Langsung ke konten utama

Perempuan Itu Masih Di Sana


Oleh:Ulfah Irani Z

“Aku tidak butuh pertolonganmu! Aku hanya ingin rasa sakit ini berhenti,”teriaknya berulang kali. Aku yang berdiri tegak di hadapannya kala itu, hanya bisa mematung dan menahan pukulan demi pukulan dilayangkan ke tubuhku. Ia sedang melampiaskan amarahnya.

***

Malam ini, tiga Februari, aku melihat lagi, perempuan itu berdiri di tepi jembatan merah itu, sambil memandang sungai keruh yang berwarna teh susu. Seorang perempuan renta penuh kerutan di wajahnya, kulitnya sawo matang dengan selendang putih polos menutupi rambutnya yang telah beruban. Ia mengenakan baju berlengan panjang berwarna hitam, tubuh bagian bawahnya dililit sarung bermotif garis biru hitam menyerupai rok. Perempuan itu hanyut dalam kesendiriannya. Terkadang, ia seperti sedang berdialog dengan seseorang. Bahkan, ia pernah kedapatan tertawa cekikikan menyapa ikan-ikan yang sedang berenang.

Perempuan itu masih di sana, sekarang ia terduduk lesu, dengan tangan yang memeluk erat kedua lulutnya. Ia sedang menangis. Setelah berulang kali perempuan itu datang, aku mulai cemas. Apa yang sedang terlintas dalam pikirannya? Akankah ia tetap di sana menunggu esok sampai ayam berkokok, memilih kembali pulang, atau ...? Sebenarnya aku bingung, apa yang harus kuperbuat, ia bahkan tak mengenaliku. Tetap saja, aku tak tega meninggalkan perempuan itu seorang diri di tepi jembatan yang menakutkan itu. Pandanganku tetap saja tertuju ke arahnya. Ia terlihat sangat reaktif, tak jarang mengamuk saat ada yang mencoba mendekatinya.

Perempuan itu masih di sana. Ada rasa perih yang mendalam saat kulihat ia menangis, tertawa, dan menjerit sendirian di tepi jembatan. Setiap kupandang matanya, aku ingat akan hujan. Ketika kudengar teriakannya, kurasakan petir yang menyambar. Saat kulihat ia tertawa, seakan dunia sedang menertawakanku. Ingin rasanya kucabut deritanya agar kesepianku memudar. Saat dia menceritakan kisah sedihnya, maka ribuan sedihku tergantikan oleh kisah sedihnya itu. Aku memilih tetap di sini, di sebuah warung kopi yang tak jauh dari jembatan itu.

Rokok kuhisap sudah habis sebungkus. Asapnya masih mengepung seisi warung. Aku mencoba menyembunyikan kegelisahanku dari beberapa pandangan yang terus mengawasiku dan perempuan itu sambil menyeruput kopi pahit hangat.

Tiba-tiba saja, perempuan itu menyeberangi jalan, terus mendekat, dan menghampiriku sambil berkata, “Mereka ke luar rumah tadi, dan sampai sekarang tak kunjung pulang, tolong cari mereka!” Apakah hanya itu saja yang tersisa dalam memori wanita itu? Ya, tentang mereka. Wajahnya masih terlihat sangat cemas dan ketakutan.

“Mungkin saja mereka sudah di rumah menantimu,”jawabku mencoba mengalihkan sedikit kegelisahannya. Semua mata menyawasi perbincangan kami. Mungkin kamu berpikir bahwa ia perempuan gila. Tidak, ia tidak gila. Hanya saja, ia masih mencari keberadaan tiga anak lelaki dan suaminya yang hilang dalam satu malam yang kelam, terjebak dalam karung-karung berisi kerikil-kerikil kecil yang ditenggelamkan di bawah jembatan Arakundo itu. Saat pintu-pintu rumah dikunci rapat. Saat pelita dari setiap kamar dipadamkan. Saat semua orang memilih diam daripada bicara. Aku masih berumur enam tahun, saat ketiga anak dan suaminya pergi tak pernah kembali.

***

Hari ini kukenalkan lagi diriku pada perempuan tua itu. Aku ragu, ia akan mengenaliku saat ia bertatap muka denganku.

“Kamu datang, Nak?” Suara itu hadir saat aku mengetuk pintu. Tapi tetap saja, begitu masuk, ubin terasa masih saja dingin, sedingin embun pagi di musim hujan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sucikan Hati Dan Jiwa Dengan Berkurban

  Oleh Cut Putri Alyanur Berdomisili di Jakarta    Tanggal 10 Djulhijjah 1442 Hijriah, bertepatan dengan tanggal 20 Juli 2021. Umat Islam di seluruh dunia, merayakan Hari Raya Idul Adha dengan penuh sukacita. Suara takbir, menggema di setiap penjuru Nusantara, walau di beberapa tempat, Idul Adha di arah kan oleh Pemerintah Indonesia untuk di rayakan di rumah saja. Begitupun dengan kami, masyarakat Aceh perantauan yang melaksanakan Idul Adha, di Jakarta. Pandemi Covid-19, hingga saat ini tak mau berkompromi, meski penyebarannya sudah memasuki tahun ke – 2, sejak bulan  Maret tahun 2021. Hari Raya Idul Adha juga senada dengan pelaksanaan kurban, dan menjadi sangat berharga bila kedua ritual ibadah ini, bisa dilakukan saat menunaikan ibadah rukun Islam yang ke – 5, berhaji ke Baitullah. Bila sedang tidak berhaji pun, ibadah kurban sangat mulia untuk di laksanakan, guna meningkatkan keimanan dan kepekaan sosial terhadap sesama. Berkurban berarti meneladani ketaatan yang di lakukan oleh Nab

EMPAT CARA MENSYUKURI NIKMAT ALLAH SWT

Foto : dok.Pribadi Oleh   Hendra Gunawan, MA Dosen Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum IAIN Padang Sidimpuan, Sumatera Utara Allah SWT sudah begitu banyak memberikan nikmat-Nya kepada kita, sehingga apabila kita renungi lebih dalam maka sungguh akan terekam dalam memori kita sudah begitu banyak nikmat yang Allah SWT anugrahkan kepada kita, maka tidak heran apabila dalam sebuah ayat al-Qur’an Allah SWT menegaskan pada surah an-Nahl ayat 18 yang menegaskan bahwa apabila kita menghitung-hitung nikmat Allah SWT niscaya kita tidak dapat menghitung jumlahnya . Sebagaimana disebutkan para ulama, andaikan ranting-ranting kayu yang ada di seluruh hutan belantara dikumpulkan dan dijadikan sebagai pena, lalu sungai dan lautan yang ada didunia ditimbah untuk dijadikan sebagai tintanya serta dedaunan-dedaunan yang ada diseluruh pnjuruh dunia dikumpulkan untuk dijadikan sebagai kertasnya niscaya kita akan cukup untuk menghitung nikmat-nikmat yang telah dianugrahkan Allah SWT kepada kita.

DUTA WISATA BIREUN BERWISATA ARUNG JERAM DI KRUENG PEUSANGAN

Bireun, Potretonline.com. Rabu (24/7/19) Duta Wisata Kabupaten Bireuen 2019 didampingi Rizal Fahmi selaku Ketua Ikatan Duta Wisata Kabupaten Bireuen baru saja melakukan kegiatan arung jeram bersama team Bentang Adventure. Bentang adventure merupakan operator wisata yang digagas oleh pemuda-pemuda Bireuen yang peduli terhadap lingkungan, alam serta potensinya. Salah satu potensi alam tersebut adalah arung jeram. Kegiatan arung jeram ini dilakukan sebagai bentuk dukungan penuh Duta Wisata terhadap potensi wisata yang ada di Kabupaten Bireuen. Lokasi arung jeram ini berada di Daerah Aliran Sungai (DAS) Peusangan Kecamatan Juli. Jalur pengarungan ini memakan waktu selama lebih kurang empat jam, yang kemudian berakhir di desa Salah Sirong. Tidak hanya arus sungai yang menjadi daya tarik arung jeram ini, karena jika beruntung kita juga akan menjumpai langsung gajah liar yang sedang bermain di samping aliran sungai.  Cut Rizka Kamila selaku Duta Wisata terpilih 2019 me