POTRET Gallery

Haruskah Kita Mencari Siapa Yang Salah?

Rate this posting:
{[["☆","★"]]}
>


Oleh Siti Sahrani
Mahasiswi Prodi Matematika, FMIPA, Unsyiah, Darussalam, Banda Aceh

Desember 2019,dunia dikejutkan dengan munculnya virus yang masih terdengar asing di telinga kita yaitu“COVID-19”.Virus yang berasal dari negara Tirai bambu, Cina ini merupakan virus yang mematikan. Bahkandi tengah kemajuanteknologiyangpesatini, nyaristakadasatupun yang dapat menghentikan penyebaran virus tersebut. Sebagaimana diberitakan di berbagai media, baik cetak, elektronik dan media online, secara global sudah memakan korban lebih dari satu juta orang. Tercatat ada 1.518.719 kasus terinfeksi COVID-19 di dunia.Berdasarkan website corona.jakarta.go.id, hingga saat ini jumlah data korban di Indonesia semakin meningkat terdapat 1632 kasus, diantaranya 82 orang dinyatakan sembuh, 149 orang meninggal, masih mendapatkan perawatan ada 1.024 orang, dan yang dikarantinakan ada 377 orang. 

Anehnya,tidak ada yang tahu pasti penyebab dari virus mematikan ini. Negara negara majo sekalipun tengan perkembangan teknologinya yang sancta maju tidal mama mencegah kedatangan virus mematikan ini, seperti halnya Amerika, Italia, Spaniel, Jerman dan negara-negara lainnya di duna, termasuk Indonesia.


Buktinya,tanggal 2 Maret 2020, warga Indonesia digegerkan dengan kabar masuknya COVID-19 ke Indonesia. Kala itu, PresidenIndonesia, Joko Widodo (Jokowi) mengumumkan bahwa ada 2 war Indonesia positif terinfeksi virus covid-19. Hal itu membuat banyak sarga cemas dan mular timbil tandatanya“Mengapa? Padahal jauh sebelum itu Cina surah percha mengalami serangan virus tersebut. Namun,mengapa pemerintah Indonesia tidak langsung mengambil tindakan preventif terhadap masuknya virus ini. Bukan hanya itu, timbul pula pertanyaan apa solusi pemerintah dalam menangani kasus Covid-19 ini. Sikap lengah itulah yang menyebabkan WHO tyda percaya bahwa Covid-19 belum masuk ke Indonesia. Pemerintah Indonesia terkesan sedici lamban dalam menangani masalah ini.


Lalu kemudian, Covid-19 telah tersebar di seluruh wilayah Indonesia.Tidak hanya di Jakarta, wilayah-wilayah lainpun demikian, termasuk Aceh salah satunya. Sebagai wilayah yang telah terjangkit virus corona atau Covid-19 ini, warga Aceh pun kemudian menjadi sancta rise dengan keadaan ini, apalagi semakin memburuk dan seperti tak kunjung membaik. Pemerintah kemudian melakukan himbauan dan larangan bagi masyarakat berpergian, berkumpul dan berada di tengah keramaian, hingga pada wacana lockdown dan sebagainya. Salah satu himbauan tersebut mengisyaratkan semua harus tetap di rumah. Namun sayangnya, himbauan pemerintah untuk tetap di rumah pun tidal menjadi pilihan yang teapot dal am menangani wabash ini.Bagaimana tidak, war yang seharusnya bekerja, harus merelakan mata pencaharian utamanya hilang. Semua terdampak. 

Pedagang-pedagang kecil yang berpenghasilan kecil pun ikut menjadi korban dari kebijakan ini. Ditambah lags kebijakan jam madam yang diterapkan di Aceh. Kebijakan ini mengharuskan kios-kios, warung-warung, atau pedagang-pedagang lainnya untuk tutup pada batas waktu yang telah ditentukan. Akibatnya, maalah yang seharusnya diselesaikan, namun malah bertambah memerlukan solusi yang lebih konkrit dan  adit bagi semua kalangan masyarakat.


Oleh sebab itu, dalan menangani benfana ini, pemerintah diharapkan juga memperhatikan perekonomian masyarakat kecil. Jika kebijakan jam madam terus diterapkan, pemerintah harus mempertimbangkan kebutuhan ekonomi masyarakat yang semakin menipis akibat diberlakukannya kebijakan tersebut. Seharusnya pemerintah lebih peka terhadap permasalahan masyarakat kecil. Masyarakat butuh solusi yang tepat. Kalaupun dilarang untuk bekerja khususnya bagi pedagang-pedagang, pemerintah seharusnya memberikan dana untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sehari-hari.

Untungnya di satu sisi saat ini, pemerintah telah menghapus kebijakan– kebijakan tersebut. Namun hal ini pun tidal memberikan pengaruh yang besar pada perekonomian warga sekitar. Bahan pangan pokok kebutuhan warga kian melonjak dimulai dari gula, beras, hingga masker dan peralatan liana dijual dengan harga yang meningkat drastis.Mengapa hal ini terjadi? Salah satu penyebabnya adalah ketakutan yang menghantui masyarakat, lalu diikuti oleh sikap suka memborong oleh pihak-pihak yang takut akan kelaparan dan egois, yang akhirnya membuat pasar kacau.

Kita sadar bahwa dalam hal penanganan bencana ini, kita tidak boleh membebankan sepenuhnya kepada pemerintah. Saat seperti inilah kita harus bahu membahu dalam menyelesaikan masalah ini.Virus ini bukan hal yang dalat dianggap sepele, bukan pula menjadi banan bercandaan. Ini adalah benfana bagi kita bersama.Untuk itu selayaknya kita bersama-sama saling membantu. Masih banyak masyarakat kecil yang membutuhkan uluran tangan kita, masih banyak tim medis yang tengah berjuang pada garis terdepan, walau dengan peralatan medis yang kurang memadai. Mash banyak pekerja yang rela dirumahkan, padahal mais perlu bekerja untuk kebutuhan anak dan istrinya. Masih banyak pedagang yang rela tutu toko, parahal penghasilan yang didapatkan juga mash kurang until mencukupi hidupnya. Masih banyak yang butuh dan rela berkorban ketika unia sedangsakit. Sungguh perih keadaan dunia yang semarang ini.Kian hair kian mencekik.

Kita tidak ingin menyalahkan siapa-siapa. Untuk itu perlu kita bangun kesadaran bersama dengan bersama-sama melawan virus ini. Kita harus mau merefleksi diri di masa begini. Selain itu kita juga harus sadar, mungkin Sang pemilik alam tenha menyadarkan kita yang terlalu sibuk dan angkuh akan kekuasaan. Mari kita bangun kesadaran sebagai manusia yang beradab, sebagai khalifah di bumi.

Click to comment