POTRET Gallery

POTRET Gallery
Pusat Belanja Unik

Darurat Karakter Anak ZamanNOW, Salah Siapa?

Rate this posting:
{[["☆","★"]]}
>

Irma Suryani, S.Si, M.Pd
Guru SMA Negeri 1 Aceh Barat Daya

Pendidikan menuju abad 21 ini, pemerintah bersama seluruh stakeholderyang ada terus berbenah untuk menghasilkan anak didik yang unggul. Sehingga proses pendidikan senantiasa dievaluasi untuk memperbaiki kualitas pendidikan serta menanamkan pendidikan karakter. Anak didik yang unggul bukan hanya terbatas dari kemampuan intelektualnya, namun juga dibarengi dengan kemampuan sosial dan tentunya kemampuan emosionalnya juga. Banyak kasus yang kita lihat dan dengar, seorang anak didik sanggup membunuh guru keseniannya, hanya karena sang guru menegurnya untuk lebih tertib dalam proses pembelajaran di kelas. 
Kata darurat dimaknai sebagai salah satu yang bersifat mendesak. Mendesak dalam artinya harus segera diatasi, segera dilaksanakan dan jika tidak aka nada potensi yang membahayakan. Sesuatu dikatakan mendesak karena ada tanda-tanda yang mengharuskan suatu tindakan dilaksanakan, dapat pula waktunya sangat mepet, sehingga harus sesegera mungkin. Mengapa pendidikan karakter saat ini sangat darurat? Ada gejala-gejala yang menandakan tergerusnya karakter bangsa ini. Tanda-tanda merosotnya karakter bangsa ini dalam Barnawi dan M.Arifin (2016:12), ada sepuluh tanda zaman yang kini terjadi, yakni 1. Meningkatnya kekerasan di kalangan remaja/masyarakat; 2. Penggunaan Bahasa dan kata-kata yang memburuk/ tidak baku; 3. Pengaruh peer-group (geng) dalam tindak kekerasan menguat, seperti geng motor; 4. Meningkatnya perilaku merusak diri seperti penggunaan narkoba, alcohol dan seks bebas; 5. Semakin kaburnya pedoman moral baik dan buruk; 6. Etos kerja yang menurun; 7. Semakin rendahnya rasa hormat kepada orangtua dan guru; 8. Rendahnya rasa tanggung jawab individu dan kelompok seperti membuang sampah sembarangan, membuang bahkan membunuh bayi hasil hubungan di luar nikah, merokok sembarang tempat; 9. Budaya kebohongan/ ketidakjujuran; 10. Adanya rasa saling curiga dan kebencian antar sesama.
Fenomena rusaknya karakter akan semakin cepat ketika masyarakat pengguna teknologi tidak memahami filosofi teknologi, sehingga salah dalam memanfaatkan dan memandang nilai fungsi teknologi. Sebagai contohnya, fungsi HP yang mestinya untuk komunikasi dan menyimpan data penting, banyak oleh masyarakat digunakan untuk dokumentasi hal-hal yang bersifat privat. Karena tidak memiliki pengetahuan teknologi yang cukup, HP tersebut mudah pindah tangan sehingga datanya tersebar keman-mana. Bagi banyak siswa, nilai teknologi telah bergeser dari alat untuk memudahkan dan membuat kenyamanan hidup menjadi bagian dari prasyarat pergaulan dan simbol-simbol kelas sosial. Maka tidak mengherankan setiap ada model HP dan produk teknologi yang baru, banyak sisiwa memilikinya karena tidak ingin dibilang jadul oleh teman komunitasnya.
Dalam antaranews.com, menurut Luh Putu Ikha Widani, kehamilan yang tidak diinginkan (KTD) pada remaja menunjukkan kecenderungan yang meningkat, yakni berkisar 150.000 hingga 200.000 kasus tiap tahunnya. Kenyataan tersebut, sangatlah memprihatinkan buat kita semua sebagai salah satu bagian dari pelaku pendidikan. Dekadensi moral anak bangsa ini semakin memprihatinkan. Jika ini terus dibiarkan, bukan tidak mungkin bangsa ini nantinya akan mengalami apa yang dinamakan The lost Generation
Ada kecendrungan di dalam masyarakat untuk mengatakan bahwa terjadinya kerusakan moral dari sebuah generasi, yang semestinya bertanggung jawab adalah pendidikan, bahkan lebih khususnya adalah para guru. Moral itu erat kaitannya dengan pendidikan pembentukan karakter. Sehingga, akibat buruknya karakter anak didik yang ada, lagi-lagi yang dipersalahkan adalah lembaga pendidikan yang tidak berhasil membangun karakter yang baik. Sehingga timbullah sebuah pertanyaan, siapa yang seharusnya bertanggung jawab terhadap pendidikan pembentukan karakter anak didik atau pun remaja zaman now?
Karena banyaknya asumsi yang berkembang di masyarakat, mengenai kegagalan pembentukan karakter anak zaman Now, seolah-olah, dunia pendidikan khususnya guru sebagai pelaku pendidikanlah yang punya peranan besar terhadap kegagalan tersebut. Sehingga diharapkan melalui makalah kajian ini, bisa meluruskan dan menyeimbangkan asumsi tersebut bahwa pendidikan karakter itu sesungguhnya sebagai kebutuhan bersama pada seluruh aspek kehidupan, bukan dititik beratkan hanya di sekolah saja. 
Pendidikan karakter merupakan pendidikan yang mengajarkan hakikat karakter yang menggabungkan tiga ranah yaitu cipta, rasa dan karsa. Menurut Dharma Kesuma (2011: 23) mendefinisikan pendidikan karakter sebagai sebuah usaha untuk mendidik anak-anak agar dapat mengambil keputusan dengan bijak dan mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari, sehingga mereka dapat memberikan kontribusi yang positif kepada lingkungannya. Pendidikan memang harus menganut progresivisme dengan adaptif terhadap perkembangan zaman dan humanis dengan memberi individu bebas beraktualisasi. Namun, progresif tanpa memahami filosofi atas kemajuan dan perubahan dan kebebasan yang tanpa sadar akan tanggung jawab atas pemilihan sikapnya hanyalah akan mempercepat rusak dan hilangnya karakter.
Ringkasan beberapa penemuan penting mengenai pendidikan karakter ini diterbitkan oleh sebuah bulletin, Character Educator, yang diterbitkan oleh Character Education Partnershipyang antara lain menguraikan hasil studi Dr. Marvin Berkowitz dari University of Missouri-St. Louis, yang menunjukkan adanya peningkatan motivasi siswa sekolah dalam meraih prestasi akademik dan mereduksi perilaku negatif pada sekolah-sekolah yang menerapkan pendidikan karakter.
 Pendidikan karakter sesungguhnya sudah tercermin dalam undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional dalam Bab 2 Pasal 3 yakni pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menajadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Fenomena rusaknya karakter akan semakin cepat ketika masyarakat pengguna teknologi tidak memahami filosofi teknologi sehingga salah dalam memanfaatkan dan memandang niali fungsi teknologi. Bagi banyak anak didik, nilai teknologi telah bergeser, dari alat untuk mempermudah dan membuat kenyamanan hidup menjadi bagian dari prasyarat pergaulan dan symbol-simbol kelas sosial. Pendidikan karakter yang kita laksanakan memang tidak serta-merta akan menampakkan hasil, tetapi merupakan proses panjang. Namun pelaksanaan pendidikan karakter di negara lain dapat menjadi pemicu agar kita segera melaksanakan pendidikan karakter ini. 
1.      Ketika menginjak dewasa, anak dihadapkan pada lingkungan yang sibuk, miskin panutan, pola masyarakat yang pragmatis, hedonis, konsumtif, acuh tak acuh. Lingkungan sibuk disebabkan oleh praktik tidak taat hukum dan regulasi yang tidak tegas sehingga kesadaran masyarakat untuk melaksanakan kewajiban sangat rendah. Lingkungan yang tidak kondusif bagi pertumbuhan karakter akan semakin runyam ketika di masyarakat miskin panutan, hukum yang jungkir balik, dan ketiadaan role model  insan berkarakter dalam kehidupan masyarakat.
2.      Pada fase dewasa ketika nalar kritis mulai berkembang, individu dihadapkan pada berbagai sandiwara hukum, kebohongan publik, KKN, dan kemunafikan terstruktur, sehingga mereduksi rasa percaya pada masyarakat atas hukum, terutama pada birokrat dan pejabat publik. Masyarakat dengan mata telanjang mengamati bagaimana kekacauan hukum dalam kasus mafia pajak, kasus Bank century, kasus wisma atlet dan sederatan kasus lain yang sering berakhir tanpa kejelasan.

Berangkat dari pemaparan di atas, keluarga dan pihak sekolah memang harus ada kerja sama atau saling mengisi dalam pendidikan anak, terutama terkait khusus dalam pendidikan karakter ini. Akan tetapi, ada persoalan yang umum terjadi di kalangan masyarakat, yakni keluarga seakan tidak mempunyai cukup waktu untuk mendidik anak-anaknya. Hal ini disebabkan tingginya aktivitas orangtua di luar rumah atau sibuk bekerja. Lebih menyedihkan lagi, orangtua tidak mempunyai kesadaran untuk mendidiknya dengan dalih sudah disekolahkan, bahkan di sekolah yang mahal dan favorit. Di sinilah sesungguhnya lembaga pendidikan mempunyai tugas dan tanggung jawab yang tidak ringan.
Meskipun tidak ringan, bukan berarti tugas dan tanggung jawab ini tidak bisa dilakukan oleh pihak sekolah. Tentunya pihak sekolah juga tidak dapat bergerak sendiri dalam membangun pilar karakter yang baik pada diri sang anak didik. Jalinan hubungan dengan orangtua atau keluarga tetap harus dilakukan secara terus-menerus. Dengan demikian, timbul kesadaran dalam diri setiap orangtua untuk bersama-sama membangun pilar-pilar karakter yang baik dalam diri anak tercintanya.
Para pemerhati pendidikan dan guru, tentunya tidak sepakat jika pendidikan dianggap sebagai satu-satunya sebab terjadinya darurat atau krisis karakter anak zaman nowkarena membangun karakter anak didik bukanlah semata-mata tugas sekolah atau guru. Alangkah naif sekali jika hanya guru yang dituntut untuk mendidik anak didiknya agar menjadi generasi muda yang berkarakter baik, sementara setiap hari sang anak melihat kenyataan di rumah justru tidak sesuai dengan apa yang diterima sang anak didik di sekolah. Misalnya, anak didik dibangun karakternya untuk jujur dan hidup sederhana, namun setiap hari pula ia melihat berita korupsi yang ditayangkan di televisi dan penampilan mewahnya para pejabat negeri.
Menanggapi hal tersebut, memang benar bahwa yang bertanggung jawab terhadap terbangunnya karakter yang baik bagi para anggota masyarakat dari bangsa Indonesia ini tidak hanya lembaga pendidikan atau sekolah semata. Sekolah hanyalah satu dari tiga pilar penting dalam dunia pendidikan, yakni keluarga, sekolah dan lingkungan masyarakat. Jadi, ketiga pilar dalam pendidikan itu harus saling mendukung dalam membangun karakter yang baik.
Ketika sang anak berada si rumah atau lingkungan keluarga, orangtualah yang bertanggung jawab untuk mendampingi anak-anaknya agar bisa tumbuh dan berkembang dalam pantauan nilai-nilai yang diyakini kebenarannya. Selain berperan untuk mendampingi anak-anaknya, peran selanjutnya yaitu membimbing anak-anaknya agar tumbuh dan berkembang sesuai dengan harapan. Pada saat orangtua membimbing anak-anaknya, sudah tentu yang mesti diberikan adalah petunjuk dan nasihat untuk menempuh jalan yang baik dan benar. Dalam peran melakukan bimbingan ini, orangtua juga dituntut untuk bisa bersikap terbuka dan mampu melakukan komunikasi yang baik dengan anak-anaknya. Sehingga, anak-anak akan senang hati untuk terbuka kepada orangtuanya apabila sedang menghadapi masalah dana akan merasa nyaman untuk megutarakankan segala sesuatu yang ada dalam pikiran dan hatinya.
Peran orangtua selanjutnya adalah mendidik anak-anaknya agar berkembang menjadi generasi yang berkarakter baik. Orangtua telah mendapatkan anugerah sekaligus amanah langsung dari ALLAH berupa seorang anak. Pada saat anak belum beranjak dewasa, tentu orangtua berkewajiban untuk membimbing dan mendidik anaknya. Dikarenakan orangtua tidak bisa sepenuhnya mendidik anak-anaknya, baik karena waktu maupun pengetahuan, sebahagian orangtua menyerahkan pendidikan anaknya kepada sekolah, pesantren atau lembaga pendidikan lainnya. Namun, pada saat orangtua telah menyerahkan anaknya untuk dididik oleh sekolah atau guru, bukan berarti orangtua bisa melepaskan tanggung jawabnya sama sekali untuk mendidik anak-anaknya.
Peran orangtua yang terakhir ini adalah menjadi teladan bagi anak agar tumbuh dan berkembang dengan karakter yang baik. Sungguh, inilah hal yang sangat penting dalam dunia pendidikan. Bagi anak yang masih kecil, teladan ini dapat mencontoh dari perilaku baik yang ditujukan kepadanya. Tanpa contoh atau teladan, sang anak akan sulit melaksanakan perintah dari orangtuanya. Bagi anak yang sudah mulai menginjak remaja bahkan dewasa, teladan juga sangat penting bagi mereka. Sebab, mereka akan sulit percaya terhadap apa yang diucapkan oleh orangtuangya, kalau orangtuanya tidak menunjukkan keteladanan. Bahkan, ketidakpercayaan sang anak ini apabila sudah mencapai tingkat yang paling mengkhawatirkan, bisa memunculkan sifat antipati anak kepada orangtuanya. 
Selain orangtua yang memiliki peran dalam pembentukan karakter baik pada anak, sekolahlah yang menjadi tempat selanjutnya. Di lingkungan sekolah, pendidikan karakter harus melibatkan semua komponen pendidikan yang ada. Di antara komponen pendidikan itu ialah tujuan pengajaran, isi kurikulum pendidikan, proses belajar mengajar, pengelolaan mata pelajaran, penilaian, manajemen sekolah, kegiatan ekstrakurikuler di sekolah, perlengkapan sarana dan prasarana serta penggunaannya, dan semua yang terlibat dari kegiatan pendidikan di sebuah sekolah. Semua komponen tersebut harus dikelola dan dibangun dalam rangka pengembangan karakter yang baik.
Selanjutnya sosok yang paling penting dalam pendidikan karakter di sekolah adalah pendidik atau guru. Sungguh, sebagus apa pun konsep sebuah pendidikan karakter, tidak akan berhasil dengan baik apabila guru yang mendidik dan mengajar anak didik di sekolah tidak bisa dijadikan teladan di dalam berperilaku. Pendidikan karakter juka akan sulit meraih keberhasilan apabila semangat yang dimiliki seorang guru bukan karena cinta dengan dunia pendidikan, melainkan hanya karena butuh terhadap pekerjaan atau sekedar status sosial. Disinilah sesungguhnya guru menduduki posisi penting dalam keberhasilan pendidikan karakter di sekolah.
Mengapa guru sebagai teladan, dianggap sebagi posisi penting dalam berhasil atau tidaknya pendidikan karakter di sekolah? Karena, pendidikan karakter sesungguhnya mempunyai esensi yang sama dengan pendidikan moral dan akhlah. Kedua jenis pendidikan ini akan sangat sulit mencapai keberhasilan apabila hanya disampaikan dengan teori dan pengetahuan semata. Anak didik bisa saja kesadarannya dibangun dengan doktrin yang berulang-ulang. Namun, apabila mereka tidak menemukan teladan dalam pribadi gurunya atau bahkan kepribadian sang guru justru berlawanan dengan apa yang disampaikannya, maka akan sulit bagi anak didik menyerap pengetahuannya, apalagi terbangun kesadarannya untuk melakukan karakter yang baik tersebut.
Dengan adanya guru yang patut dijadikan teladan, pendidikan karakter akan mudah dibangun dalam sebuah lembaga pendidikan atau sekolah. Sungguh, pendidikan karakter ini sangat penting untuk diterapkan karena pendidikan karakter tidak berdiri sendiri., tetapi mendukung seluruh potensi yang dimiliki oleh anak didik. Secara psikologis dan sosial kultural, pembentukan karakter dalam diri individu dari anak-anak didik merupakn fungsi seluruh potensi individu manusia, yakni kognitif, afektif, konatif dan psikomotorik. Pembentukan karakter dalam diri individu ini akan sangat bermanfaat dalam kehidupannya di keluarga, sekolah maupun lingkungan masyarakat, saat masih bersekolah maupun setelah lulus dari jenjang pendidikan yang diikutinya.
Sehubungan dengan pertanyaan besar yang ada yaitu siapa yang seharusnya bertanggung jawab terhadap pendidikan pembentukan karakter anak didik atau pun remaja zaman now, sudah tentu jawabannya, tidak hanya sekolah atau guru saja, tetapi juga keluarga dan lingkungan masyarakat bahkan negara pun ikut andil dalam pembentukan karaktek anak didik zaman now. Ditambah lagi perkembangan komunikasi yang semakin pesat, melalui handphone, gadgetdan situs website, yang dapat menyebabkan anak didik menjadi anak yang cenderung pasif terhadap interaksi sosialnya. Semuanya harus saling mendukung dalam membangun karakter yang baik bagi anak-anak; bukan malah sebaliknya, bersama-sama membangun karakter yang buruk. Pendidikan karakter juga sulit mencapai keberhasilan apabila keluarga dan lingkungan masyarakat hanya menyerahkan kepada sekolah.
Sebagai sebuah lembaga yang dirancang sistematis, lembaga pendidikan atau sekolah memang mempunya tugas dan tanggung jawab tersendiri dalam membangun karakter yang baik bagi anak didiknya. Dalam lembaga pendidikan, sesungguhnya penting untuk mengubah orientasi pendidikan di Indonesia yang sebelumnya sangat menekankan pentingnya kecerdasan intelektual menjadi seimbang atau memperhatikan pula dengan porsi yang sama terhadap kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual. Pendidikan yang berbasis kecerdasan intelektual akan menghasilkan lulusan yang hanya memiliki prestasi dalam akademis. Hal ini yang akan diubah menjadi dengan memperhatikan pendidikan yang berbasis pada pembentukan karakter anak didik sehingga mampu bersaing, beretika dan bermoral dalam menjalin hubungan sosial di masyarakat. Sebab kesuksesan seseorang tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan intelektualnya, tetapi juga ditentukan oleh kemampuannya dalam mengelola diri dan menjalin hubungan secara sosial. Di sinilah, pentingnya pendidikan karakter bagi anak didik, karena pendidikan karakter mengembangkan diri anak didik agar tumbuh dan berkembang bersama nilai-nilai yang terkait dengan Tuhan yang Maha kuasa, diri sendiri, sesama manusia dan lingkungan kebangsaan.


Click to comment