POTRET Gallery

POTRET Gallery
Pusat Belanja Unik

Bersyukur Itu Lebih Baik

Rate this posting:
{[["☆","★"]]}
>

Oleh Alfia Rahmah
Pelajar kelas VII- 2 SMP Negeri 2 Unggul, Masjid Raya, Aceh Besar

Pagi hari aku terbangun dan ingin segera berangkat ke sekolah. Namun, aku belum sarapan pagi. Aku bisa akan lapar selama di sekolah nanti. Aku pun memanggil Mama dan bertanya;

Ma, Mana sarapannya Ma? Sebentar sayang, Mama sedang memasaknya, jawab Mama. Tidak berapa lama, Mama pun keluar dari dapur dengan membawa sebuah piring yang berisi telur dadar.

Mama, aku tidak mau makan ini terus.
Tapi Elina, kamu harus bersyukur. Mama, masih sanggup menyediakan dan membuat ini.
Ya, aku mau kita punya pembantu Ma, kataku.
Baiklah, jawab Mama dengan datar.

Akupun menikmati sarapan yang sudah disediakan Mama, lalu usai makan aku berangkat ke sekolah dengan diantar Mama. Aku menghabiskan waktu di sekolah hingga jam terakhir berakhir yang ditandai dengan bunyi bel pulang.

Ternyata Mama memebuhi keinginanku agar ada pembantu di rumah. Mama, menemukan seorang perempuan, yang kemudian kami panggil dengan sebutan Mbok.

Keesokan harinya, ketika aku masih tertidur, aku mendengar suara panggilan. Ternyata pembantu di rumahku yang memanggilku. “ Nona, ayo bangun. Ini mbok sudah siapkan sup buat mu”
Wah, sup? Terima kasih mbok

Tanpa terasa, waktu berlalu begitu cepat. Kini sudah seminggu pembantu di rumahku menyediakan sup. Ya, setiap pagi ia menyuguhkan sup. Tapi aku sudah mulai bosan. Aku melihat Mbok meletakan sup di meja makan. Aku mulai merasa marah. Aku pun memanggil Mama.

“ Ma, aku bisa makan sup selalu. Mengapa sup terus yang dimasak?”
Tapi, katamu, kamu suka punya pembantu. Sela Mama.
Ya, tapi masanya jangan itu saja terus. Aku mau hari ini masak sup, tapi di hari lain masak yang lain lagi.
Mama, kembali mengigatkan agar aku bersyukur. Ya, Elina, kamu harus bersyukur.
Aku, merasa kesal dan berangkat ke sekolah sendiri dengan menumpang angkot. Aku pun sampai di sekolah. Namun tidak berapa lama, aku merasa pusing dan pingsan. Tanpa kusadari, aku sudah digotong ke ruang UKS.

Aku siuman. Aku melihat ada seorang anak lagi yang pingsan, dengan pakaian yang sudah lusuh. Rupanya, ia Sifa.
Aku bertanya pada Sifa, “mengapa kamu pingsan?” Sifa pun menjawab, ia tidak sarapan pagi. Lho, mengapa tidak sarapan? Tanyaku. 
Sifa menjawab, “ Aku tidak sarapan pagi, karena kami tidak punya uang untuk membeli beras untuk dimasak. Aku tidak punya uang untuk membeli sarapan”.

Seperti kebiasaanku, aku suka marah. Lalu aku bertanya Sifa, mengapa ia tidak marah karena tidak diberikan sarapan? Sifa dengan tenang kenjawab “ Aku sadar, keluargaku tidak punya uang . Keluargaku adalah keluarga kurag mampu. Aku bisa bersekolah saja sudah syukur.

Mendengar jawaban Sifa, aku teringat dengan sikapku terhadap Mama. Apalagi, pagi ini aku sempat pingsan dan aku diantar pulang oleh seorang guru. Maka, sesampai di rumah, aku menyesali atas sikapku dan aku menangis, memeluk Mama. Aku mohon maaf kepada Mama “ Maafkan aku Mama. Aku tidak pernah bersyukur. Aku suka marah dan memaksa  Mama memenuhi keinginanku.
Ya sayang, Mama maafkan. Ingatlah Nak, bersyukur itu lebih baik.

Click to comment