Langsung ke konten utama

Bila Mahasiswa Malas Membaca, Mau Kemana?



 Oleh Farah Fajrina 
Mahasiswa  Jurusan Tata Busana, FKIP Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh

Mahasiswa di era digital yang serba modern ini  yang kerap disebut dengan generasi milenial sedang dilanda krisis pengetahuan alias berkepala kosong, mengapa demikian?  Mungkin pernyataan ini membuat banyak mahasiswa tersinggung, terutama mereka yang selama ini masih rajin belajar. Namun, tidak bagi mereka yang kurang belajar atau juga kurang membaca. Pernyataan ini tidak menjadi masalah bagi mereka, karena mereka tidak tahu dan tidak membaca, apalagi membaca  tulisan ini.  Jadi, selayaknya tidak perlu takut akan reaksi mereka. Namun, pernyataan di atas, sesungguhnya sangat beralasan.
Satu-satunya alasan yang bisa menjadi penyebab utama dari krisis pengetahunan atau berkepala kosong tersebut adalah karena kebanyakan mahasiswa sekarang, malas membaca. Ya, minimnya mereka membaca setiap harinya.  Bila kita tanyakan, apa yang ada mereka baca setiap hari, maka jawaban jitu adalah membaca pesan di whatsapp atau do media social. Sedangkan bacaan-bacaan yang bergizi, semakin jauh dari daftar menu bacaan merea. Pendek kata, mereka hanya sibuk mengotak- atik gadget dan tidak sedikit dari kalangan pemuda yang harusnya berintelektual tersebut malah termakan hoax
Bila kita melihat realitas social di kalangan mahasiswa saat ini, umumnya beberapa kalangan mahasiswa kini lebih tertarik mengisi waktu luang mereka dengan bersantai atau sekadar ngopi ria dengan dalih mengobrol inspirasi.  Hampir setiap hal yang dilakukan di meja kopi dan mereka mampu menghabiskan waktu berjam- jam di warung kopi sana sini.  Pertanyaan kita adalah  apa yang mereka obrolkan?  Bagaimana obrolan mereka bisa bernas dan berisi, apabila mereka semakin hari semakin jauh dari kebiasaan membaca?
Kalaupun mereka obrolan  seputar dunia politik dan kehidupan para politisi, namun apakah di tiap obrolan tersebut setiap mahasiswa tahu apa isi sebenarnya dari apa yang mereka bicarakan? Kita bisa berikan  jawabannya. Ya, hampir 75% yang mereka bicarakan hanya hoaxdan gossip yang mereka dengar dari mulut ke mulut, baik senior, dosen, maupun teman-temannya.  Padahal, kalau mereka ingin ibrolan soal politik, mereka harus banyak membaca, memahami dan, mengidientifikasi dan menganalisis serta mencari solusi terhadap topik atau hal yang mereka bicarakan tersebut. Idealnya begitu. Namun fakta membuktikan sudah semakin jauh mereka dengan aktivitas membaca yang mencerdaskan itu.
Kondisi semacam ini, selayaknya tidak dibiarkan tumbuh, karena akan membahayakan masa depan generasi ini kini dan esok. Harus ada upaya semua pihak untuk secara sadar mengajak kembali mahasiswa kepada hakikat mahasiswa. Bahwa mahasiswa itu kuliah, bukan hanya dengan datang, duduk, dengar, diam dan pulang, tanpa membaca. Mahasiswa, sesuai dengan namanya yang maha tersebut dan menjadi calon sarjana yang memiliki kekayaan ilmu, pengetahuan dan sikap yang intelek. Namun, apa mau dikata, banyak mahasiswa yang hanya datang, duduk, dengar diam dan pulang setiap hari. Sudah saatnya mahasiswa disadarkan kembali. Ajak mereka kembalo ke khitah belajar tersebut, agar mereka bisa membuka mata, dan cakrawala berfikir.
Tentu, akan ada yang bertanya, bagaimana cara membuka mata dan cakrawala mereka hingga apa yang mereka bicarakan atau diskusikan menjadi berbobot dan memiliki nilai intelektual seperti seharusnya?
Untuk menjawab hal tersebut mari kita lihat lagi ke belakang, karena jawabannya masih sama dengan zaman atau era sebelumnya yaitu “Membaca” .  Dengan membaca, kita mampu membuka jendela dunia, namun sayangnya lagi-lagi kita dihadapi pada problematika kurangnya minat membaca. Sangat miris, ketika kita dihadapkan fakta bahwa hanya ada 0,01% minat membaca di Indonesia. Indonesia menempati urutan ke-62 dari 70 negara yang disurvei (bukan 72 karena 2 negara lain yakni Malaysia dan Kazakhstan tak memenuhi kualifikasi penelitian). Ironisnya angka tersebut berbanding terbalik dengan jumlah pengguna internet yang mencapai separuh total populasi penduduk yang ada. Indonesia masih mengungguli Brazil, namun berada di bawah Yordani. Menyedihkan bukan?
Ya tentulah demikian adanya. Bila hal ini kita tanyakan pada kaum muda,, maka banyak kaum muda yang menyangkal dan berkata, bukannya tidak mau membaca, namun karena sibuk dan sebagainnya, membuat kaum muda semakin kurang membaca. Kita yakin pula bahwa banyak di antara mahaiswa ingin keluar dan mendobrak kebiasaan yang ada, namun kerap gagal dikarenakan susahnya berkomitmen dengan sesuatu yang sudah lama tak dibiasakan,bukankah ala bisa karena terbiasa?. Oleh karenanya penulis ingin membagikan sedikit tips agar membaca tidak begitu membosankan atau menyebabkan kantuk, karena kejenuhan, untuk dapat terbiasa tentunya harus kembai dibiasakan. Mungkin awalnya memang harus dipaksakan, baru setelahnya semua terasa mudah dan tak memuakkan.
Tips yang pertama yaitu luangkan waktu khusus membaca. Setiap hari, kita tentu disibukkan dengan berbagai macam ragam kesibukan,namun semua tentu memiliki waktu luang. Hanya saja, ada segelintir orang yang mampu memamfaatkan waktu luang tersebut dengan baik dan bernilai. Banyak di antaranya hanya bisa merasakan waktu tersebut tiba-tiba hilang dan mereka harus kembali pada kesibukannya masing-masing. Oleh karenanya, kini buatlah target membaca minimal 10-15 menit perhari. Bagi pemula, ketika ingin kembali menumbuhkan minat membaca, maka janganlah terburu-buru mengambil waktu yang relatif lama, hingga hitungan jam untuk membaca tiap harinya. Dikatakan demikian, karena hal tersebut dapat memicu kebosanan hingga  akan merasa lebih senang kembali menikmati waktu senggang dengan zona kenyamanan  sebelumnya.
Selanjutnya tips yang kedua yaitu memilih buku sesuai dengan kegemaran dan passion anda sendiri.  Ketika kita akan mulai membaca, jangan memilih bacaan sekadar mengikuti teman atau tren buku yang diminati sebagian orang, Kita harus punya pilihan sebdiri. Minat membaca kita hanya akan bertahan sementara, saja selanjutnya rasa jenuh pun akan kembali menggerogoti dan menghalau kita, apabila bacaan yang kita pilih tidak sesuai.
Tips yang ke tiga,  ketika membaca adalah jangan ingin cepat khatam. Hal yang kerap ditemukan pada para pembaca itu adalah menginginkan buku yang dibaca cepat selesai dengan iming iming akan membaca buku selanjutnya yang lebih menarik, hingga ia mampu menyelesaikan banyak buku dalam waktu singkat. Namun jangan salah paham, ketika hal tersebut diterapkan, maka kita cenderung tidak dapat memahami isi buku yang dibaca. Ketika membaca buku, baiknya pelan-pelan.  Kemudian dihayati apa yang dibaca hingga masuk dalam ingatan dan alam bawah sadar, seolah kita masuk ke dalam dunia yang kita  baca. Tentu saja harus dihindari membaca beberapa judul buku dalam waktu yang bersamaan, sehingga otak anda  sulit mencerna apa yang anda baca.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sucikan Hati Dan Jiwa Dengan Berkurban

  Oleh Cut Putri Alyanur Berdomisili di Jakarta    Tanggal 10 Djulhijjah 1442 Hijriah, bertepatan dengan tanggal 20 Juli 2021. Umat Islam di seluruh dunia, merayakan Hari Raya Idul Adha dengan penuh sukacita. Suara takbir, menggema di setiap penjuru Nusantara, walau di beberapa tempat, Idul Adha di arah kan oleh Pemerintah Indonesia untuk di rayakan di rumah saja. Begitupun dengan kami, masyarakat Aceh perantauan yang melaksanakan Idul Adha, di Jakarta. Pandemi Covid-19, hingga saat ini tak mau berkompromi, meski penyebarannya sudah memasuki tahun ke – 2, sejak bulan  Maret tahun 2021. Hari Raya Idul Adha juga senada dengan pelaksanaan kurban, dan menjadi sangat berharga bila kedua ritual ibadah ini, bisa dilakukan saat menunaikan ibadah rukun Islam yang ke – 5, berhaji ke Baitullah. Bila sedang tidak berhaji pun, ibadah kurban sangat mulia untuk di laksanakan, guna meningkatkan keimanan dan kepekaan sosial terhadap sesama. Berkurban berarti meneladani ketaatan yang di lakukan oleh Nab

EMPAT CARA MENSYUKURI NIKMAT ALLAH SWT

Foto : dok.Pribadi Oleh   Hendra Gunawan, MA Dosen Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum IAIN Padang Sidimpuan, Sumatera Utara Allah SWT sudah begitu banyak memberikan nikmat-Nya kepada kita, sehingga apabila kita renungi lebih dalam maka sungguh akan terekam dalam memori kita sudah begitu banyak nikmat yang Allah SWT anugrahkan kepada kita, maka tidak heran apabila dalam sebuah ayat al-Qur’an Allah SWT menegaskan pada surah an-Nahl ayat 18 yang menegaskan bahwa apabila kita menghitung-hitung nikmat Allah SWT niscaya kita tidak dapat menghitung jumlahnya . Sebagaimana disebutkan para ulama, andaikan ranting-ranting kayu yang ada di seluruh hutan belantara dikumpulkan dan dijadikan sebagai pena, lalu sungai dan lautan yang ada didunia ditimbah untuk dijadikan sebagai tintanya serta dedaunan-dedaunan yang ada diseluruh pnjuruh dunia dikumpulkan untuk dijadikan sebagai kertasnya niscaya kita akan cukup untuk menghitung nikmat-nikmat yang telah dianugrahkan Allah SWT kepada kita.

DUTA WISATA BIREUN BERWISATA ARUNG JERAM DI KRUENG PEUSANGAN

Bireun, Potretonline.com. Rabu (24/7/19) Duta Wisata Kabupaten Bireuen 2019 didampingi Rizal Fahmi selaku Ketua Ikatan Duta Wisata Kabupaten Bireuen baru saja melakukan kegiatan arung jeram bersama team Bentang Adventure. Bentang adventure merupakan operator wisata yang digagas oleh pemuda-pemuda Bireuen yang peduli terhadap lingkungan, alam serta potensinya. Salah satu potensi alam tersebut adalah arung jeram. Kegiatan arung jeram ini dilakukan sebagai bentuk dukungan penuh Duta Wisata terhadap potensi wisata yang ada di Kabupaten Bireuen. Lokasi arung jeram ini berada di Daerah Aliran Sungai (DAS) Peusangan Kecamatan Juli. Jalur pengarungan ini memakan waktu selama lebih kurang empat jam, yang kemudian berakhir di desa Salah Sirong. Tidak hanya arus sungai yang menjadi daya tarik arung jeram ini, karena jika beruntung kita juga akan menjumpai langsung gajah liar yang sedang bermain di samping aliran sungai.  Cut Rizka Kamila selaku Duta Wisata terpilih 2019 me