasnya. Pendidikan di sekolah dilakukan secara daring (dalam jaringan) yang sesuai petunjuk dinas pendidikan. Dalam pembelajaran tersebut, baik guru maupun murid diharuskan melakukan interaksi belajar mengajar agar bisa memenuhi atau setidak-tidaknya memaksimalkan kurikulum yang telah ditetapkan.
Akan tetapi kendala di lapangan membuat pelaksanaan pembelajaran digital tersebut tidak maksimal dilakukan bahkan tidak bisa mencangkup semua peserta didik. Di zaman saat ini ternyata masih ditemukan keluarga yang tidak memiliki HP Android, kalaupun punya ada masalah tidak memiliki paket, dan yang lebih parahnya sinyal tidak menjangkau di mana mereka tinggal. Memang baru-baru ini pemerintah melalui TVRI membuat beberapa program pembelajaran agar anak-anak bisa belajar di rumah. Tapi lagi-lagi, ternyata siaran TVRI tidak mencangkup ke pelosok-pelosok, sehingga masih ditemukan masyarakat yang tidak bisa mengikuti instruksi pembelajaran tersebut. 
Pemerintah juga bekerjasama dengan Ruang Guru dan Ilmupedia melalui Telkomsel dan memberikan layanan kouta gratis sebanyak 30GB. Tapi kembali ke awal, layanan tersebut tidak semuanya bisa menikmati. Di tengah pandemi ini, pemerintah dan masyarakat selain menghadapi penyebaran virus yang semakin luas juga harus menyelesaikan masalah baru yaitu memberikan layanan komunikasi yang mampu menjangkau ke desa-desa agar semua orang baik itu guru, orang tua murid, dan murid dapat mengikuti pembelajaran daring yang dirancang oleh dinas pendidikan. 
Di tengah penyebaran pandemi Covid-19, masih ada oknum-oknum tidak bertanggung jawab yang menyebarkan isu sesat atau hoax yang membuat masyarakat semakin panik. Tindakan tersebut tentu tidak patut untuk ditiru dikarenakan saat gawat darurat harusnya saling membantu dengan menyelesaikan masalah bukannya menambah masalah. Negara Indonesia sampai saat ini masih bermasalah dengan penyebaran berita hoax di negaranya, padahal jika bisa dikendalikan maka bisa membantu edukasi yang mampu memberikan pengetahuan yang harus dilakukan dalam menghadapi Covid-19. 
Karena keterbatasan teknologi, pemerintah saat ini baru sebatas menginfokan kepada masyarakat terkait jumlah penderita yang ada di negara. Pemanfaatan teknologi yang baik bisa membuat suatu sistem yang mampu memonitor setiap individu secara digital agar penyebaran virus ini dapat dilacak dan ditekan. Tracing digitalakan lebih mudah menemukan jejak penderita dan lebih efisien jika dibandingkan dilakukan secara manual. Misalnya saja jika didapatkan seseorang yang positif, maka aktivitas yang dilakukan orang tersebut bisa diprediksi di mana kemungkinan dia terjangkit dan bahkan kemungkinan dia yang secara tidak sengaja melakukan penyebaran ke mana saja.
Selain dari bidang teknologi, ada beberapa hal lain juga yang harus menyesuaikan terhadap perkembangan Covid-19 ini. Yang mana setiap satu dengan yang lainnya saling berkaitan. Misalnya kita ambil contoh dari bidang politik, September tahun ini akan ada pemilihan kepala daerah baru di beberapa wilayah dan itu terancam tidak bisa dilaksanakan. Lalu di bidang budaya, aktivitas harian masyarakat, pariwisata, dan perekonomian akan menyentuh ke tingkat sulit untuk dilaksanakan. Pemerintah harus segera melakukan tindakan yang tempat agar bisa menyesuaikan kehidupan masyarakat di tengah pandemi ini dengan mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang terukur dan 

Click to comment