Aku Punya Mau

Rate this posting:
{[["☆","★"]]}
>


Oleh Khairanil Fitri
Guru SMA Negeri 1 Bireun, Aceh

Menulis, salah satu dari empat ketrampilan berbahasa itu, sesunggunya merupakan ketrampilan berbahasa yang sangat menyenangkan. Menulis menjadi salah satu cara untuk mengekspresikan pikiran, pendapat atau bahkan mereproduksi berbagai macam informasi, pengetahun dan lainnya lewat tulisan. Karena menulis tersebut sebagai kegiatan yang menyenangkan dan membanggakan, sebenarnya banyak sekali orang di dalam masyarakat kita yang ungin menggunakan ketrampilan ini untuk berbagi informasi, pengetahuan dan ilmu pengetahuan.  Namun ketika ingin menulis, banyak hal yang menghambat. Banyak hal yang mengganjal, sehingga sulit mewujudkan tulisan.

Seringkali, ketika punya keinginan untuk menulis rintangan besar yang pertama muncul adalah tidak adanya ide atau gagasan yang akan ditulis. Padahal, ide itu adalah yang harus ada. Bagaimana bisa menulis kalau tidak ada ide? Mengawang-awang  bukan? Oleh sebab itu, kalau ingin menulis, maka hal yang harus lebih dahulu dilakukan adalah menemukan ide apa yang harus ditulis. Setelah menemukan ide, maka ide tersebut menarik untuk ditulis. 

Banyak orang yang kesulitan mencari ide, banyak pula yang mudah. Anehnya, setelah ide ditemukan, ternyata ada hal lain pula yang sering mengganjal. Seringkali, setelah ide itu muncul, kita terkendala lagi dengan kehabisan meteri yang harus digali.  Alhasil, tulisan kita tidak rampung .

Berikut ini adalah pengalaman unik yang penulis pernah hadapi ketika membaca postingan sebuah puisi teman yang ada di grup WA guru-guru bahasa Indonesia. Judul puisi itu adalah “kupinjam Resahmu” karya Mukhlis Puna. Usai membaca puisi tersebut, keajaiban pun terjadi dalam diri penulis. Ya, setelah membaca postingan puisi teman ini , muncul lah kekuatan yang luar biasa dalam diri penulis. Dalam durasi 15 menit, penulis mampu melahirkan puisi yang merupakan balasan puisi sang teman tersebut.   Inilah bait-bait puisi tersebut.:

             Kupinjam Engkau Resahku 
               Karya Khairanil Fitri 

Pada embun yang berhenti mengucur
Pada mentari yang sebentar  lagi mendongak 
Kumulai bertelanjang 
Menebar pesona luka yang menganga

Sambutlah gunung deritaku 
Yang melebihi Krakatau di selat Sunda
Kurelakan dahagaku 
Yang di sepanjang usia 
Tak pernah sirna bagai aliran darah yang terus 
Mengalir di usus yang robek 
Sambut-sambutlah 
Ambil, ambillah 
Gunung deritaku dan bagikan untuk tikus-tikus 
Berdasi yang tak pernah berhenti menagih 
Tambahan finansial 

Padahal baru sebentar melintasi got
Dan emperan yang beraroma janda 
Ditinggal mati suaminya .

Itulah puisi yang menurut penulis sendiri terasa lumanyan bagus.  Puisi ini membuat penulis merasa percaya diri. Walau seringkali, ketika ide itu muncul, kita sering tidak memanfaatkan ide yang sedang ada, lalu cendrung membiarkan ide tersebut hilang melayang entah ke mana. Padahal ide itu tidak selalu  muncul. Oleh sebab itu, ide itu sangat penting dan selayaknya ketika ide itu datang, jangan biarkan ia melayang, tetapi manfaatkanlah sekecil apa pun. Catat atau tulislah ide itu agar tidak hilang. Ingat, taka da ide, maka tidak ada tulisan.


Click to comment