Korona Menyerang, Rakyat Kecil Mengerang

Rate this posting:
{[["☆","★"]]}
>
dok.Pribadi

Oleh: Halwa Huriya Wanda
Mahasiswa Jurusan Farmasi Angkatan 2019
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Syiah Kuala

Saat ini, surat kabar, sosial media, internet, televisi dan media lainnya di seluruh dunia sedang hangatnya membicarakan covid19 yang disebabkan virus bernama 2019-nCoV. Virus ini masih satu keluarga dengan SARS dan MERS yang dalam sejarahnya juga pernah menghebohkan dunia. Saat ini, Indonesia pun tak luput dari serangan virus ini. Sama halnya dengan negara-negara lain yang terkena pandemi ini, pemerintah telah melakukan upaya-upaya untuk mengatasi virus ini dan salah satunya dengan social distancing.
Presiden Joko Widodo menghimbau warga agar dapat belajar di rumah dan  bekerja dari rumah. Ya, ada sedikit kejanggalan disini. Data dari BPS tahun 2019 menyatakan bahwa jumlah orang yang bekerja di Indonesia tercatat sebanyak 129.366.192 orang dan semuanya punya pekerjaan yang beragam. Masyarakat kita bukan hanya bekerja sebagai pekerja kantoran, tenaga pengajar, dan PNS lainnya, tetapi juga ada yang kerja serabutan, buruh dan pedagang kecil yang tentu saja berpenghasilan tidak tetap. Alasan itulah yang terpaksa membuat mereka tidak dapat menuruti himbauan pemerintah tersebut.
Tentu saja, social distancingini sangat berdampak bagi kehidupan mereka dan orang yang ditanggungnya. Biaya makan sehari-hari mereka tergantung pada uang yang didapat dari hasil kerja setiap harinya. Bisa dibayangkan, jika sehari saja tidak bekerja, maka tidak akan ada makanan yang tersaji untuk diri sendiri maupun keluarganya. Para driver ojek online (ojol) misalnya. Mereka mau tidak mau akan sangat merasakan dampak dari social distancing, terutama bagi driver ojol yang berada di kota besar seperti Jakarta. 
Ojek online memang merupakan transportasi umum yang sedang naik daun dan diminati banyak warga.  Saat ini, saat semua orang dianjurkan untuk tetap berada di rumah, sekolah dan kantor diliburkan, seakan merupakan tamparan keras bagi para driver ojol yang menggantungkan hidupnya disini. Hal ini juga dirasakan oleh para sopir angkutan umum lainnya. Selain itu, para buruh pun akan merasakan hal yang sama. 
Ada dua kemungkinan yang terjadi pada para buruh, yang pertama adalah perusahaan tempat mereka bekerja terpaksa menghentikan produksi sementara karena harga barang-barang banyak yang tidak terdistribusi ke pasar karena tidak banyak konsumen, sehingga para buruh pun berhenti bekerja. Yang kedua adalah perusahaan memang menghentikan proses produksi dan meliburkan pekerjanya oleh karena social distancing yang mau tidak mau harus dilakukan. Kedua hal ini pun akan berujung pada resiko terjadinya PHK pekerja. 
Dilansir dari CNN Indonesia (03/4), Disnakertrans DKI Jakartamenyatakan bahwa 3611 pekerja dari 602 perusahaan telah di PHK dan 21.797 pekerja dirumahkan, tapi tidak menerima gaji. Hal ini cukup menjadi peringatan bagi pemerintah dan kita sebagai masyarakat untuk dapat terus memikirkan upaya apa yang seharusnya dijalankan agar masalah seperti ini tidak terus terjadi selama covid19 ini. 
Permasalahan seperti ini tentu saja tidak hanya menimpa Indonesia, tetapi juga hampir seluruh negara penderita covid19. Pemerintah negara lain sudah sangat gencar mengeluarkan kebijakan ekonomi sementara agar rakyatnya tidak terkena dampak perekonomian yang begitu kentara. Dilansir dari Tempo.co, Australia salah satu dari banyak negara yang meluncurkan strategi jitu ekonomi. Pemerintah Australia menetapkan hibernasi ekonomi, yaitu berusaha menidurkan aktifitas ekonominya. Lalu selama itu berlansung, mereka memberikan bantuan langsung kepada para pekerja yang tidak dapat bekerja selama virus corona ini masih menyerang. 
Sebenarnya, pemerintah kita telah melakukan upaya untuk mengendalikan situasi ini. Di antaranya yang telah ditetapkan adalah diberikannya keringanan pembayaran kredit selama satu tahun berupa penundaan pembayaran pokok dan bunga untuk semua skema KUR serta stimulus kredit di bawah Rp 10 miliar. Ini ditujukan kepada pekerja yang berpenghasilan harian seperti yang sudah dibahas sebelumnya. Upaya ini memang merupakan upaya penanganan yang efektif mengatasi masalah ini dalam jangka panjang. Namun, bagaimana dengan perkara jangka pendek seperti ‘mau makan apa besok’ dan apakah bantuan ini benar-benar dapat dijangkau oleh semua pekerja yang bernasib sama di Indonesia. Sebaiknya, mereka harus diberikan subsidi langsung terkait akan hal ini, agar kebutuhan pangan sehari-hari mereka dapat teratasi. Apa mau dikata, kita memang harus menelan kenyataan bahwa kita ‘terlambat’ dalam penanganan corona. Padahal, jika kita waspada dari awal, masalah ekonomi dan penyebaran virus ini tidak akan serunyam sekarang.
Akan tetapi, kita dapat bersama memikirkan solusi. Tidak hanya pemerintah, kita sebagai masyarakat pun dapat membantu negara ini. Misalnya, dengan saling berbagi memberikan bantuan dan donasi. Minimal kita dapat menghubungi relawan covid19 yang ada di sekitar tempat tinggal kita masing-masing agar semua bantuan dapat tersalurkan secara merata. Karena permasalahan ini adalah permasalahan bersama tidak hanya pemerintah saja yang berjuang, kita sebagai masyarakat juga harus bisa turut ambil bagian dalam upaya penanganan bencana ini.
Hal lain yang dapat kita lakukan adalah dengan tidak terlalu cemas dan khawatir berlebihan karena itu dapat menurunkan imunitas tubuh kita. Tetap sebar pikiran positif  dan saling mengingatkan. Ingatlah bahwa saat ini pun kita harus tetap menjunjung tinggi budaya gotong royong kita. Pemerintah memikirkan upaya dan membuat kebijakan, tim medis yang mengobati pasien, dan kita sebagai masyarakat harus percaya dan bantu pemerintah dengan tetap di rumah sebisa mungkin.

Click to comment