Langsung ke konten utama

Menyibak Dampak Kebakaran Hutan


dok. National Geographic Indonesia


Oleh METI KARMILA,

Mahasiswi jurusan Matematika FMIPA Unsyiah, Darussalam, Banda Aceh

Indonesia adalah negara yang kaya raya dengan potensi kekayaan alamnya sangat luar biasa, baik sumber alam hayati ataupun nonhayati. Di samping itu Indonesia juga memiliki hutan yang sangat luas yang menjadi habitat flora,fauna dan menghasilkan keunikan yang tidak didapatkan di negara lain. 

Namun kejadian Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Indonesia pada tahun 2019 dan sebelumnya, sangat disayangkan. Kebakaran tersebut memicu munculnya kabut asap dan hampir merata menyelimuti sebagian Indonesia, Malaysia dan Singapura. Selain karena faktor cuaca, kobaran api juga dihasilkan dari metode pembakaran hutan ilegal yang dilakukan oleh oknum yang tidak bertanggungjawab.Tindakan manusia dalam kebakaran hutan dan lahan jelas lebih tinggi proporsinya. Manusia modern membuka hutan dengan ceroboh. Dahulu, ketika masyarakat adat tinggal di hutan-hutan, mereka melakukan perladangan berotasi. Mereka membakar hutan untuk membuka lahan, dan memanen rabuk buat tanaman mereka. Tak pernah terdengar kasus hutan terbakar lantaran mereka. Tetapi, ketika modernisasi pengelolaan hutan dilakukan, HPH masuk ke tanah-tanah adat maupun tanah yang tak bertuan, transmigrasi merambah hutan, bencana kebakaran mulai terjadi. Lebih buruk lagi, ketika hutan-hutan dibuka untuk pencetakan sawah, untuk pertambangan, dan untuk perkebunan, bencana kebakaran semakin sering terdengar. 

Sapuan si jago merah ini, mampu meluluhlantakan hutan dan lahan hingga memakan korban jiwa dan menyebabkan banyak kerugian, baik bagi masyarakat ataupun negara. Kabut asap mengakibatkan udara menjadi buruk. Bahkan menimbulkan level udara yang berbahaya di beberapa daerah. Ribuan masyarakat menderita penyakit pernapasan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dari anak-anak hingga orang dewasa. Masyarakat yang terkena paparan kabut asap mengalami batuk, pusing, sesak napas, demam hingga muntah-muntah. Siswa sekolah diliburkan, mulai dari tingkat Tk, SD, SMP, SMA hingga kampus juga turut diliburkan. 

Dikutip dari The Washington Post, Minggu (22/9), laporan Bank Dunia memperkirakan kerugian sebesar 221 triliun rupiah yang mencakup dampak pada pertanian, kehutanan, perdagangan, pariwisata, transportasi, penutupan sekolah, tanggap darurat dan penanggulangan kebakaran, serta dampak terhadap lingkungan. Efek jangka pendek dari paparan kabut asap terhadap kesehatan juga turut dipertimbangkan, tetapi tidak termasuk dalam dampak jangka panjang.Hinggga menyebabkan salah satu satwa yang dilindungi yaitu Orang Utan yang kehilangn habitat, tewas dan sebagian terluka. 

Dari studi kasus di atas, dampak kerusakan hutan sangat besar bagi manusia. Ekosistem hutan yang begitu luas sangat bermanfaat sebagai aspek biosfer bumi. Biosfer adalah sistem ekologis global yang menyatukan seluruh makhluk hidup dan hubungan antara mereka, termasuk interaksi dengan air, batuan dan udara. 

Keberadaan hutan sangatlah penting bagi keberlangsungan hidup manusia, karena salah satu manfaat hutan adalah dapat mengatur dan menstabilkan iklim yang ada. Jika hutan hilang dari muka Bumi maka akan mempengaruhi perubahan iklim dunia yang berpengaruh pada kehidupan manusia, flora maupun fauna yang ada di muka Bumi. Kebakaran hutan saja sudah merupakan bencana. Satu bencana tersebut akan menimbulkan berbagai jenis bencana lain seperti banjir dan tanah longsor. Banjir disebabkan karena sungai tidak bisa menampung banyaknya air hujan sehingga menjadi air bah yang menggenangi pemukiman di sekitar sungai. Tanah yang biasanya membantu sungai untuk menahan air sudah tidak dapat lagi menjalankan perannya.

Hal tersebut karena tidak adanya pohon- pohon yang akar- akarnya menghujam kuat ke tanah. Akar – akar pohon itu lah yang tadinya menyerap air dan menyimpan cadangan air. Pohon- pohon yang sudah mati karena terbakar tidak bisa lagi membantu tanah dan sungai untuk menahan air hujan yang jatuh ke bumi. Air hujan yang sangat deras tersebut akhirnya menjadi bencana banjir air.

Seperti yang kita ketahui bahwa hutan merupakan tempat sumber mata air. Ketika hutan terbakar, pohon- pohon mati dan tidak ada lagi yang bisa menyimpan cadangan air di dalam tanah. Jika sudah demikian, kuantitas air akan berkurang drastis dan dapat menimbulkan bencana kekeringan saat musim kemarau. Manusia akan kekurangan air untuk memenuhi kebutuhan sehari- hari, apalagi air merupakan sumber kehidupan bagi makhluk hidup.

Melihat banyaknya dampak dari kerusakan hutan, sudah seharusnya kita sama-sama menjaga hutan. Jika bukan kita siapa lagi?

Begitu buruknya dampak yang timbul akibat kebakaran hutan. Kita sebagai makhluk yang paling cerdas di bumi seharusnya bisa mengurangi kebakaran hutan, bukan malah sengaja membakar hutan untuk dijadikan lahan bercocok tanam. Menjaga hutan berarti menjaga lingkungan dan menjaga kelangsungan hidup kita sendiri. Hutan harus senantiasa dilindungi agar dapat diwariskan untuk generasi selanjutnya.

Ada banyak hal yang dapat kita lakukan dalam menjaga hutan, seperti menerapkan sistem tebang pilih, melakukan penebangan secara konservatif, menerapkan sistem tebang-tanam, menerapkan Undang-Undang lingkungan dengan tepat.Untuk menghindari bencana alam dahsyat kembali terulang, lembaganya terus mengingatkan masyarakat, termasuk melakukan pemetaan penanggulangan kebencanaan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sucikan Hati Dan Jiwa Dengan Berkurban

  Oleh Cut Putri Alyanur Berdomisili di Jakarta    Tanggal 10 Djulhijjah 1442 Hijriah, bertepatan dengan tanggal 20 Juli 2021. Umat Islam di seluruh dunia, merayakan Hari Raya Idul Adha dengan penuh sukacita. Suara takbir, menggema di setiap penjuru Nusantara, walau di beberapa tempat, Idul Adha di arah kan oleh Pemerintah Indonesia untuk di rayakan di rumah saja. Begitupun dengan kami, masyarakat Aceh perantauan yang melaksanakan Idul Adha, di Jakarta. Pandemi Covid-19, hingga saat ini tak mau berkompromi, meski penyebarannya sudah memasuki tahun ke – 2, sejak bulan  Maret tahun 2021. Hari Raya Idul Adha juga senada dengan pelaksanaan kurban, dan menjadi sangat berharga bila kedua ritual ibadah ini, bisa dilakukan saat menunaikan ibadah rukun Islam yang ke – 5, berhaji ke Baitullah. Bila sedang tidak berhaji pun, ibadah kurban sangat mulia untuk di laksanakan, guna meningkatkan keimanan dan kepekaan sosial terhadap sesama. Berkurban berarti meneladani ketaatan yang di lakukan oleh Nab

EMPAT CARA MENSYUKURI NIKMAT ALLAH SWT

Foto : dok.Pribadi Oleh   Hendra Gunawan, MA Dosen Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum IAIN Padang Sidimpuan, Sumatera Utara Allah SWT sudah begitu banyak memberikan nikmat-Nya kepada kita, sehingga apabila kita renungi lebih dalam maka sungguh akan terekam dalam memori kita sudah begitu banyak nikmat yang Allah SWT anugrahkan kepada kita, maka tidak heran apabila dalam sebuah ayat al-Qur’an Allah SWT menegaskan pada surah an-Nahl ayat 18 yang menegaskan bahwa apabila kita menghitung-hitung nikmat Allah SWT niscaya kita tidak dapat menghitung jumlahnya . Sebagaimana disebutkan para ulama, andaikan ranting-ranting kayu yang ada di seluruh hutan belantara dikumpulkan dan dijadikan sebagai pena, lalu sungai dan lautan yang ada didunia ditimbah untuk dijadikan sebagai tintanya serta dedaunan-dedaunan yang ada diseluruh pnjuruh dunia dikumpulkan untuk dijadikan sebagai kertasnya niscaya kita akan cukup untuk menghitung nikmat-nikmat yang telah dianugrahkan Allah SWT kepada kita.

DUTA WISATA BIREUN BERWISATA ARUNG JERAM DI KRUENG PEUSANGAN

Bireun, Potretonline.com. Rabu (24/7/19) Duta Wisata Kabupaten Bireuen 2019 didampingi Rizal Fahmi selaku Ketua Ikatan Duta Wisata Kabupaten Bireuen baru saja melakukan kegiatan arung jeram bersama team Bentang Adventure. Bentang adventure merupakan operator wisata yang digagas oleh pemuda-pemuda Bireuen yang peduli terhadap lingkungan, alam serta potensinya. Salah satu potensi alam tersebut adalah arung jeram. Kegiatan arung jeram ini dilakukan sebagai bentuk dukungan penuh Duta Wisata terhadap potensi wisata yang ada di Kabupaten Bireuen. Lokasi arung jeram ini berada di Daerah Aliran Sungai (DAS) Peusangan Kecamatan Juli. Jalur pengarungan ini memakan waktu selama lebih kurang empat jam, yang kemudian berakhir di desa Salah Sirong. Tidak hanya arus sungai yang menjadi daya tarik arung jeram ini, karena jika beruntung kita juga akan menjumpai langsung gajah liar yang sedang bermain di samping aliran sungai.  Cut Rizka Kamila selaku Duta Wisata terpilih 2019 me