POTRET Gallery

Permasalahan Tahunan Yang Terus Menyerang Negeri, Bagaimana Mitigasinya

Rate this posting:
{[["☆","★"]]}
>



Oleh  Ahmad Lutfan Milzam
Mahasiswa jurusan Matematika FMIPA, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh

Indonesia sebagai salah satu negara dengan jumlah penduduk yang mencapai 264 juta jiwa, merupakan negara yang seringkali ditimpa oleh berbagai bencana, baik yang disebabkan oleh alam, maupun yang terjadi karena perilaku tidak terpuji manusia. Bencana yang sering terjadi seperti banjir, tanah longsor, puting beliung, dan berbagai bencana lainnya. Menurut data dari website resmi BNPB, banjir merupakan bencana dengan frekuensi kejadian tertinggi dan telah mencapai 390 kasus di tahun 2020 ini. 

Ketika banjir melanda suatu wilayah, ada saja daerah yang terdampak dan mengalami kerugian yang cukup besar, bahkan ada beberapa daerah yang sebelumnya mengalami kerugian besar malah, mengalami kerugian yang jauh lebih parah daripada sebelumnya. Jadibagaimanaupayayang perlu dilakukan untuk menanggulangibencana ini? Mengapa masih banyak korban? Mengapa satu daerah mengalami dampak yang parah, sedangkan daerah lain malah tidak terdampak sama sekali? Apa yang salah? Apakah pemegang kebijakan kurang tegas dalam menindaklanjuti masalah ini? Ataukah memang ini murni faktor alam? 

Terjadinya banjir di Indonesia memang tidak dapat dipungkiri, tidak mungkin bisa dicegah, apalagi jika disebabkan oleh faktor utamanya, yakni curah hujan yang tinggi. Untuk itu, kita perlu meminimalisir dampaknya, karena hanya itu yang bisa kita lakukan sebagai manusia. Sebagaimana teori yang pernah disampaikan oleh salah seorang dosen mata kuliah Pengetahuan Kebencanaan dan Lingkungan, dimana bencana tidaklah diharapkan, sehingga harus kita cegah. Seandainya bencana sudah terjadi, maka pilihan kita hanya meminimalisir dampaknya serta melakukan rehabilitasi. Hal ini tidak dapat dilakukan dengan mudah, sehingga benarlah sebuah pepatah yang mengatakan bahwa mencegah itu lebih baik daripada mengobati.

Meskipun banjir seringkali disebabkan oleh curah hujan yang tinggi atau cuaca ekstrem, tetapi kita juga perlu melihat faktor lain yang dapat menyebabkan banjir, seperti banyaknya sampah yang menumpuk di daerah aliran sungai dan kurangnya daerah resapan air. Banyaknya sampah yang seringkali ditemukan di sungai membuat aliran air sungai terhambat, sehingga ketika hujan terjadi, air sungai akan lebih cepat naik ke permukaan dan perlahan-lahan merambat menuju daratan. Berkurangnya daerah tutupan pohonsebagai dampak dari peralihan fungsi lahan menyebabkan berkurangnya daerah resapan air.Selain itu, jebolnya tanggul atau waduk juga bisa menjadi penyebab banjir, namun faktor yang satu ini jarang sekali terjadi.

Banjir sebagai masalah utama yang dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia seharusnya mampu membuat masyarakat dan pemangku kebijakan dapat bersatu untuk menemukan solusi terbaik dalam menangani masalah tersebut, khususnya di daerahnya masing-masing. Ada beberapa solusi terbaik yang penulis pikirkan untuk mengatasi permasalahan banjir, yaitu :

Pertama, membuat sumur resapan di tiap rumah atau dengan adanya tandon. Dengan membuat sumur resapan atau tandon, kita bisa mememinimalisir dampak dari banjir, karena sumur ini dapat menjadi tadah air hujan sehingga dapat mememinimalisir peluang terjadinya banjir. Kedua, . Adanya early warning system.Sebelum banjir terjadi, kita memerlukan sebuah upaya pencegahan dengan sistem early warning system atau sistem peringatan dini. Dengan begitu, suatu daerah yang seringkali dilanda oleh banjir akan dapat bersiap untuk memindahkan barang-barang berharganya ke tempat yang lebih tinggi, sehingga ketika terjadi banjir pun, dampak yang ditimbulkan tidak terlalu besar.Salah satu daerah yang mulai menerapkan mitigasi ini adalah DKI Jakarta manggunakan aplikasi Jakarta Flood Early Warning System.

Ke tiga, Rehabilitasi fungsi hutan. Hutan merupakan paru-paru dunia. Dengan adanya hutan, maka hujan yang turun akan dapat diserap, sehingga peluang untuk terjadi banjir akan semakin kecil. Namun, banyak hutan yang saat ini telah dialih fungsikan sebagai tempat industri dan pemukiman sehingga daerah resapan air pun makin menipis. Hal ini tentunya bukan hal yang baik karena selain kemungkinan terjadinya banjjir semakin besar, kadar oksigen di udara juga akan berkurang sehingga terjadi polusi dimana-mana. 

Terlepas dari beberapa solusi di atas, kita juga dapat mengadopsi mitigasi yang dilakukan oleh negara-negara lain, seperti Jepang dan Malaysia. Di Jepang, pemerintah memanfaatkan ruang publik yang tersedia, seperti taman, lapangan, sekolah, bahkan pemerintah telah menerapkan suatu sistem untuk menampung banjir yang dikenal dengan istilah multipurpose retarding basin. 

Berbeda dengan Jepang, negara Malaysia yang merupakan negeri jiran memiliki cara tersendiri dalam menangani permasalahan banjir di wilayahnya yaitu dengan membuat suatu sistem pengendalian banjir yang diberi namaStormwater Management andRoad Tunnel(SMART).Sistem tersebut dikatakan mampu menampung air dalam volume kurang lebih tiga ribu kilometer kubik, yang bahkan dapat membuat banjir tidak terjadi di Kuala Lumpur.

Berbagai solusi yang telah kita dengar dan kita tahu, hanya akan menjadi sebuah teori apabila tidak adanya tindakan yang nyata, baik dari pemerintah, pihak swasta, lembaga masyarakat, maupun masyarakat itu sendiri. Intinya, kita perlu memiliki kesadaran yang tinggi dalam memitigasi setiap bencana yang ada, khusunya banjir.


* Ahmad Lutfan Milzam

Mahasiswa Matematika FMIPA Universitas Syiah Kuala













Referensi :

http://bnpb.cloud/dibi/tabel1a

Click to comment