Langsung ke konten utama

Sahabat Pena


Oleh Chindy Bulan Chintanur
Pelajar SMP Negeri 3 Ingin Jaya, Aceh Besar

Malam yang sunyi. Hanya suara jengkrik dan dentang jarum jam yang terdengar. Waktu sudah menunjukan pukul 00.00, aku masih terbangun dan masih ditemani sehuah telepon genggam. Bukan tanpa alasan aku berbuat seperti itu, aku ingin bisa berkomunikasi dengan sahabat. Ya, hanya dengan cara itu saat ini yang bisa dikakukan dengan mudah untuk berkomunikasi dengan sahabat yang dulu pernah menjadi sahabat pena, yang aku hubungi dengan sepucuk surat. Kini aku bisa saling bicara dan juga bisa saling menatap.

Waktu terus berjalan. Hari berganti minggu, minggu pun berganti bulan dan bulan pun berganti tahun, aku dan empat sahabat penaku belum juga bisa bertemu di dunia nyata, kecuali di dunia maya. Ingin sekali bisa bertemu langsung, bisa saling berbicara, tertawa dan bergurau bersama secara langsung. Kini hanya via whatsapp kami bisa bercerita. 

Harapanku yang selalu aku sebutkan di sepertiga malam itu, aku ingin bertemu dengan mereka. Aku terus bertanya dan bertanya, kapankah aku bisa bertemu dengan mereka. Kapan? Kapan? Pertanyaan ini terus mengawang-ngawang di pikiran. Ya, karena sudah sangat lama, sudah bertahun-tahun rasa rindu itu menyelimuti hati. Waktu yang lama dalam melawan kerasnya dunia. Aku tahu, sebenarnya mereka bukanlah orang yang terkenal. Namun di mataku mereka sangat hebat. Mereka dapat mengerti sifat dan sikapku yang terkadang tidak jelas, egois dan selalu saja ingin menang sendiri.

Empat orang hebat yang menjadi sahabatku itu adalah Halisa, Dwita, Alya dan Tira. Mereka adalah orang-orang selalu setia menemaniku. Mereka mau mendengar cerita dan bahkan celoteh-celotehku yang terkadang tidak ada manfaatnya dan tak nyambung. Namun, mereka masih tetap setia denganku. Tidak hanya dari berasal dari daerah yang berbeda, kami juga dari agama yang berbeda. Dwita, teman yang beragama Kristen dan kami dari kalangan yang beragama Islam. Namun perbedaan itu tidak membuat dan menghalangi perahabatan kami. Prinsip kami adalah perbedaaan bukanlah penghalang, seperti yang selama ini sering kita saksikan di televisi (TV), dimana banyak orang yang tidak mau menerima perbedaan. Kita merasa sedih ketika terjadi pertikaian hanya karena berbeda pendapat, baik seagama, maupun berbeda agama. Mereka hidup dalam permusuhan. Maka, aku pun berpikir, apakah aku dan Dwita harus begitu? Jelas, aku tidak ingin begitu, aku ingin bertemu dengan Dwita dalam keadaan aman dan tentram.

Rasa ingin berjumpa semakin lama semakin membuncah. Ingin sekali rasanya memeluk mereka. Ingin rasnya menyndarkan bahu di pundak mereka kala aku sedang sedih dan menangis. Itu semua sudah tidak mungkin. Aku hanya bisa berharap dan berharap. Mungkin hanya bait-bait puisi ini, yang aku gubah untuk mengenang mereka

Sahabat pena
Dear kawan
Meski wajah tak bisa bertemu
Mata tak bisa bertatap
Dan tangan tak bisa berjabatan
Namun nama kalianlah
Salah satu doa yang kumohonkan
Di pertiga malam

Jarak bukanlah halangan
Sayangku tetap mengalir
Seperti air terjun

Perbedaan bukanlah penghalang
Inilah yang selama ini kutetapkan
Kala rasa ingin bertemu datang
Andaikan kita dekat, ya andaikan

Semoga kita berempat bisa kembali bertemu, merangkai ras bahagia dalam perbedaan yang memiliki rasa kebersamaan. I love you all.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sucikan Hati Dan Jiwa Dengan Berkurban

  Oleh Cut Putri Alyanur Berdomisili di Jakarta    Tanggal 10 Djulhijjah 1442 Hijriah, bertepatan dengan tanggal 20 Juli 2021. Umat Islam di seluruh dunia, merayakan Hari Raya Idul Adha dengan penuh sukacita. Suara takbir, menggema di setiap penjuru Nusantara, walau di beberapa tempat, Idul Adha di arah kan oleh Pemerintah Indonesia untuk di rayakan di rumah saja. Begitupun dengan kami, masyarakat Aceh perantauan yang melaksanakan Idul Adha, di Jakarta. Pandemi Covid-19, hingga saat ini tak mau berkompromi, meski penyebarannya sudah memasuki tahun ke – 2, sejak bulan  Maret tahun 2021. Hari Raya Idul Adha juga senada dengan pelaksanaan kurban, dan menjadi sangat berharga bila kedua ritual ibadah ini, bisa dilakukan saat menunaikan ibadah rukun Islam yang ke – 5, berhaji ke Baitullah. Bila sedang tidak berhaji pun, ibadah kurban sangat mulia untuk di laksanakan, guna meningkatkan keimanan dan kepekaan sosial terhadap sesama. Berkurban berarti meneladani ketaatan yang di lakukan oleh Nab

EMPAT CARA MENSYUKURI NIKMAT ALLAH SWT

Foto : dok.Pribadi Oleh   Hendra Gunawan, MA Dosen Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum IAIN Padang Sidimpuan, Sumatera Utara Allah SWT sudah begitu banyak memberikan nikmat-Nya kepada kita, sehingga apabila kita renungi lebih dalam maka sungguh akan terekam dalam memori kita sudah begitu banyak nikmat yang Allah SWT anugrahkan kepada kita, maka tidak heran apabila dalam sebuah ayat al-Qur’an Allah SWT menegaskan pada surah an-Nahl ayat 18 yang menegaskan bahwa apabila kita menghitung-hitung nikmat Allah SWT niscaya kita tidak dapat menghitung jumlahnya . Sebagaimana disebutkan para ulama, andaikan ranting-ranting kayu yang ada di seluruh hutan belantara dikumpulkan dan dijadikan sebagai pena, lalu sungai dan lautan yang ada didunia ditimbah untuk dijadikan sebagai tintanya serta dedaunan-dedaunan yang ada diseluruh pnjuruh dunia dikumpulkan untuk dijadikan sebagai kertasnya niscaya kita akan cukup untuk menghitung nikmat-nikmat yang telah dianugrahkan Allah SWT kepada kita.

DUTA WISATA BIREUN BERWISATA ARUNG JERAM DI KRUENG PEUSANGAN

Bireun, Potretonline.com. Rabu (24/7/19) Duta Wisata Kabupaten Bireuen 2019 didampingi Rizal Fahmi selaku Ketua Ikatan Duta Wisata Kabupaten Bireuen baru saja melakukan kegiatan arung jeram bersama team Bentang Adventure. Bentang adventure merupakan operator wisata yang digagas oleh pemuda-pemuda Bireuen yang peduli terhadap lingkungan, alam serta potensinya. Salah satu potensi alam tersebut adalah arung jeram. Kegiatan arung jeram ini dilakukan sebagai bentuk dukungan penuh Duta Wisata terhadap potensi wisata yang ada di Kabupaten Bireuen. Lokasi arung jeram ini berada di Daerah Aliran Sungai (DAS) Peusangan Kecamatan Juli. Jalur pengarungan ini memakan waktu selama lebih kurang empat jam, yang kemudian berakhir di desa Salah Sirong. Tidak hanya arus sungai yang menjadi daya tarik arung jeram ini, karena jika beruntung kita juga akan menjumpai langsung gajah liar yang sedang bermain di samping aliran sungai.  Cut Rizka Kamila selaku Duta Wisata terpilih 2019 me