Maafkanlah Aku Ayah

Rate this posting:
{[["☆","★"]]}
>

 
Dok. Imagination world.UNY

Oleh Intan Mutia
Kelas X TB 4, SMK Negeri 1 Peusangan, Bireun


Tania namaku, aku masih duduk di bangku kelas 2 SMA. Aku adalah anak yang berasal dari keluarga miskin yang hanya mempunyai seorang ayah satu-satunya yang selalu setia menemaniku membanting tulang mencari nafkah untukku. Profesi ayahku hanyalah tukang becak dayung. Bagiku perkerjaan ayahku itu adalah perkerjaan yang memalukan. Namun apalah artinya pengorbanan tersebut tidak pernah kuhargai dan aku selalu menyia-yiakan pengorbanannya selama ini. Tapi apa arti semua penyesalan ini yang selalu datang terlambat. Yang dulunya selalu ada dan selalu memberikan kasih sayang kepadaku, kini ia telah pergi untuk selama-selamanya.

Hari itu aku pulang sekolah bersama dengan teman-temanku. Saat sedang asyik berjalan melewati setiap kelas-kelas sambil diiringi suara tawa bersama dengan teman, tiba-tiba aku melihat sesosok lelaki tua sedang duduk di atas becak dayung yang sudah buruk. Lelaki itu berpakaian lusuh dan berkeringat. Ia sedang menunggu anaknya pulang dari sekolah di bawah teriknya matahari. Tatapannya selalu ke arah pintu gerbang sekolah. Mungkin, memastikan anaknya pulang dengan selamat. Ia adalah ayahku.

Aku merasa malu melihat ayah.  Dalam hatiku berkata " kenapa ayah datang ke sini?" Dengan berjalan sedikit cepat, aku berusaha menghindar dari teman-teman sebelum mereka tahu bahwa lelaki tua tersebut bukanlah ayahku. Namun semua yang kurencanakan untuk menghindari ejekan teman-teman telah sia-sia, saat aku keluar dari gerbang sekolah terdengar suara teriakan ayah  memanggilku, " nak! ayah disini nak." suara itupun terdengar pula oleh temanku dan mereka pun menertawaiku. Karena merasa malu, aku berlari sambil menangis dan tanpa memperdulikan panggilan  ayah. Aku berlari meninggalkannya.

Sesampainya di rumah, aku menangis karena merasa malu atas kejadian tadi. Dalam hatiku tertanam benih kebencian terhadap ayahku. Akupun menyalahkan ayah atas semua kejadian  tadi.  Aku  benar-benar marah pada ayah, sehingga ingin rasanya aku memarahinya dengan sebesar-besarnya amarah. Sesaat kemudian terdengar suara panggilan ayah yang memanggilku" Nak tadi kenapa kamu lari nak?. Ayah menjemputmu karena ayah tak ingin anak kesayangan ayah kepanasan!!" Aku pun menjawabnya dengan amarah " Apa ini yang namanya sayang?  Dengan becak dayung busuk, ayah menjemputku? Ayah!   Aku tidak butuh jemputan. Aku bisa pulang sendiri. Besok, ayah tidak usah jemput lagi.

Setelah semua kata-kata itu kulontarkan, tiada penyesalan dalam hatiku dan aku tak peduli akan perasaan sakit ayah atas kata-kataku tadi. Yang ada hanyalah perasaan puas hati karena telah meluapkan amarah kepada ayah.

Sejak  kejadian itu, aku tidak pernah dijemput  ayah, karena ia tak ingin anak kesayangannya merasa malu atas kehadirannya. Hari-hari terus berganti, dan pada hari itu di saat aku sedang asyik-asyik duduk di depan rumah, terlihat dari kejauhan ada seorang tukang becak yang semakin lama semakin dekat sedang tersenyum padaku dan mendekat membawa sebungkus plastik hitam di tangannya dan berbicara kepadaku dengan perasaan riang " Nak lihatlah apa yang ayah bawa untukmu " 

Aku tak memperdulikan ayah "Nak ayah bawa makanan kesukaan kamu. Makanlah nak, kamu pasti suka ayah belikan ini cuma buat kamu nak biar kamu senang!." Aku pun bertanya " Apa ini? makanan? Mengapa ayah peduli amat kepadaku? Aku tidak butuh. Aku butuh uang yang banyak dan juga kesenangan hidup kaya, bukan seperti ini. Tiap hari miskin,  tidak punya uang. Tidak punya ini, tak punya itu! Bosan hidupku kalau terus begini. Ayah carilah kerja yang menghasilkan banyak uang. Jangan hanya jadi tukang becak yang penghasilannya tak menentu. Kadang ada, kadang nggak. Kenapa sih malang bangat nasibku harus begini terus?." Dengan marah aku melangkah masuk dan menutup pintu dengan keras. Ayahku hanya bisa tertunduk dan diam membisu tak bisa berkata  apa-apa dan mengumpulkan makanan yang aku lemparkan tadi dengan air mata yang berlinang dan dengan penuh kesabaran menghadapi sifatku yang tak tahu bersyukur.

Keesokannya, saat sedang asyik-asyik duduk di kantin bersama  teman-teman menikmati jajan, tiba-tiba kami didatangi oleh  cowok yang populer di sekolah kami. Popular, karena ketampanan dan kekayaannya.  Ryan begitu namanya. Ia pun berkata " kalian  jangan lupa datang ke rumahku  malam ini, karena aku membuat pesta perayaan ulang tahun untuk memperingati hari pernikahan ayah dan ibuku. Datang ya!. Ajak semua sekalian ya biar makin rame, makin tambah seru!!."Lalu sesaat kemudian dia pergi meninggalkan tempat kami." Sepertinya aku harus ke mall, buat beli baju baru nih untuk kepestanya si Ryan.!" Iya nih kayaknya aku juga nih, soalnya aku mau beli tas dan sepatu yang indah buat ke pesta nanti malam. O ya kalau kamu Tania tidak ke mall buat beli barang keperluan nanti malam?" tanya salah satu temanku."Aku juga beli kok, tapi belum sekarang. Soalnya aku masih bisa pakai yang lama kok!"jawabku."Bilang saja kali tidak punya uang buat belanja-belanja seperti kami. Hahahahahahahaha."semua teman mengejek dan menertawakank. Akupun pergi dari teman-teman sambil menangis karena merasa malu.

Setiba di rumah, aku buru-buru mencari dan memilah-milah pakaian yang akan kupakai untuk ke pesta nanti malam. Dalam hati aku pun berkata " kenapa sih aku punya orang tua miskin dan tidak punya apa-apa?.  Sialnya hidupku." Aku pun menemukan baju yang lumayan bagus untuk kukenakan ke pesta nanti malam. Sesaat kemudian  terdengar suara pintu terbuka dan ayahku pulang, bukannya aku membawakan air untuk ayah, tapi aku malah meminta uang untuk ke pesta nanti malam" Mana uang untukku? Aku butuh uang untuk nanti malam ke pesta!"

Ayah tak punya uang nak! ayah belum dapat uang sedikitpun karena hari ini tidak ada orang yang sewa kepada ayah! maafkan ayah ya nak?" kata ayahku meminta maaf."Aku tak butuh kata maaf yang aku butuhkan uang. Aku tidak mau tahu. Pokoknya ayah harus cari uang untukku bagaimana pun itu!"gertakku dan meninggalkan ayahku begitu saja.

Malam itu pun tiba, aku telah bersiap-siap ke pesta itu dan aku siap untuk berangkat ke pesta dengan pakaian sederhana, kaki beralaskan sandal jepit, tanpa dilengkapi tas dan bermodalkan handphone  yang casingnya sudah retak, kugenggam kuat di tangan. Saat hendak keluar untuk berangkat ke pesta"Nak bolehkah ayah mengantarmu ke tempat pesta itu? Ayah takut kalau kamu pergi sendiri ke sana! Ayah tak ingin terjadi apa-apa terhadapmu. "Tidak usah, aku bisa sendiri”

Saat sedang menyusuri jalan menuju ke rumah tempat tujuanku, tiba-tiba ada sekelompok anak remaja yang melewatiku dengan sepeda motor. Ada yang duduk berdua, ada juga yang sendiri dan ada mobil pula yang melewatiku. Mereka adalah teman-temanku.Aku merasa malu untuk datang ke pesta itu karena penampilanku tidaklah sesuai, namun apalah daya temanku mengetahui aku ada datang ke pesta dan melihatku sedang berjalan sendiri. Lalu " tania........kamu datang juga....kukira nggak jadi datang...wah lihat teman-teman Tania cantik ya! dia ke pesta Ryan pakai gaun yang indah, sandal bermerek....dan lihat! dia pakai handphone canggih loh casingnya pun sangat bagus...!"Haaaahhhhhahahahahaha....."Teman-teman yang lainnya pun ikut tertawa karena penampilanku. Karena rasa malu yang tak tertahankan, aku berlari pulang ke rumah dengan menangis tersedu-sedu akibat dipermalukan oleh teman-teman dalam hati ingin rasanya kupergi jauh.

Setiba di rumah, aku melihat ayah yang tertidur pulas karena kelelahan bekerja seharian membanting tulang mencari uang untuk memenuhi kebutuhanku, namun apa peduliku. Aku marah dan membangunkan ayah dengan kasar dan berkata" Karena ayah, aku terus merasakan malu...karena ayah aku selalu mendapatkan sial. Karena ayah, aku selalu dipermalukan. Karena ayah, aku hidup miskin. Lihatlah nasib teman-temanku yang punya banyak uang, punya orang tua yang berprofesi sebagai pengusaha, punya sepeda motor, punya mobil, punya tas bagus-bagus dan segalanya. Sedang aku punya ayah miskin, tak punya uang. Aku muak dengan semua ini. Aku ingin pergi saja daripada harus tinggal dengan oang miskin seperti aya.!"lontarku tanpa henti dan kata-kata itu telah melukai hatinya dan aku tak peduli. Memang aku anak yang tidak berguna dan hanya mementingkan diri sendiri. Puas aku memarahi ayah dan aku pergi meninggalkannya sendiri dalam amarah. Namun ayahku tiada berkutik dan hanya diam akan semua kata-kataku, berderai air mata ayah menangis dan merenungi semua kata-kataku tadi sambil mengelus-ngelus dada yang hatinya berdarah dan hancur karena sikapku.

Hari telah berganti tak terasa sudah sebulan berlalu setelah kejadian itu. Aku tidak pernah berbicara dengan ayah dan tak pernah peduli akan keadaan ayahku. Ketika ayah sakit aku tak peduli, ketika ayah lelah akupun tak peduli dan pada suatu saat ayah duduk di dekatku dan berkata padaku"Nak...ada yang ingin ayah katakan kepadamu. Sebelumnya ayah ingin minta maaf kepadamu nak...ayah minta maaf karena ayah telah membuat anak kesayangan ayah satu-satunya merasa malu karena ayah dan selalu mendapat sial karena ayah...! Ayah belum bisa memberikan kamu kebahagiaan layaknya orang tua lainnya. Ayah hanya orang yang tidak bisa mewujudkan permintaanmu nak. Ayah minta maaf nak!  Suatu saat kamu pasti bisa mendapatkan semua keinginanmu. Ini ayah titipkan kunci ini kepadamu. Bukalah ruangan itu suatu saat yang kamu inginkan. Ayah berangkat kerja dulu! Assalamualaikum!"Aku tak peduli dan pergi setelah ayah berangkat kerja dan kunci pemberian ayah kubiarkan terletak di atas meja begitu saja.

Sesaat sedang menikmati perjalanan tiba-tiba terdengar suara hantaman yang sangat keras dan semua orang berlari menuju arah suara tersebut berasal. Terlihat banyak orang yang mengerumuni tempat kejadian dan di sana rupanya terjadi kecelakaan tabrakan dan salah satu korban meninggal dunia. Entah kenapa perasaan hatiku tiba-tiba merasa tidak enak dan tergerak kakiku untuk melihat dan menghampiri sekumpulan orang-orang berkerumun dan langkahku semakin cepat ketika kulihat ada sebuah becak dayung yang rusak berat dan sebuah mobil yang depannya penyok karena menghantam becak tersebut. Hatiku terus berdebar keras saat melihat itu dan aku pun telah sampai di sana dan....apa yang kulihat...seorang lelaki tua yang berlumuran darah badannya terbujur kaku dan bibirnya dihiasi senyum serta mata yang tertutup rapat seakan-akan sedang tertidur lelap dan dia bukan lain adalah ayahku. Rasanya jatung ini berhenti berdetak dan lutut terasa lemah tak mampu lagi untuk berdiri."Ayah.............."Teriakku keras dan lari ke arah  ayah yang tergeletak tak berdaya dan merangkulnya di atas pangkuanku."Ayah maafkan aku ayah...jangan tinggalkan aku...aku tak ingin ayah pergi...aku sayang pada ayah...ayah tidak boleh pergi meninggalkan aku seperti ini. Tania anak ayah, sayang pada ayah. Tania tidak malu punya ayah seperti ayah. Ayah, Tania mohon bukalah mata....!"Tapi apa daya semua penyesalan selalu datang terlambat dan aku tak bisa melakukan apapun. Yang selama ini menemaniku,menyayangiku,melindungiku dan yang selalu ada untukku kini telah pergi untuk selama-selamanya dan tak mungkin untuk kembali lagi walaupun air mata membanjiri dan penyesalan sebesar apapun yamg telah pergi takkan kembali lagi.

Waktu terus  berlalu, aku merasakan hidup hampa tanpa ayah yang dahulu selalu ada dan selalu menjagaku siang dan malam tanpa lelah. Kemudian aku teringat akan sebuah kunci pemberian almarhum ayah kepadaku. Dengan segera aku pergi ke kamar dan mencari kunci tersebu. Aku pun menemukan kunci tersebut dan segera kubuka pintu kamar yang ayah berikan kunci. Alangkah terkejutnya aku, disana telah ada barang-barang yang dahulu kuminta pada ayah sebelum ayah pergi untuk selama-selamanya.  Telah ada tas yang mahal,gaun dan pakaian yang indah,sepatu yang bermerek, handphone canggih, dan sepeda motor yang masih berbalut dengan plastik. Berderai air mataku, tak sanggup kumengenang betapa banyak perbuatan jahatku lakukan terhadap ayah dan ayah hanya membalasnya dengan senyum dan kesabaran.  Sedangkan aku tak pernah peduli akan pengorbanannya. 

Kulihat ada sepucuk surat yang diselipkan ayah di atas kotak sepatu yang berisi"Nak semoga dengan ini kamu senang dan bahagia, ayah minta maaf ya nak ayah hanya bisa memberikan sebagian barang yang kamu inginkan.  Selama ini ayah menabung uang untuk membelikan semua yang Tania inginkan, makanya ayah selalu tak punya uang saat Tania minta. Semoga semua pemberian ayah dapat berharga ya nak. Ayah rasa ayah harus pergi disaat semua keinginan putri ayah satu-satunya telah terpenuhi, supaya anak ayah tidak akan pernah merasa malu lagi dan terbebas dari sial karena ayah. Ayah sayang Tania jaga diri baik-baik ya nak. Ayah selalu menjagamu disini. Ayah tak pernah membencimu nak, hanya Tania permata hati ayah yang membuat rasa lelah ayah hilang. Ayah dan ibu akan selalu ada di dalam mimpimu nak. ayah sudah memaafkan semua kesalahan Tania yang sudah Tania lakukan. Ayah pamit nak ya.

Dalam keheningan malam, tangisku pecah tak sanggup menahan sesaknya dada ini membaca pesan terakhir ayah untukku. Selama ini ayah telah bersusah payah mencari uang untukku agar semua yang aku inginkan tewujud. Ayah aku menyesal. Aku sangat menyesal. Aku ingin meminta maaf, namun apa artinya maafku, kau telah pergi untuk selama-selamanya. Kasihmu tak pernah luntur sepanjang hidupmu. Kau tak peduli akan cacianku, akan keegoisanku. Yang kau pedulikan hanyalah kebahagiaan anakmu. Ayah sungguh besar pengorbananmu untuk keluarga. Ayah sungguh besar kasih sayangmu terhadap keluarga...
Ayah maafkan aku. Aku menyesal karena tak pernah menghargai pengorbananmu.Kau adalah pahlawanku. Kau adalah orang yang paling baik dan rela membanting tulang untuk keluargamu. Kasih dan sayangmu tiada tara.

Click to comment