Langsung ke konten utama

Patut dan Kepatutan




Oleh Ahmad Rizali
Berdomisili di  Depok 

Patut dan kepatutan itu adalah perkara etika dan sangat kontekstual, sangat tergantung ruang atau tempat dan waktu. Jika 40 Tahun  yang lalu tidak patut seorang gadis menyatakan cinta lebih dahulu kepada jejaka, saat ini patut saja. Masa itu juga tidak patut manusia Jawa berbicara kepada orang tuanya dengan bahasa ngoko, sekarang malah sudah lupa bahasa ngoko itu apa. Bahkan ada ketidakpatutan suku, perempuan Sunda tidak patut menikah dengan lelaki Jawa dan tidak patut ada jalan Gajah Mada di Bandung, sekarang biasa saja nyonya Sunda dan suami Jawa. Setidaknya sudah ada jalan Hayam Wuruk di Bandung.

Etika itu berdasar norma yang hidup dalam budaya masyarakat setempat dan seringkali adalah kearifan leluhur, namun tidak sedikit pula yang mengada ada. Indonesia sejak jaman sebelum Hindu/Budha, Islam dan Kristen masuk, jelas terjadi pergeseran kepatutan. Dari foto lama, saat itu ada beberapa daerah di Indonesia masih patut perempuan bertelanjang dada. Saat ini, hanya daerah sangat terpencil yang masih patut. Agama menyelinap ke dalam budaya setempat dan mengubah kepatutan menjadi ketidakpatutan atau patut "baru".

Jika kita telaah lagi dalam ruang dan waktu yang lebih sempit, tidak sedikit petinggi dan warga masyarakat yang menganggap tidak patut ada "dinasti politik", namun ruang dan waktu sudah berbeda, ketidakpatutan sudah menjadi kepatutan. Putra petinggi nyaris menjadi calon tunggal Walikota dan didukung orangtuanya. Warga pendukungpun menganggap patut, jika masih bertahan tidak patut tentu pengusulan pencalonan ditolak.

Sesangar sangarnya almarhum Ali Sadikin Gubernur DKI, saat itu merasa tidak patut memarahi anak buahnya di depan umum, bahkan almarhum Soeharto yang lebih sangar dan ditakuti dengan rekor kelugasan dan "kebengisan" dalam berbagai peristiwa G30S, Petrus dan lain sebagainya, tidak terdengar pernah memarahi menteri-menterinya di depan publik. Mungkin saat itu mereka anggap tak patut. Sekarang, patut saja presiden gahar akbar ke menteri-menteri yang dipilihnya sendiri dan disebarluaskan di semua media dan rakyat bertempiksorak, patut saja.

Saya belajar haqul yaqin kepatutan ini dari sahabat mantan Irjen terbaik di sebuah Kementrian yang mengatakan bahwa seringkali aturan itu dilanggar, namun ada yang masih patut dan dibiarkan, semisal "ngenthit" untuk dikumpulkan dan dibagikan saat hari raya agama dan sejumlah modus yang kadangkala juga bukan diskresi petinggi. Pantas ada kyai yang "mengaramkan" merokok untuk dirinya karena tak patut, namun membolehkan makruh (patut) untuk umatnya.

Ada manusia yang memilih ketidakpatutan untuk diri dan keluarganya, namun membiarkan (karena urusan kepatutan ini pilihan) untuk pihak lain tanpa harus selalu gaduh agar manusia lain mengikuti dirinya. Bukankah kepatutan itu sangat kontekstual, ada variabel ruang, waktu dan keinginan bebas (freewill) manusia ?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sucikan Hati Dan Jiwa Dengan Berkurban

  Oleh Cut Putri Alyanur Berdomisili di Jakarta    Tanggal 10 Djulhijjah 1442 Hijriah, bertepatan dengan tanggal 20 Juli 2021. Umat Islam di seluruh dunia, merayakan Hari Raya Idul Adha dengan penuh sukacita. Suara takbir, menggema di setiap penjuru Nusantara, walau di beberapa tempat, Idul Adha di arah kan oleh Pemerintah Indonesia untuk di rayakan di rumah saja. Begitupun dengan kami, masyarakat Aceh perantauan yang melaksanakan Idul Adha, di Jakarta. Pandemi Covid-19, hingga saat ini tak mau berkompromi, meski penyebarannya sudah memasuki tahun ke – 2, sejak bulan  Maret tahun 2021. Hari Raya Idul Adha juga senada dengan pelaksanaan kurban, dan menjadi sangat berharga bila kedua ritual ibadah ini, bisa dilakukan saat menunaikan ibadah rukun Islam yang ke – 5, berhaji ke Baitullah. Bila sedang tidak berhaji pun, ibadah kurban sangat mulia untuk di laksanakan, guna meningkatkan keimanan dan kepekaan sosial terhadap sesama. Berkurban berarti meneladani ketaatan yang di lakukan oleh Nab

EMPAT CARA MENSYUKURI NIKMAT ALLAH SWT

Foto : dok.Pribadi Oleh   Hendra Gunawan, MA Dosen Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum IAIN Padang Sidimpuan, Sumatera Utara Allah SWT sudah begitu banyak memberikan nikmat-Nya kepada kita, sehingga apabila kita renungi lebih dalam maka sungguh akan terekam dalam memori kita sudah begitu banyak nikmat yang Allah SWT anugrahkan kepada kita, maka tidak heran apabila dalam sebuah ayat al-Qur’an Allah SWT menegaskan pada surah an-Nahl ayat 18 yang menegaskan bahwa apabila kita menghitung-hitung nikmat Allah SWT niscaya kita tidak dapat menghitung jumlahnya . Sebagaimana disebutkan para ulama, andaikan ranting-ranting kayu yang ada di seluruh hutan belantara dikumpulkan dan dijadikan sebagai pena, lalu sungai dan lautan yang ada didunia ditimbah untuk dijadikan sebagai tintanya serta dedaunan-dedaunan yang ada diseluruh pnjuruh dunia dikumpulkan untuk dijadikan sebagai kertasnya niscaya kita akan cukup untuk menghitung nikmat-nikmat yang telah dianugrahkan Allah SWT kepada kita.

DUTA WISATA BIREUN BERWISATA ARUNG JERAM DI KRUENG PEUSANGAN

Bireun, Potretonline.com. Rabu (24/7/19) Duta Wisata Kabupaten Bireuen 2019 didampingi Rizal Fahmi selaku Ketua Ikatan Duta Wisata Kabupaten Bireuen baru saja melakukan kegiatan arung jeram bersama team Bentang Adventure. Bentang adventure merupakan operator wisata yang digagas oleh pemuda-pemuda Bireuen yang peduli terhadap lingkungan, alam serta potensinya. Salah satu potensi alam tersebut adalah arung jeram. Kegiatan arung jeram ini dilakukan sebagai bentuk dukungan penuh Duta Wisata terhadap potensi wisata yang ada di Kabupaten Bireuen. Lokasi arung jeram ini berada di Daerah Aliran Sungai (DAS) Peusangan Kecamatan Juli. Jalur pengarungan ini memakan waktu selama lebih kurang empat jam, yang kemudian berakhir di desa Salah Sirong. Tidak hanya arus sungai yang menjadi daya tarik arung jeram ini, karena jika beruntung kita juga akan menjumpai langsung gajah liar yang sedang bermain di samping aliran sungai.  Cut Rizka Kamila selaku Duta Wisata terpilih 2019 me