Langsung ke konten utama

TKI Tamiang Kabur dari Malaysia


Banda Aceh- Delapan TKI asal Aceh Tamiang tadi malam, Jumat (16/11/2018) sekira pukul 23.00 WIB, tiba di Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM) Aceh Besar setelah diterbangkan dari Pontianak menggunakan maskapai Lion Air. Kepulangan mereka disambut langsung oleh Kepala Dinas Sosial Aceh Drs Alhudri MM bersama rombongan, Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI) Aceh dan Staf Anggota DPD RI Sudirman atau akrap disapa Haji Uma.
Ke delapan TKI ini merupakan korban penipuan agen yang terlantar di Entikong Kalimantan Barat, setelah melarikan diri dari sebuah perusahaan sawit di pedalaman Kota Miri, Serawak, Malaysia. Bekerja sebagai buruh dodos sawit, mereka dijanjikan akan mendapat upah 4000 ringgit setiap satu tandan sawit yang didodos, namun yang mereka terima hanya 500 ringgit.
“Kami lari karena tidak tahan lagi bekerja di sana, gaji kami 500 ringgit satu tandan itu pun belum potong uang makan dan sebagainya. Padahal sebelumnya kami dijanjikan satu tandan sawit 4000 ringgit,” kata Anno (40), salah seorang dari delapan TKI  saat ditemuai awak media di Bandara SIM.
Anno mengungkapkan, mereka diiming-imingi oleh agen upah yang menggiurkan jika mau bekerja di Malaysia, sehingga mereka kepincut untuk pergi kononlagi biaya keberangkatan mereka ditanggung oleh sang agen.
Setelah sebulan bekerja, mereka baru sadar bahwa telah menjadi korban penipuan, karena upah yang mereka terima tidak sesuai janji,  dan setelah dipotong biaya makan dan rokok sisa yang mereka peroleh hanya 100 atau 150 ringgit. Kendatipun demikian, mereka tetap memilih bertahan hingga bulan ke tiga, ternyata upah yang mereka terima juga tidak ada peningkatan.
“Kalau cuma segitu upahnya, maka tidak ada sisa yang bisa kami kirim ke rumah untuk keluarga kami. Akhirnya sepakat kami untuk kabur, sementara paspor kami masih ditahan oleh perusahaan,” katanya.
Dalam pelarian, mereka harus melewati hutan belantara dari tempat mereka bekerja dengan memakan waktu sampai 15 jam berjlan kaki untuk dapat bertemu dengan jalan yang dilalui angkutan umum.
“Kemdian kami menumpang bus lewat menuju ke perbatasan. Setelah itu berjalan kaki lagi hingga seminggu baru kemudian sampai ke perbatasan Entikong, Kalimantan Barat,” ungkapnya.
Menurut Anno, dia bersama tujuh rekannya lagi tidak berangkat bersamaan ke Malaysia. Mereka berangkat dengan passport melancong dan bertemu di tempat kerja, namun ke semuanya diberangkatkan oleh agen yang sama yang menemui mereka ke desa mereka. 
“Kami tidak pergi bersamaan, tapi semunya berangkat di bulan 7 (Juli) 2018,” beber Anno.
Sementara itu Kepala Dinas Sosial Aceh Drs Alhudri MM mengatakan, sebelumnya mereka mendapat informasi ke delapan TKI tersebut terdampat di Entikong dan diamankan oleh pihak Polsek setempat setelah melarikan diri dari Serawak, Malaysia. Informasi tersebut juga didapatkan dari Anggota DPD RI asal, Aceh Sudirman atau Haji Uma. Kemudian Pemerintah Aceh melalui Dinas Sosial Aceh bekoordinasi dengan BP3TKI Pontianak yang kemudian memulangkan mereka ke Aceh.
“Untuk mala mini mereka akan kita iinapkan dulu di Lembaga Penyelenggaraan Kesejahteraan Sosial (LPKS) milik Dinas Sosial Aceh, setelah itu baru kita pulangkan ke kampung halaman mereka di Aceh Tamiang,” ujarnya.[]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

EMPAT CARA MENSYUKURI NIKMAT ALLAH SWT

Foto : dok.Pribadi Oleh   Hendra Gunawan, MA Dosen Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum IAIN Padang Sidimpuan, Sumatera Utara Allah SWT sudah begitu banyak memberikan nikmat-Nya kepada kita, sehingga apabila kita renungi lebih dalam maka sungguh akan terekam dalam memori kita sudah begitu banyak nikmat yang Allah SWT anugrahkan kepada kita, maka tidak heran apabila dalam sebuah ayat al-Qur’an Allah SWT menegaskan pada surah an-Nahl ayat 18 yang menegaskan bahwa apabila kita menghitung-hitung nikmat Allah SWT niscaya kita tidak dapat menghitung jumlahnya . Sebagaimana disebutkan para ulama, andaikan ranting-ranting kayu yang ada di seluruh hutan belantara dikumpulkan dan dijadikan sebagai pena, lalu sungai dan lautan yang ada didunia ditimbah untuk dijadikan sebagai tintanya serta dedaunan-dedaunan yang ada diseluruh pnjuruh dunia dikumpulkan untuk dijadikan sebagai kertasnya niscaya kita akan cukup untuk menghitung nikmat-nikmat yang telah dianugrahkan Allah SWT kepada kita.

DUTA WISATA BIREUN BERWISATA ARUNG JERAM DI KRUENG PEUSANGAN

Bireun, Potretonline.com. Rabu (24/7/19) Duta Wisata Kabupaten Bireuen 2019 didampingi Rizal Fahmi selaku Ketua Ikatan Duta Wisata Kabupaten Bireuen baru saja melakukan kegiatan arung jeram bersama team Bentang Adventure. Bentang adventure merupakan operator wisata yang digagas oleh pemuda-pemuda Bireuen yang peduli terhadap lingkungan, alam serta potensinya. Salah satu potensi alam tersebut adalah arung jeram. Kegiatan arung jeram ini dilakukan sebagai bentuk dukungan penuh Duta Wisata terhadap potensi wisata yang ada di Kabupaten Bireuen. Lokasi arung jeram ini berada di Daerah Aliran Sungai (DAS) Peusangan Kecamatan Juli. Jalur pengarungan ini memakan waktu selama lebih kurang empat jam, yang kemudian berakhir di desa Salah Sirong. Tidak hanya arus sungai yang menjadi daya tarik arung jeram ini, karena jika beruntung kita juga akan menjumpai langsung gajah liar yang sedang bermain di samping aliran sungai.  Cut Rizka Kamila selaku Duta Wisata terpilih 2019 me

Sucikan Hati Dan Jiwa Dengan Berkurban

  Oleh Cut Putri Alyanur Berdomisili di Jakarta    Tanggal 10 Djulhijjah 1442 Hijriah, bertepatan dengan tanggal 20 Juli 2021. Umat Islam di seluruh dunia, merayakan Hari Raya Idul Adha dengan penuh sukacita. Suara takbir, menggema di setiap penjuru Nusantara, walau di beberapa tempat, Idul Adha di arah kan oleh Pemerintah Indonesia untuk di rayakan di rumah saja. Begitupun dengan kami, masyarakat Aceh perantauan yang melaksanakan Idul Adha, di Jakarta. Pandemi Covid-19, hingga saat ini tak mau berkompromi, meski penyebarannya sudah memasuki tahun ke – 2, sejak bulan  Maret tahun 2021. Hari Raya Idul Adha juga senada dengan pelaksanaan kurban, dan menjadi sangat berharga bila kedua ritual ibadah ini, bisa dilakukan saat menunaikan ibadah rukun Islam yang ke – 5, berhaji ke Baitullah. Bila sedang tidak berhaji pun, ibadah kurban sangat mulia untuk di laksanakan, guna meningkatkan keimanan dan kepekaan sosial terhadap sesama. Berkurban berarti meneladani ketaatan yang di lakukan oleh Nab