POTRET Gallery

Ibu Bawa Aku Pulang

Rate this posting:
{[["☆","★"]]}
>



Oleh  Fara Fajrina
Mahasiswi  Jurusan Tata Busana, FKIP Unsyiah, Darussalam, Banda Aceh

Rasaku kini kelabu, meski hari demi hari tlah berhasil kulalui tanpamu
Tapi apa kau tahu bahwa kehampaan mengisi setiap relung kalbuku
Aku rindu gelak tawamu yang  syahdu, aku rindu tatapanmu yang begitu dalam bak laut yang membiru.
Ibu bawa aku pulang…
Aku ingin makan dari nampan yang kau gunakan, aku ingin tidur di pangkuanmu yang nyaman,
Bukankah kau katakan  bahwa aku segalanya bagimu? Lantas mengapa kau terus menyiksaku dengan rindu yang menyesakkan ini? Mengapa kau biarkan jarak ini menang? Mengapa kau biarkan aku bergelut dengan waktu sendiri dalam sepi?
Ibu bawa aku pulang
Akan kuceritakan setiap kisah yang kuukir tanpa adanya dirimu di sisiku, akan kuutarakan setiap rasa yang kusimpan agar kau tahu bahwa betapa pedihnya merindu, akan kutunjukkan berbagai hal  baru yang mampu aku lakukan untuk mengukir senyum indah di raut wajah keriputmu itu.
Ibu bawa aku pulang…
Kau adalah rumahku. Kau segalanya bagiku. Jangan biarkan aku merangkak menyusuri pedihnya hidup tanpamu. Aku memang berusaha semampuku demi hal yang harus aku gapai, demi memenuhi tanggung jawab yang kupikul, tapi ibu betapa sesaknya aku ketika terjaga dari lelapku, kudapati diriku sendiri. Betapa takutnya aku ketika kejamnya hari menghampiriku dengan berjuta emosi dan luapan rasa yang terkadang membuatku meneteskan cairan bening dari mata yang kau rawat sebisamu.
Ibu bawa aku pulang, 
walau hanya sebentar aku tetap ingin berkumpul dan duduk diantara wajah wajah yang kurindukan. Tolong aku ibu. Bukankah pintaku ini sederhana? Maaf jika egois ini telah  menuntunku menuju keterpurukan,tapi ibu ini karena aku merindu sosok hadirnya dirimu. Aku rindu omelanmu yang terkadang memekakkan telingaku.
Ibu apa kau tahu bahwa hari berganti hari hingga hitungan bulanpun telah berganti tahun, namun aku tetap sulit bahkan tidak bisa membiasakan diriku tanpamu. Racikan masakan sempurnamu pun belum mampu aku tiru, manis teh yang kau tuang dengan irama cinta di pagi hari sampai kini belum mampu aku seduh dengan rasa itu, karenanya tolong bawa aku pulang ibu. Setidaknya sampai rasa rindu ini meninggalkanku sampai kejamnya waktu berhenti menghardikku atau sampai aku lupa bahwa aku harus kembali terbiasa tanpamu.

17 Oktober 2019

Click to comment