POTRET Gallery

KETIKA HARTA KITA JADIKAN SEBAGAI DEWA

Rate this posting:
{[["☆","★"]]}
>


Oleh Hasbi Yusuf

Coba kita renungkan dengan seksama, siapakah sebenarnya diri kita, berasal dari mana  pada awalnya?  Sekarang kita berada di mana dan sedang mengapa dan untuk keperluan apa serta untuk siapa?  Seterusnya hendak ke mana arah dan tujuan serta apa program kita ? Pernahkah kita bertanya mengapa kita ada di dunia? Apakah keberadaan kita di dunia ini untuk sementara ataukah untuk selama-lamanya? Pernahkah kita menyusun program sebelumnya agar kita dilahirkan ke dunia dengan kondisi yang kita inginkan saja? Apakah karena program ibunda dan ayahanda kita saja yang menyebabkan kita lahir ke dunia ?

Siapakah yang diuntungkan dan dirugikan dengan kehadiran kita? Banyakkah di antara kita yang mengevaluasi diri untuk menghitung berapa banyak pengorbanan kedua orang tua untuk mempersiapkan, mengandung, melahirkan, membesarkan, menyekolahkan, mencari pekerjaan serta menikahkan kita? Adakah di antara kita yang coba-coba berhitung kasar berapa banyak fasilitas yang telah kita manfaatkan untuk diri kita, keluarga kita utuk kita bandingkan dengan  berapa banyak kemaslahatan yang telah kita sebarkan untuk menolong sesama. Berapa banyak kesulitan yang kita hadapi pada diri kita dan berapa banyak pula kepahitan hidup yang menimpa saudara kita akibat tingkah dan ulah perbuatan atau perencanaan kita. 

Masing-masing kita tentu memiliki pekerjaan dan profesi berbeda sesuai dengan bakat dan minat serta peluang yang ada, walaupun banyak juga yang sama. Ada diantara kita yang mencari rezeki dengan sangat bersahaja, penuh kehati-hatian dan selalu menjaga kesucian rezeki sesuai tuntunan Allah SWT menjaga diri sendiri dan keluarga dari panasnya api neraka. Kelompok seperti ini biasanya tidak banyak jumlahnya, karena tujuan hidup mereka bukanlah untuk kaya raya malainkan menjaga diri dan keluarga agar selalu mendapat ridha dari Allah SWT. Tapi ada satu dua yang kaya raya dan bahagia karena mereka bekerja lebih giat lagi pandai bersyukur dengan selalu bersedekah dan berzakat serta berinfaq dengan sukarela tanpa ada yang memaksa.

Selain kelompok seperti di atas  banyak juga di antara kita yang menjalankan usaha dengan  praktek dan modal syubhat,  malah riba. Apakah usaha yang kita jalankan dengan praktek syubhat atau riba berkembang dengan baik sejak awal sampai akhirnya ?Ataukah hanya berkembang baik malah spektakuler hanya di awal-awal saja, sebelum akhirnya bangkrut dan meninggalkan hutang luar biasa  jumlahnya ?  Bukankah pengalaman banyak orang kaya di awal, sedangkan di akhir ketika kita tua  “ sipak tong tinggai tem saja? ”  

Pasti setiap kita pernah menemukan uang atau barang yang tercecer di jalan atau di tempat umum lainnya, lalu kita pungut dan kita bawa pulang untuk memilikinya, apakah membawa manfaat dan berkah jangka panjang bagi kita, apakah bukan sebaliknya? Uang atau barang milik kita akan hilang kadang dapat berlipat ganda mencapai hingga  100 kali? 

Ada juga pengalaman, karena merasa pendapatan atau gaji tidak cukup untuk menghidupi keluarga, kadang kala kita mencari jalan pintas mengatasinya dengan cara yang sering tidak halal pula. Sering juga kita memanipulasi keadaan untuk memperoleh pendapatan berlipat ganda. Apakah uang atau barang yang kita peroleh secara menyimpang,  secara jangka panjang bermanfaat bagi  keluarga kita dan akan menyebabkan batin kita  akan terpuaskan  karenanya?

Sering sekali setelah melakukan korupsi, kitapun tetap merasa tidak pernah cukup dengan harta, maka kredit bank pun kita ajukan sebanyak mungkin untuk memenuhi kebutuhan nafsu dan birahi yang selalu menggelora. Tapi apakah dengan mengambil kredit bank sebanyak-banyaknya dapat mengobati sakit tamak dan loba kita?

Jika kita menyantuni keluarga dengan  rezeki yang diragukan kehalalannya (syubhat), malah jelas terlihat haram dan riba, perhatikanlah dan introspeksi secara mendalam keadaan kehidupan keluarga kita, bandingkan dengan keadaan keluarga orang lain yang mencari rezeki secara halalan dan taiban. Keadaan ekonomi mereka sangat sederhana, tapi bagaimanakah ketenteraman kehidupan mereka, adakah perbedaannya ?  Asset yang kita bangun dengan uang riba atau hasil korupsi, apakah menenteramkan batin kita dan keluarga ? Coba diingat-ingat, benda atau peralatan apa milik kantor atau milik orang lain yang terlanjur kita bawa ke rumah kita, apakah efektif berguna bagi kita, atau hanya bikin penuh dan semak rumah saja tanpa kita pakai selamanya !Jika kita merasa terlalu banyak memakan syubhat, haram dan riba, bagaimana suasana kehidupan dan hubungan satu sama lain, isteri/suami, anak dan sanak keluarga, apakah semuanya damai-damai saja, ataukah seperti hidup di pinggir dapur api neraka? 

Allah berfirman dalam Al-Quran Surat Al-Baqarah ayat 188, yang artinya sebagai berikut:

Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu membawa urusan) hartaitu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian dari harta harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.{Q.S. (92 : 188)}.

 

Allah SWT berfirman dalam Al Quran Surat Al-Fajr ayat 20, yang artinya sebagai berikut:      

Dan kamu mencitai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan {Q.S.( 89: 20)}

Namun di sini kita juga mengingatkan juga bahwa,  janganlah sampai terjebak oleh pengertian dan hipotesa atau narasi yang kita bangun sendiri, jangan sampai pula  semua kita  menganggap bahwa setiap permasalahan dan problema yang kita hadapi dalam kehidupan, lebih-lebih dalam kehidupan berumah tangga dapat dipastikan 100% karena terkait dengan perbuatan menyimpang yang kita lakukan dalam perjalan hidup dan kisah nyata kita. Adakalanya pribadi-pribadi yang mapan dalam kekayaan, secara keilmuan, wawasan,  pengalaman, kesederhanaan, ketaatan serta kepribadian yang cemerlangpun dapat mengalami kepahitan hidup seperti kebanyakan kita. Hanya saja mungkin mereka lebih tenang dan lebih tabah dalam menerima dan mengelola permasalahan yang menimpa mereka. Mungkin mereka berpendapat bahwa sepahit dan sebanyak apapun permasalahan dan kesulitan hidup yang kita hadapi, tapi masih lebih banyak lagi rahmat dan nikmat Allah yang tersedia. Mungkin juga mereka telah menerapkan prinsip hidup sesuai tuntunan Allah SWT, sebagaimana firman-Nya dalam Al-Quran dala Surat Al-Baqarah ayat 153 dan 155 yang artinya : 

Wahai orang-orang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Sungguh Allah beserta orang-orang yang sabar” {Q.S. (2:153)}

“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan,kelaparan, kekurangan harta, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah khabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” {Q.S (2:155)}.

 

Surat Ibrahim ayat 7,  yang artinya : 

Dan ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan, “jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambahkan (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku amat berat.” {Q.S (14 : 7)}

 

 

 

 

 

Click to comment