POTRET Gallery

Membaca Bantuan Allah

Rate this posting:
{[["☆","★"]]}
>

Bagian Pertama

Oleh Tabrani Yunis

Sejak malam Minggu 30 Agustus 2020 saya bersama istri, Mursyidah Ibrahim berada di rumah sakit. Istri masuk rumah sakit untuk menjalani proses persalinan atau melahirkan anak yang ke tiga. Proses persalinan ini tidak berbeda dengan persalinan anak pertama Ananda Nayla Tabrani Yunis yang berlangsung pada tanggal 11 Januari 2009 dan kelahiran anak kedua Aqila Azalea Tabrani Yunis pada tanggal 15 November 2011 dengan cara operasi cesar. Bedanya hanya situasi saja, yakni pada kelahiran pertama dan kedua, tidak dalam ancaman pandemi Covid 19. Jadi, suasana hati dan tantangan tidak seberat sekarang di masa pandemi ini.

Operasi kali ini termasuk operasi yang membuat hati sangat khawatir. Pertama karena merasa takut dengan kondisi rumah sakit yang dalam bayangan ketakutan akan tertular virus Corona yang sedang mewabah. Walau sebenarnya ketika masuk ke rumah sakit sudah dilakukan screening. Kedua, apa yang membuat khawatir adalah seperti biasanya, sebelum proses operasi dilakukan, harus ada persiapan persediaan darah, untuk berjaga-jaga bila diperlukan darah. Ke tiga, mengingat usia istri yang sudah 40 tahun, bukan usia yang ideal untuk melahirkan. Apalagi ini operasi cesar yang ke tiga. Wajar saja kalau hati terasa galau atau khawatir.

Nah, rasa galau dan khawatir itu sangat terasa saat sebelum dibawa ke ruang operasi. Betapa hati tidak merasa resah? Untuk operasi ini diperlukan cadangan darah. Sementara cadangan darah belum ada. Walau, kebutuhan untuk berjaga-jaga agar darah tetap tersedia bila terjadi pendarahan hebat saat operasi.

Kekhawatiran itu kian terasa ketika malamnya, pada pukul 23.00 WIB saat mengantarkan surat dari ruang Ponek ke bagian transfusi darah. Kala itu saya diminta kembali dua jam lagi, maka pukul 01.15 saya kembali mengambil surat di loket transfusi darah. Yang mengejutkan adalah kata petugas bawa stock darah kosong. Mendengar info itu, rasa gusar pun mulai menghentak dada. Lalu, dengan menenangkan diri dan berdoa agar Allah membantu proses persalinan ini.

Seperti biasa, di era digital dimana media sosial sudah menjadi ajang untuk mencari bantuan kepada teman-teman, Saya pun kemudian menyampaikan info kondisi ini kepada abang ipar dan lewat grup WA keluarga. Bukan hanya ke grup keluarga, tetapi juga grup lain. Padahal waktu sudah pukul 01.15.

Kegusaran malam itu, dihentikan karena badan memang harus istirahat. Mata sudah sulit diajak kompromi. Maka, dengan menggerakan tikar di samping ranjang pasien, mata terpejam sejenak, namun hanya tidur-tidur ayam, karena tidurnya tidak bisa pulas. Apalagi saat azan subuh, harus siap-siap melaksanakan salat subuh serta bersiap-siap untuk masuk ke ruang operasi pada pukul 08.30 WIB. Sementara cadangan darah O yang diperlukan belum ada. Maka, lewat jalur grup WA, saya berusaha menyebarkan informasi kebutuhan darah.

Walau sudah pukul 01.15 WIB tengah malam,  upaya harus tetap dilakukan. Saya mengirimkan pesan di Grup WA keluarga dan langsung mendapat respon. Kemungkinan ada satu kantong darah O, bila bisa ditransfusikan dari abang ipar. Lalu paginya banyak respon teman-teman . Ada yang minta maaf karena tidak bisa membantu, ada yang menyampaikan doa, ada yang memberi saran untuk menghubungi PMI dan juga yang bersedia mendonorkan darah bila diperlukan.




Alhamdulillah pagi itu, sang dokter yang bertugas di ruang persalinan berhasil mendapatkan satu kantong darah O dari PMI. Hati menjadi lega. Lalu menuju ruang operasi. Saya tidak sendiri, abang ipardan adik Ipar beserta adik sepupu sudah berada di rumah sakit dan menunggu di luar ruang operasi menunggu dengan sedikit cemas dan berharap proses operasi berjalan lancar dan aman. Lalu, sekitar 45 menit kemudian, perawat yang bertugas memanggil saya. Alhamdulillah sudah lahir Pak, katanya. Ia lahir tepat pukul 09.45. Alhamdulillah. Bagaimana ibunya? Masih di dalam, katanya. Saya pun diminta menggendong sang bayi untuk melakukan iqamah. Usai iqamah, menyerahkan kembali sang bayi kepada perawat dan keluar dengan rasa bahagia. walau harus menunggu selesai proses operasi ibunya.

Di sela-sela penantian di luar ruang operasi, kala banyak orang yang juga sedang menunggu seperti halnya saya, HP di tangan terus berdenting karena banyak masuk pesan lewat WA. Pesan-pesan yang mengalir menyatakan bahwa siap mendonorkan darah dan juga menyampaikan doa. Ini adalah bantuan Allah kepada saya di kala berada dalam kesulitan.




Mengalirnya bantuan, saran, doa, dan kesediaan mendonorkan darah oleh para sahabat pagi Senin, 31 Agustus 2020 itu, menyambut kelahiran Arisya Anum Tabrani Yunis itu mengingatkan saya pada pertolongan Allah dalam masa-masa sulit dan bahkan tersulit beberapa tahun lalu, ketika anak pertama saya Albar Maulana Yunisa yang lahir dari rahim Istri saya pertama yang telah almarhumah karena bencana tsunami. Juga mengingatkan saya pada pengalaman kala bencana tsunami menghantam Aceh dan saya kehilangan segalanya yang membuat saya dalam kesulitan. Namun, selalu saja bantuan Allah hadir. Allah Maha Besar dan selalu memberikan bantuan di kala kita dalam kesulitan. Alhamdulillah


Click to comment