Langsung ke konten utama

Membakar Semangat dan Menguatkan Kapasitas Menulis 100 Siswa SMA Se Aceh



Oleh Tabrani Yunis

Salah satu hikmah dari upaya-upaya membangun gerakan literasi di Aceh  yang aku geluti selama ini adalah mendapat kesempatan untuk selalu bisa berbagi, terutama berbagi ilmu, pengetahuan, ketrampilan dan pengalaman lewat kegiatan-kegiatan  forum diskusi, workshop, seminar dan pelatihan. Kesempatan itu selalu datang, dimana ketika ada sebuah organisasi, lembaga pendidikan seperti sekolah-sekolah, bahkan Universitas serta instansi pemerintah mengadakah kegiatan sosialisasi program literasi, sekali-kali mereka mengundangku untuk menjadi fasilitator, motivator, trainer dan juga sebagai nara sumber. Sebagai salah satu contoh yang mutakhir adalah kegiatan sosialisasi Literasi ( minat baca siswa) yang merupakan program peningkatan pendidikan menengah atas dan sederajat, Dinas Pendidikan Provinsi Aceh. Kegiatan tersebut diselengarakan di hotel Madinah, di Kawasan lampriet, Banda Aceh tadi pagi.

Kegiatan yang berlangsung selama 3 hari ini, yang sudah dimulai pada tanggal 10 - 13 September 2019 ini. Aku mendapat kepercayaan untuk mengisi kegiatan tersebut selama setengah hari, sejak pukul 08.00 WIB hingga pukul 12.30 WIB. Waktu yang cukup bagus untuk bisa berbagi ilmu dan ketrampilan serta pengalaman kepada sekitar 102 siswa SMA yang tersebar di sekuruh Aceh. Sungguh sebuah kesempatan yang sangat berharga, karena forum ini adalah forum yang paling cocok dengan misi yang selama ini aku jalankan, yakni membangun kemampuan literasi anak negeri yang aku lakukan secara sukarela dan menjadi panggilan hati yang dilandasi atas keprihatinan terhadap fenonema dan bahkan realitas yang sedang terjadi yaitu krisis membaca. Ya, percaya atau tidak, generasi bangsa Indonesia kini, apakah mereka tergolong dalam kelompok generasi baby boomers, milenial, generasi maupun generasi Z,  sedang dilanda krisis membaca yang ditandai dengan semakin menurunnya minat membaca masyarakat secara umum. Membaca yang dalam konteks masyarakat Islam merupakan perintah Allah yang pertama sekali diperintahkan kepada Nabi Muhammad SAW itu, terus ditinggalkan oleh masyarakat bangsa ini. Barangkali, banyak yang tidak percaya dengan kondisi yang tengah terjadi ini.


Namun, kita bisa amati apa yang kini sedang berlangsung di tengah-tengah kehidupan masyarakat kita, terutama di kalangan pelajar dan pengajar di lembaga pendidikan kita. Kita coba saja bertanya kepada para siswa atau mahasiswa yang notabene sedang belajar menuntut ilmu di bangku sekolah atau kuliah. Apabila dalam satu ruang belajar ada 40 siswa atau mahasiswa, maka coba tanyakan meeka, apakah hari ini mereka ada membaca buku, koran, majalah atau buku pelajaran yang sedang mereka ikut di lembaga pendidikan tersebut. Jangan kaget, bila hanya satu dua atau beberapa siswa atau mahasiswa yang ada melakukan aktivitas membaca. Juga kita bisa bertanya kepada siswa atau mahasiswa yang sudah bersekolah atau kuliah hingga tiga tahun lamanya, tanyakan kepada mereka, " berapa buku yang sudah mereka baca  dengan tuntas selama mereka sekolah atau kuliah?. Sekali lagi jangan heran, kalau yang ada membaca sangat minim. Kecuali membaca pesan di whatssup. Itu bisa semua membaca. Sungguh kita merasa galau melihat realitas membaca generasi bangsa ini saat ini. Kegalauan itu tentu sangat beralasan, karena ketika semakin rendah minat membaca masyarakat kita, maka akan semakin rendah daya membaca dan upaya penyelesaian masalah ketika berhadapan dengan masalah. Bahaya lain adalah semakin mudahnya bangsa ini terpapar dengan hoaks yang beredar dengan kondisi yang semakin sulit dibendung. Seperti kata pepatah, bila begini tarah papan, akan kemana nasib bangsa ini nanti? Apakah kita akan menjadi bangsa yang maju dan cerdas, atau menjadi bangsa yang pintar, tetapi mudah dibodoh-bodohi?



Nah, sebagai bangsa yang sedang berkembang dan mengejar mimpi menjadi negara bangsa yang maju dan modern, kondisi masyarakat bangsa yang memiliki minat membaca yang rendah merupakan hambatan yang sangat besar untuk mencapai impian tersebut. Bila kondisi ini dibiarkan dan tidak diantisipasi, maka tidak dapat dipungkiri kelak bangsa ini akan menjadi bangsa yang pecundang, hidup dalam dunia yang gemilang, tetapi gelap dengan kemampuan literasi. Inikah yang kita harapkan?

Tentu saja tidak seharusnya begitu. Itulah sebabnya selama ini banyak pihak yang mulai tersadar, terbangun dari tidur panjang, bahwa kondisi kemampuan literasi bangsa yang rendah dan terus turun tersebut tidak boleh dibiarkan terus turun, tetapi harus ada upaya untuk membangun kembali kesadaran bangsa untuk kembali bangkit membangun kemampuan literasi. Oleh sebab itu, kegiatan yang dilakukan oleh Dinas Pendidikan Provinsi Aceh yang mengundang sebanyak 102 siswa dan siswi SMA dan sederajat se Aceh untuk mengikuti rangkaian acara sosialisasi literasi di hotel Madinah selama 3 hari tersebut adalah salah satu upaya untuk membakar kembali semangat mambaca, menulis atau semangat literasi di kalangan siswa, khususnya di Aceh.

Dengan membakar kembali semangat literasi 102 siswa yang ikut didampingi oleh 23 guru pendamping tersebut diharapak akan mampu meningkatkan semangat dan kapasitas para siswa dalam membaca dan sekaligus bisa ditingkatkan menjadi lebih produktif dalam bentuk karya tulis. Oleh sebab itu, pihak penyelenggara kegiatan ini menundang beberapa narasumber yang sudah memiliki pengalaman dan kapasitas yang mumpuni dalam bidang ini untuk membekali para siswa dengan langkah dan strategi untuk membakar semangat dan sekaligus meningkatkan kapasitas literasi para siswa di sekolah-sekolah, sehingga minat membaca dan kemampuan literasi para siswa akan kembali naik dan terus meningkat.















Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sucikan Hati Dan Jiwa Dengan Berkurban

  Oleh Cut Putri Alyanur Berdomisili di Jakarta    Tanggal 10 Djulhijjah 1442 Hijriah, bertepatan dengan tanggal 20 Juli 2021. Umat Islam di seluruh dunia, merayakan Hari Raya Idul Adha dengan penuh sukacita. Suara takbir, menggema di setiap penjuru Nusantara, walau di beberapa tempat, Idul Adha di arah kan oleh Pemerintah Indonesia untuk di rayakan di rumah saja. Begitupun dengan kami, masyarakat Aceh perantauan yang melaksanakan Idul Adha, di Jakarta. Pandemi Covid-19, hingga saat ini tak mau berkompromi, meski penyebarannya sudah memasuki tahun ke – 2, sejak bulan  Maret tahun 2021. Hari Raya Idul Adha juga senada dengan pelaksanaan kurban, dan menjadi sangat berharga bila kedua ritual ibadah ini, bisa dilakukan saat menunaikan ibadah rukun Islam yang ke – 5, berhaji ke Baitullah. Bila sedang tidak berhaji pun, ibadah kurban sangat mulia untuk di laksanakan, guna meningkatkan keimanan dan kepekaan sosial terhadap sesama. Berkurban berarti meneladani ketaatan yang di lakukan oleh Nab

EMPAT CARA MENSYUKURI NIKMAT ALLAH SWT

Foto : dok.Pribadi Oleh   Hendra Gunawan, MA Dosen Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum IAIN Padang Sidimpuan, Sumatera Utara Allah SWT sudah begitu banyak memberikan nikmat-Nya kepada kita, sehingga apabila kita renungi lebih dalam maka sungguh akan terekam dalam memori kita sudah begitu banyak nikmat yang Allah SWT anugrahkan kepada kita, maka tidak heran apabila dalam sebuah ayat al-Qur’an Allah SWT menegaskan pada surah an-Nahl ayat 18 yang menegaskan bahwa apabila kita menghitung-hitung nikmat Allah SWT niscaya kita tidak dapat menghitung jumlahnya . Sebagaimana disebutkan para ulama, andaikan ranting-ranting kayu yang ada di seluruh hutan belantara dikumpulkan dan dijadikan sebagai pena, lalu sungai dan lautan yang ada didunia ditimbah untuk dijadikan sebagai tintanya serta dedaunan-dedaunan yang ada diseluruh pnjuruh dunia dikumpulkan untuk dijadikan sebagai kertasnya niscaya kita akan cukup untuk menghitung nikmat-nikmat yang telah dianugrahkan Allah SWT kepada kita.

DUTA WISATA BIREUN BERWISATA ARUNG JERAM DI KRUENG PEUSANGAN

Bireun, Potretonline.com. Rabu (24/7/19) Duta Wisata Kabupaten Bireuen 2019 didampingi Rizal Fahmi selaku Ketua Ikatan Duta Wisata Kabupaten Bireuen baru saja melakukan kegiatan arung jeram bersama team Bentang Adventure. Bentang adventure merupakan operator wisata yang digagas oleh pemuda-pemuda Bireuen yang peduli terhadap lingkungan, alam serta potensinya. Salah satu potensi alam tersebut adalah arung jeram. Kegiatan arung jeram ini dilakukan sebagai bentuk dukungan penuh Duta Wisata terhadap potensi wisata yang ada di Kabupaten Bireuen. Lokasi arung jeram ini berada di Daerah Aliran Sungai (DAS) Peusangan Kecamatan Juli. Jalur pengarungan ini memakan waktu selama lebih kurang empat jam, yang kemudian berakhir di desa Salah Sirong. Tidak hanya arus sungai yang menjadi daya tarik arung jeram ini, karena jika beruntung kita juga akan menjumpai langsung gajah liar yang sedang bermain di samping aliran sungai.  Cut Rizka Kamila selaku Duta Wisata terpilih 2019 me