POTRET Gallery

POTRET Gallery
Pusat Belanja Unik

Bercermin dari Yang Cantik, Kenapa Tidak?

Rate this posting:
{[["☆","★"]]}
>
dok.Pribadi

Oleh Filzah Bazliya
Mahasiswa Jurusan Farmasi Tahun 2019
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Syiah Kuala

 Akhir Desember 2019,dunia digegerkan dengan penemuan virus corona (Covid-19) .Covid-19 pertama kali diidentifikasi berasal dari Wuhan, Cina. Seketika, bermunculan rumor bahwa virus ini merupakan virus yang sengaja diciptakan di laboratorium. Seorang profesor imunologi dan mikrobiologi di Scripps Research, Kristian Andersen, PhD, telah  melakukan penelitian mengenai hal ini. Hasilnya protein yang berada di luar tubuh virus sangat efektif dalam mengikat sel manusia. Jika dilihat dari struktur keseluruhan dari molekul penyusun virus Corona ,juga mengindikasikan bahwa corona berasal dari alam. Hasil dari  riset ini sekaligus mematahkan rumor yang beredar yang menyatakan bahwa Covid-19 berasal dari virus yang dibuat di laboratorium.
Covid-19 dengan cepatnya menginfeksi banyak orang. WHO telah menetapkan status Covid-19  sebagai pandemik karena penyebarannya yang sudah mencapai banyak negara dan lintas benua. Penemuan pasien positif Covid-19 di tanah air sempat membuat geger warganet. Pasalnya sejak awal Covid-19 muncul di Wuhan, tidak ditemukan satupun pasien positif Covid-19 di Indonesia . Kasus pertama di tanah air muncul pada awal maret yang  menimpa dua warga Depok, Jawa Barat. Terhitung sejak 14Maret 2020, BNPB telah menetapkan Covid-19 sebagai Bencana Nasional yang tergolong bencana non-alam . Kasus ini terus merambat hingga update terakhir per 4 April 2020,terkonfirmasi 2.092  kasus dengan 1.751 dirawat ,191 diantaranya meninggal dan 150 diantaranya dikatakan sembuh. Covid-19 dengan cepat menyerang pernapasan dan dapat menyebabkan gangguan pada sistem pernapasan, pneumonia akut, bahkan sampai menyebabkan kematian.
Saat ini kasus Covid-19 di Indonesia terus melonjak tinggi dan dapat dikatakan saat ini Indonesia mengalami masa inkubasi Covid-19. Di saat kasus Covid-19 yang terus melonjak beberapa negara di luar sana telah melakukan lockdown. Namun,Pemerintah Indonesia belum memilih lock down sebagai solusi untuk pemutusan rantai penyebaran Covid-19. Dr Dian Kusuma, seorang Epidemiologist Researcher Imperial College London,menyatakan bahwa akan lebih baik jika pemerintah Indonesia memutuskan untuk melakukan lock down sebagai solusi untuk pemutusan rantai penyebaran Covid-19. Dilansir dari kompas.com,sekitar tanggal 10 Maret 2020, Dr Dian Kusuma telah mengirimkan memo mengenai rekomendasi lockdown bagi Indonesia. Bukan tanpa alasan,upaya lock down memang terbukti ampuh untuk memutus rantai penyebaran Covid-19.
Yang terlintas di benak kita saat mendengar kata Lock down adalah lock down seperti yang dilakukan di China. Saat masa lock down,masyarakat tidak diperbolehkan beraktivitas di luar rumah. Lock down di China membuat seluruh aktivitas terhenti dan kota di Cina berubah bak kota mati. Karena panik,masyarakat berbondong-bondong memborong bahan makanan dan  stok bahan makananpun sempat menipis. Beralih dari pemikiran lock down seperti di Cina,Dr Dian Kusuma mencontohkan lock down yang dimaksud bukan seperti yang dilakukan di Cina. Misalnya saja Malaysia, yang melakukan lock down tapi sifatnya karantina parsial sehingga kebutuhan pokok, pembersihan, dan petugas kesehatan tidak berhenti. Italia juga telah melakukan lock down dan kini telah menunjukkan tanda-tanda keberhasilan mengatasi Covid-19. Dikutip dari BBC,menteri luar negeri Italia,menyatakan bahwa sejak di lock down, tidak ada lagi laporan positif Covid-19 di 10 kota dengan zona merah di Italia belahan utara.
Beranjak dari hal tersebut, Korea Selatan merupakan salah satu negara yang mempunyai strategi yang sangat cantik dalam penanganan Covid-19. Korea Selatan mampu menangani kasus Covid-19 tanpa harus meng-lock down negaranya. Korea Selatan telah melaporkan total kasus  sebanyak 8.961 dengan 111 korban jiwa, namun kasus kematiannya tidak seperti negara-negara lain. Pemerintah Korea Selatan meminta masyarakat tetap berada di rumah, menghindari keramaian, menggunakan masker dan selalu menjaga sanitasi.Dilakukan rapid testsekitar 15.000 penduduknya setiap hari dan ditambah dengan dengan membangunan jaringan laboratorium publik dan swasta, serta menyediakan puluhan pusat pemeriksaan agar penduduk yang mengalami gejala Covid-19 segera memeriksakan kesehatan mereka. Suatu kemajuan besar dari Korea Selatan karena dari kebijakan ini dilaporkan  8.961 yang terjangkit Covid-19, 3.166 di antaranya dinyatakan sembuh. Korea Selatan juga  menjalani tes yang bersifatdrive-thru,sehingga pengemudi tak harus keluar dari mobil dan cukup membuka jendela untuk diperiksa. Pasien berat dirawat di rumah sakit sedangkan pasien yang gejala ringan dirawat di rumah sakit lokal agar tidak bercampur antara pasien positif Covid-19 dengan pasien non infeksi Covid-19Produksi masker di Korea Selatan pun ditingkatkan, sehingga masyarakat tidak ada yang kekurangan APD. Pemerintah Korea Selatan secara terang-terangan memberi informasi yang terbuka kepada publik,misalnya lokasi GPS orang yang terserang Covid-19 . Hal tersebut sedikit berbanding terbalik dengan Indonesia yang sedikit tertutup mengenai lokasi pasien Covid-19. 
Dalam mengatasi kelangkaan APD Indonesia,kita dapat mencontoh Inggris. Di Inggris ,jika Kekurangan APD langsung direspon oleh National Health Service United Kingdom(NHS UK) dengan nomor telepon hotline yang aktif 24 jam. Dalam satu hari,NHS UK mampu  mengirimkan 2,6 juta masker medis dan 10.000 hand sanitizer ke fasilitas pelayanan kesehatan di London saja. Penyediaan APD juga dilakukan untuk apotek, praktek mandiri, dokter gigi,panti asuhan dan panti jompo. Namun, di balik itu semua,perlu diingat bahwa meningkatkan daya tahan tubuh ,mencuci tangan dengan sabun ,dan tetap dirumah saja terbukti lebih efektif untuk mencegah penyebaran Covid-19.

Click to comment