POTRET Gallery

VIRUS CORONA? LAKUKAN SOCIAL DISTANCING!

Rate this posting:
{[["☆","★"]]}
>


Oleh Siti Maisarah 
Mahasiswi Jurusan Farmasi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Syiah Kuala di Banda Aceh

Virus corona atauSARS-CoV-2 adalah virus jenis baru yang belum diidentifikasi pada manusia sebelumnya dan dapat menyerang sistem pernapasan manusia. Sejak pertama kali virus ini terdeteksi di Wuhan, China pada Desember 2019. Wabah ini telah berkembang sangat cepat, bahkan sampai ke beberapa negara. 
Setelah wabah virus corona ditetapkan sebagai pandemi global, negara yang terkena wabah ini memberlakukan social distancing.Apa itu social distancing? Menurut Center for Disease Control (CDC), social distancing adalah tindakan menjauhi segala bentuk perkumpulan, jaga jarak antar manusia, dan menghindari berbagai pertemuan yang melibatkan banyak orang. Sedangkan menurut pakar kebijakan kesehatan Profesor Wiku Adisasmito, social distancing adalah menjaga jarak sosial sebagai bentuk usaha non-farmasi untuk mengontrol penyebaran infeksi atau wabah. Jadi, social distancing dapat diartikan sebagai tindakan pembatasan untuk mengendalikan infeksi nonfarmasi atau memperlambat penyebaran suatu penyakit menular.
‘Social distancing’, ternyata sejak dulu telah diberlakukan oleh beberapa negara pada saat terjadi pandemi, tentunya untuk menghambat laju pergerakan dan pertumbuhan virus. Seperti Amerika pada saat menghadapi pandemi influenza atau dikenal dengan flu Spanyol pada tahun 1918. Saat itu, terdapat perbedaan kebijakan dua kota di Amerika Serikat. Pejabat tinggi di Philadelphia tidak memberikan respons dengan segera. Kota tersebut tetap menyelenggarakan suatu acara yang dihadiri oleh banyak orang yaitu sekitar 200.000 orang dengan tujuan untuk mendukung Perang Dunia I. Tidak lama setelah acara tersebut, pasien penderita flu Spanyol memenuhi semua rumah sakit dan 16.000 penduduk tewas dalam jangka waktu yang singkat di kota tersebut. 
Sebaliknya, pejabat St. Louis segera memberikan respons terhadap pandemi tersebut. Kota tersebut memberlakukan social distancing dan mengadakan berbagai langkah mitigasi, antara lain pemberian edukasi kepada masyarakat, penitupan area keramaian seperti sekolah dan tempat ibadah, serta membuat larangan untuk berkumpul, tentu dengan adanya aparat keamanan untuk memastikan masyarakat di St. Louis mematuhinya. Ternyata, social distancing ini memberikan dampak yang cukup positif, yakni terhambatnya penularan virus dan transmisi infeksi. Total angka kematian akibat pandemi ini di kota tersebut hanya sekitar 4.000 orang.
Langkah yang dilakukan pemerintah China juga merupakan contoh keberhasilan dalam menerapkan social distancing dan berbagai langkah mitigasi terbesar sepanjang sejarah manusia dalam menghadapi penyakit infeksi. Untuk menghambat penyebaran Covid-19, dilakukan social distancing dan beberapa kota besar menjalani lockdown selama 2 bulan. China menutup sebuah pusat perbelanjaan hanya dalam waktu satu hari setelah pasien pertama yang bekerja di pusat perbelanjaan tersebut diduga menularkan Covid-19 ke rekan kerjanya. 
Berbagai kota di China menutup tempat hiburan, menghentikan layanan transportasi publik, dan melarang pertemuan besar sebelum ditemukannya pasien Covid-19 pertama di  kota tersebut, sehingga memiliki jumlah kasus 33,3%  lebih rendah dibandingkan berbagai kota lain yang tidak menerapkannya. Peneliti dari Jepang memperkirakan tanpa social distancing massal dan berbagai langkah mitigasi lainnya, maka sekitar 550-650 juta penduduk China akan menderita Covid-19. Namun, per 21 Maret, jumlah penderita di China hanya sekitar 81.000 kasus.
Tidak cukup hanya di China, virus corona ini memulai perjalanannya untuk mengelilingi dunia dan tidak tertutup kemungkinan ke Indonesia. Kasus positif  corona di Indonesia pertama kali diumumkan pada tanggal 2 Maret lalu. Sejak saat itu, kasus positif virus corona terus meningkat di beberapa daerah hingga saat ini. Dari CNN Indonesia, pada 29 Maret 2020, tercatat sudah 1.285 kasus postif virus corona dengan 114 orang yang tewas dan 64 orang yang sembuh. Belajar dari keberhasilan China dalam menghadapi pandemi virus corona, maka negara Indonesia juga memberlakukan social distancing bahkan lockdown daerah guna menghambat laju penularan virus. Pemerintah Indonesia menghentikan seluruh kegiatan pembelajaran di semua sekolah dan universitas, mengurangi laju mobilitas, dan larangan untuk berkumpul.
Pemberlakuan social distancing ini tentu merubah pola kehidupan masyarakat membawa berbagai dampak dalam kehidupan masyarakat, baik dampak positif maupun dampak negatif. Adanya ‘panic buying’ yang dilakukan oleh masyarakat dengan penghasilan menengah ke atas sehingga mengurangi stok kebutuhan pokok bagi masyarakat yang berpenghasilan menengah ke bawah, ekonomi yang merosot, mengurangi interaksi antar masyarakat, berkurangnya rasa solidaritas dalam masyarakat, penutupan tempat ibadah yang menimbulkan pro dan kontra dalam masyarakat, serta timbulnya rasa egoisme, depresi, bosan, panik, dan takut dalam masyarakat merupakan beberapa dampak negatif dari pemberlakuan social distancing. Terlepas dari semua dampak negatif social distancing, tentu kebijakan ini akan sangat bermanfaat dan membawa banyak dampak positif bagi masyarakat, antara lain dapat menerapkan pola hidup yang sehat, kebersihan terjaga, saling menjaga, rasa kekeluargaan yang besar, dan mengurangi penyebaran virus.
Sejak diberlakukan kebijakan social distancing ini, masih juga terdapat masyarakat yang tidak mematuhinya. Masih ada masyarakat yang melakukan aktivitas di luar rumah dan melakukan perjalanan tanpa alasan yang jelas. Kenapa hal seperti ini dapat terjadi? Ketidakpatuhan masyarakat ini dapat disebabkan karena tidak adanya peraturan dan sanksi yang tegas dari pemerintah dan juga tidak terlepas dari kurangnya kesadaran masyarakat. 
Pemerintah sebaiknya mengeluarkan peraturan yang tegas akan hal ini dan memberikan sanksi bagi masyarakat yang melanggar. Bagi masyarakat, sebaiknya ikuti semua aturan dan kebijakan dari pemerintah. Pemerintah membuat kebijakan ini tentu bukan tanpa alasan, melainkan ada alasan yang jelas dan bermanfaat bagi masyarakat itu sendiri. Tanpa kepatuhan dari masyarakat untuk melakukan social distancing, maka tujuan pemerintah tidak akan tercapai dan laju penyebaran virus terus meningkat. Akibatnya, jumlah masyarakat yang terserang virus corona akan melonjak tinggi. Dengan demikian, laju penyebaran virus corona ini hanya dapat dihambat dengan adanya kerjasama yang baik antara pemerintah dan masyarakat.  

Click to comment