QURBAN SEKADAR PESTA GIZI SEHARI BAGI KAUM DHU’AFA?

Rate this posting:
{[["☆","★"]]}
>

 

 

 

Oleh: Hasbi Yusuf

Berdomisili di Banda Aceh

 

Alhamdulillah kesadaran masyarakat Aceh pada umumnya dan masyarakat kota Banda Aceh pada khususnya untuk melaksanakan ibadah qurban dari tahun ke tahun semakin memggembirakan. Ada gampong yang terkumpul hewan qurban sampai 25 ekor atau mungkin juga dapat lebih dari itu.  Ada juga gampong yang memperoleh hewan qurban sekitar 10 ekor, dan adapula yang kurang dari itu.



Menurut  perkiraan kasar, rata-rata jumlah hewan qurban masing-masing gampong adalah sekitar 15 ekor sapi. Berdasarkan asumsi tersebut, sehingga jumlah total hewan qurban di kota Banda Aceh adalah 15 ekor/gampong × 90 gampong = 1350 ekor sapi. Dari jumlah tersebut, jika 1/3 dari jumlah hewan qurban tersebut dibagikan kepada masyarakat yang berhak dalam bentuk daging mentah, maka akan tersisa sebanyak 2/3 × 1350 ekor = 900 ekor sapi dalam bentuk daging. Jika dihitung per gampong, maka jumlah sapi yang tidak langsung dibagi adalah 900 ekor sapi/90 gampong = 10 ekor sapi dalam bentuk daging setiap gampong.

Dari pengalaman kita  bahwa selama ini sistem pelaksanaan qurban masih secara tradisional dari tahun ke tahun. Dimana setiap tahun pengumpulan ripe hewan qurban, pemotongan hewan dan distribusi daging qurban masih tetap secara tradisional turun-temurun dari generasi ke generasi, tanpa perubahan yang berarti.

Ada beberapa kelemahan menurut kami yang terus dipraktekkan panitia qurban di dalam masyarakat kita. Pertama, harga hewan qurban per pequrban bervariasi antar masing-masing gampong (dapat menimbulkan tanda tanya masyarakat. Kedua, Dalam satu gampong, besar dana sama, tetapi besar hewan qurban tidak sama. Ini menimbulkan tanda tanya dan bisik-bisik sesama pemilik qurban. Ketiga, Pelaksaan pemotongan hewan qurban dilakukan di depan hewan qurban yang lain, sehingga seluruh hewan qurban menjadi stress karenanya. Ini termasuk perbuatan kejam dan berdosa. Di samping itu ketika melakukan penyembelihan,  sangat kurang memperhatikan kesejahteraan hewan (pri-kehewanan). Bertahun-tahun masih menggunakan metoda dan alat sangat tradisional, dan kurang memperhatikan kesejahteraan hewan qurban. Keempat, Karena dikerjakan secara gotong royong, maka ada bagian-bagian tertentu (kepala, kaki, ekor) hewan qurban sering diambil dikumpulkan oleh orang-orang tertentu yang sulit dikendalikan oleh panitia. Ini merupakan kelemahan panitia yang akan diminta pertanggunggungjawaban kelak oleh Allah SWT. 

Kelima, dalam pengangkutan dari tempat pemotongan hewan ke tempat pembagian daging qurban sering kehilangan daging qurban;  Keenam, dalam membuat tumpukan ketika membagi, daging dan usus dicapur dan dimasukkan ke dalam satu plastik keresek, sehingga secara keseluruhan cepat busuk dan tidak terjamin kesucian dan kehalalan daging/usus tersebut, meskipun telah dicuci.  Ketujuh,  panitia sering menggunakan plastic berwarna hitam dan tidak higyenis  untuk kantong daging, tulang atau usus. Kedelapan, dalam pembagian daging qurban hampir semua warga menginginkannya, meskipun orang kaya  dan tidak mau ikut berqurban atau tidak mau ikut bergotong royong. Kesembilan,  seluruh daging langsung dibagikan sekaligus, sehingga bagi fakir-miskin mengkonsumsi daging berlebihan hanya pada satu atau dua hari saja, sehingga sering menyebabkan sakit karena mendadak mengkonsumsi daging berlebihan. Sedangkan hari-hari yang lain jarang makan daging. 

Kesepuluh, Hampir setiap pelaksanaan qurban, panitia menjual kulit hewan qurban untuk biaya seluruh kegiatan  pelaksanaan qurban. Kesebelas, sebagian panitia gampong mengirimkan sejumlah hewan hidup ke desa yang lebih miskin, sering timbul penolakan dari pequrban disebabkan mereka khawatir kehilangan sunnah karena tidak menyaksikan saat pemotongan hewan qurbannya. Ada juga panitia yang mengirimkannya dalam bentuk daging, namun juga ada sedikit kendala atau kesulitan, karena petugas pengantar atau penjemput perlu kenderaan dan biaya antar atau jemput sementara suasana dalam masa lebaran masing-masing ada kepentingandiri dan  keluarga.

Kelemahan- kelemahan yang disebutkan di atas, kitanya bisa diperbaiki atau diubah. Caranya bisa dilakukan seperti berikut ini. Pertama, Walikota atau Dinas terkait menetapkan harga patokan per ekor kambing secara seragam dan berlaku untuk semua gampong. Kedua, panitia harus mengusahakan sedapat mungkin membeli hewan qurban yang relatif sama dari segi berat dan kesegaran hewan atau tidak terlalu jauh berbeda besar dan keadaannya. Jangan sampai ada hewan yang terlalu kecil atau terlalu besar. Ketiga, diharapkan ketika satu ekor hewan dipotong, maka hewan lainnya tidak sempat menyaksikannya. Dalam hal ini harus diantisipasi, misalnya dengan membuat penyekat atau dinding pemisah. Keempat, jangan ada pihak-pihak tertentu mengambil kesempatan berbuat curang untuk mencari keuntungan pribadi dalam pelaksanaan qurban. Harus ada pengawas yang jeli dan berani menegur orang yang mengambil bagian daging yang bukan haknya. Agar tidak timbul keadaan yang kurang enak, maka sebelum pelaksanaan qurban ada diberikan pengarahan oleh ketua panitia atau orang yang ditunjuk untuk itu, biasanya orang yang disegani oleh semua pihak.

Kelima, Setiap mobil pengangkutan daging wajib didampingi oleh pengawas yang tegas dan jujur. Keenam: usus harus dicuci bersih dan suci sebelum dibagi dan ketika dibuat tumpukan harus terpisah dengan daging atau tulang. Ketiga komponen hewan qurban ini jangan diisi dalam satu plastic secara bercampur, tetapi harus diisi dalam plastik yang berbeda. Ketujuh, panitia harus mengusahakan kantong atau wadah yang hygienis untuk tempat mengisi daging qurban (daging, tulang dan usus), dan ketika dibuang ke tempat sampah tidak menyebabkan polusi lingkungan. Kedelapan,  dalam ceramah-ceramah keagamaan atau ceramah umum harus disinggung tentang kurang baiknya menerima daging qurban bagi mereka yang tidak mau berqurban. Padahal kehidupannya berkecukupan atau tidak mau ikut bergotong royong bersama panitia dan warga lainnya.  Kesembilan, Jika daging qurban seluruhnya dan sekaligus langsung dibagi kepada masyarakat, maka nilai manfaat dari hasil qurban sangat kurang berbobot dalam rangka membantu fakir miskin memenuhi gizi dan membantu ekonomi serta keakraban para dzu’afa dengan aparat desa.

Di atas telah diuraikan secara kasar tentang potensi daging qurban setiap desa, yaitu lebih kurang ada  yang tidak langsung di bagi adalah 900 ekor sapi/90 gampong = 10 ekor sapi/gampong,  yang akan diolah berbentuk daging pada setiap gampong.  Jika masing-masing sapi rata-rata bobotnya sekitar 350 kg, diperkirkan akan menjadi daging bersih sekitar 250 kg, berarti untuk 10 ekor sapi akan diperoleh daging bersih sebanyak: 10 ekor x 250 kg/ekor = 2500 kg (2,5 ton). Jika daging segar sejumlah 2,5 ton tiap gampong ini diolah dan diawetkan, maka akan diperoleh nilai tambah dalam berbagai aspek dalam mensejahterakan kaum dzu’afa misalnya:  1) Terbuka lapangan kerja untuk kaum dzu’afa;  2) Membantu pertumbuhan ekonomi kaum dzu’afa; 3) Dapat dibagikan kepada para dzu’afa pada keadaan-keadaan genting dan mendesak menjaga nilai gizi keluarga dzu’afa atau saat ada terjadi musibah tertentu; 4) Mempererat silaturrahmi antara kaum dzu’afa dengan agniya dan perangkat desa; 5) Meningkatkan kegiatan BUMD  (Badan Usaha Milik Desa). 

Kesepuluh, kulit hewan qurban tidak boleh dijual untuk membiayai  pelaksanaan kegiatan qurban.   Segala pengeluaran untuk kegian pelaksanaan qurban harus diusahan oleh panitia dari sumber lain yang sah, tidak mengikat dan halal, misalnya meminta biaya tambahan untuk pelaksanaan qurban kepada masing-masing pequrban  atau mengumumkan secara terbuka meminta kepada masyarakat tentang kebutuhan biaya pelaksanaan qurban.  Kesebelas,  jika hendak menyumbangkan  hewan ke desa tertentu lainnya, perlu ditinjau, diperhatikan  dan dipertimbangkan :  1) Apakah di desa tersebut memang tidak ada satupun penduduknya yang mampu berqurban atau kebanyakan bersifat kikir dan pura-pura tidak mampu dan telah menjadi semacam ketergantungan mereka terhadap sedekah atau daging qurban, atau memang seluruh penduduk desa tersebut termasuk kaum dzu’afa;  2)  Permainan perangkat gampong yang mencari keuntungan pribadi atau kelompok dengan menjual nama masyarakatnya. Jadi harus diteliti dan dicari informasi dari beberapa sumber untuk cross check; 3) Jika setelah diteliti dan cross-check dari berbagai sumber ternyata datanya benar, maka panitia harus berusaha membantu hewan qurban untuk desa tersebut dengan melakukan pendekatan dengan pemilik hewan qurban sebenarnya. Disarankan tidak diantar hewan qurban ke desa tersebut, melainkan panitia mencari penduduk desa tersebut yang bersedia menjual hewannya dan jika harganya sesuai, maka tinggal membayar dana saja. Sedangkan hewan diambil panitia setempat saat akan disembelih. Dengan demikian dapat lebih hemat tenaga dan biaya serta banyak pihak akan terbantu.  4) Untuk tahun-tahun berikutnya lebih baik untuk desa tersebut diberikan saja  anak lembu untuk mereka pelihara bersama dan bila telah cukup umur maka hewan tersebut dijadikan hewan qurban.

Demikian sekilas pengalaman berdasarkan pengamatan pelaksanaan qurban dalam masyarakat kita, namun beberapa desa mungkin hal-hal seperti yang telah kami uraikan di atas tidak terjadi, malah pelaksanaan qurban berlangsung lebih bagus dari solusi yang kita tawarkan. Semoga

Tulisan kami tidaklah kami tujukan kepada panitia desa tertentu, tapi bersifat umum saja. Jika ternyata ada kesamaan kejadian dan kekliruan itu hanya kebetulan saja. Kami mohon maaf yang sebesar-besarnya  karena tulisan ini bersifat opini saja.

Click to comment