POTRET Gallery

POTRET Gallery
Pusat Belanja Unik

KETIKA TAHTA KITA ANGGAP SEBAGAI NIRWANA

Rate this posting:
{[["☆","★"]]}
>




Oleh Hasbi Yusuf

Berdomisili di Banda Aceh

Mungkin ada di antara kita telah membangun rumah mewah dengan mewahnya.  Ukuran dan modelnya telah selesai semuanya, tentu kita berharap akan memuaskan kita dari segalanya, tapi ternyata  ada saja bagian-bagian rumah yang selalu membuat kita tidak puas.  Ada saja yang terus tampak kekurangannya, malah terlalu sering salah pilih bahan atau warna. Kadang ada hal yang tidak terlalu prinsip, seperti lantai keramik yang terasa kurang puas hanya karena salah pilih warna, sehingga setiap saat mengganggu konsentrasi kita ketika memandang dan menatapnya.

Setelah rumah selesai kita bangun dengan megahnya, lalu kita   lengkapi dengan perabot model terbaru menurut kita dan dengan pilihan harga yang fastastis pula, tetapi setelah kita melengkapi perabot semua, adakalanya  mengikuti arisan dengan sahabat-sahabat kita, terlihat pula rumah dan perabot sahabat dan kenalan kita. Rupanya kitapun lebih terpesona lagi dengan apa yang mereka punya. Menyesal pula semua yang telah kita miliki, yang mati-matian kita pacu pengadaannya agar rumah kita terlihat lebih metereng dan lebih bergaya dari orang-orang semuanya, tapi mengapa akhirnya merasa semuanya tidak sehebat yang dimiliki oleh sahabat dan teman kita?

Coba keliling kota, perhatikan bagaimana orang membangun rumah-rumah mewah bagaikan istana.  Boleh jadi mereka berpendapat dalam hati masing-masing akan tetap tinggal di dunia untuk selama-lamanya, sehingga mempersiapkan istana yang akan dijadikan surga buat selama-lamanya. Amatilah satu persatu rumah-rumah yang bagaikan istana, apakah lebih banyak yang ditempati sendiri oleh yang punya, ataukah lebih banyak ditempati dan dinikmati oleh pembantunya. Ataukah juga hanya tinggal kosong dihuni hantu belau yang selalu bergentayangan kapan saja, atau orang lain yang harus digaji untuk menjaga dan merawatnya? 

Kalau Anda agak kurang kerjaan, cobalah sesekali sekadar bertanya kepada tetangga sekeliling rumah-rumah yang dibangun laksana istana. Siapakah gerangan dan apa pekerjaan pemiliknya? Bagaimana keadaan kehidupan dan dimana kini keberadaan pemiliknya? Di lain kesempatan, cobalah sekali-sekali menyamar di tempat-tempat tertentu, dengan melemparkan pertanyaan menyangkut syubhat, riba, haram  dan korupsi kepada orang yang kelihatan mudah diajak berbicara. Simak baik-baik sambil pura-pura meminta semacam pemikiran atau pendapatnya. Lakukan hal yang sama kepada banyak orang dan tempat yang berbeda. Jika merasa sudah cukup untuk berdiskusi pulanglah ke rumah dan silakan merenungi dan mengambil intisarinya, bagaimana penilaian dan pendapat banyak orang terhadap, syubhat, riba, haram dan  korupsi pamahaman status hukumnya ?

 

Berkat perjuangan dan jihad  sebagian kita sangatlah nekat dan berjibaku dengan kecerdasan dan kelihaian kita yang tak kenal  lelah dan tak kenal menyerah dan tak kenal takut, sehingga  terbangunlah rumah-rumah kita sebesar istana raja Saudi Arabiya, namun kebanyakan kita malah lebih lama tinggal di rumah sakit atau di penjara.  Perabot rumah  kita dipesan umumnya dari Italia, tapi kita dipaksakan duduk di lantai semen saja. Kenderaan  kita sampai berharga 200 ekor unta dan tak terhitung pula jumlahnya, yang anehnya semua mobil kita kurang berguna, malah kita sering kali ketika bepergian harus menumpang mobil yang ada sirinenya.  Aset kita sepertiga pulau Sumatera, tapi hampir tiap hari kita di rumah atau rumah tahanan sakit saja.  Isteri kita lebih dari satu dan cantik-cantik rupa, tapi apa daya terpaksa jadi barang pajangan saja, kita tak mampu lagi melayaninya. Tabungan kita memenuhi berbagai bank yang ada, tapi makan-minum kita tak boleh lagi yang enak apalagi mengandung gula.

 

Jadi sebenarnya dalam hidup ini apa yang harus kita cari secara mati-matian untuk mengumpulkan sebanyak-banyaknya. Kenapa kita mau dan tega siang dan malam bermimpi, berfikir, berdiskusi, berbantah-bantahan, berusaha, berjuang, berspekulasi, berlomba, berebutan, berkompetisi, berkhianat, berbohong, berfitnah-fitnahan, bermusuhan sampai ada yang berkelahi, dan sering pula terjadi berhukum acara. Jika kami tidak keliru menafsirkan, semua ini terjadi lebih dominan karena manusia telah menuhankan harta, menganggap takhta sebagai malaikat, serta menjadikankan sebagai pembawa wahyu adalah wanita.  

Bagi kita yang menganggap  tulisan ini sebagai bentuk pembelajaran bersama, untuk saling mengingatkan sesama manusia yang se-aqidahdalam satu agama, marilah segera beralih haluan untuk masa depan kita, mumpung masih ada waktu bagi kita dan masih terbuka kesembatan untuk taubatan nashuha. Marilah temanku, mari sahabatku, marilah kenalalanku, mari kita eleminir hasrat, kuasai birahi, dan  lawanlah hawa nafsu yang  menguasai selama ini dan terus menggoda, mempesona, merayu kita agar terus  menggapai dan memeluk dunia. 

Jika pun nanti ajal telah akan tiba, malaikat maut dikirim Allah untuk menjemput nyawa kita. Marilah kita terus  selalu bermunajad dan berdoa, semoga kita dalam keadaan husnul khatimahketika hendak kembali menuju kekeharibaan-Nya.   

Allah berfirman dalam Al-Quran Surat Al-Baqarah ayat 275 dan 276, yang artinya sebagai berikut:

Orang-orang yang makan riba tidak dapat berdiri melainkan berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata sesungguhya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari memakan riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba) , maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. {Q>S. (2:275)} 

 

Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran dan selalu berbuat dosa. {Q.S. (2:276)}.

 

 

Click to comment