POTRET Gallery

MENJADI PRIBADI YANG TANGGUH DI MASA PANDEMI COVID 19

Rate this posting:
{[["☆","★"]]}
>


 


ZAUJATUL AMNA, S.Psi., M.Sc

Dosen/Praktisi Psikologi Fakultas Kedokteran Unsyiah

amnazaujatul@unsyiah.ac.id

 

Sepanjang rentang kehidupan  manusia, hal yang sangat memungkinkan seseorang merasa di bawah, merasa hidupnya sangat terpuruk,  misalnya kehilangan pekerjaan, kehilangan masa bermain, kehilangan orang-orang terdekat secara dadakan, terbatas ruang gerak, seakan kebebasan terbatas dan berbagai hal lainnya yang belum pernah ditemui sebelumnya. Namun dikarena sesuatu seakan semua menjelma berubah 180 derajat. Semua kondisi tersebut tentunya memiliki dampak tersendiri bagi setiap individu di semua level usia, anak hingga tua. Ada individu yang mampu untuk bangkit dari keterpurukannya, namun ada juga individu yang tidak mampu bangkit hingga mengalami masalah dengan kesehatan mental.

 

The big question is:”Bagaimana seseorang dapat bertahan dan mampu mengatasi segala permasalahan dalam hidup?” Karena semuanya memahmi bahwa menjalani hidup dengan baik dan selaras dengan apa yang kita inginkan, bukanlah perkara yang mudah. Diperlukan banyak usaha dan kerja keras, bahkan mungkin lebih dari itu. Mental? memiliki mental kuat memang diyakini bahwa dapat menambahkan rasa percaya diri yang tinggi karena hal tersebut memberikan dampak positif bagi diri sendiri. Menjadikan  seseorang tetap gigih mencapai tujuan meski banyak halangan menghadang baik dalam karir, sekolah, hingga perekonomian. Namun harus digaris bawahi bahwa “tidak semua orang terlahir dan dididik dengan mental yang baik, bukan?.

 

Berikut saya ulas, beberapa tokoh yang sangat familiar, di antaranya seperti Walt Disney, JK Rowling, Oprah Winfrey, atapun Colonel Sanders. Siapa yang tidak mengenali mereka? Mereka adalah tokoh hebat dunia yang telah melegenda dan terkenal di seluruh manca negara, termasuk di Indonesia. Mereka tidak terlahir sebagai orang yang kaya, yang hebat, yang tanpa masalah. Mereka adalah orang-orang yang pernah menghadapi berbagai kesulitan pelik dalam hidupnya. Mereka semua dihadapkan pada situasi sulit dalam perjalanan hidupnya, mulai dari pernah ingin bunuh diri, depresi bahkan ketakukan yang sangat berlebihan. Pertanyaan anda kemudian, lalu apa yang membuat mereka bertahan dan berhasil? 

 

Mereka hanyalah beberapa contoh kecil yang nyata dari individu-individu yang mampu bangkit dari keterpurukannya. Dalam ranah keilmuan psikologi, hal tersebut dikenal dengan istilah Ketangguhan (resiliensi).Resiliensi merupakan konstruk psikologi yang diajukan oleh para ahli behavioraldalam rangka usaha untuk mengetahui, mendefinisikan dan mengukur kapasitas individu untuk tetap bertahan dan berkembang pada kondisi yang menekan (adverse conditions) dan untuk mengetahui kemampuan individu untuk kembali pulih (recovery) dari kondisi tekanan (McCubbin,2001). Istilah resiliensi diformulasikan pertama kali oleh Block dengan nama ego-resillience yang diartikan sebagai kemampuan umum yang melibatkan kemampuan penyesuaian diri yang tinggi dan luwes saat dihadapkan pada tekanan internal maupun eksternal. Adanya suatu kapasitas dalam diri individu untuk merespon secara sehat dan produktif ketika berhadapan dengan kesengsaraan atau trauma, yang diperlukan untuk mengelola tekanan hidup sehari-hari (dalam klohnen, 1996). Bahasa sederhananya, resiliensi sebagai kemampuan untuk beradaptasi dan teguh dalam situasisulit. 

Ketangguhan (resiliensi) ini sangat dibutuhkan oleh setiap individu terutama di masa pandemi COVID 19 ini, karena akan menjadi sumber kekuatan yang membuatnya mampu bertahan dalam kondisi apa pun. Dimana seperti yang diketahui, bahwa situasi yang terjadi saat ini bukanlah situasi yang menyenangkan, malah cenderung memberikan dampak negatif seperti kecemasan dan ketakutan berlebihan serta dapat menurunkan kesejahteraan hidup individu. Namun demikian, Apakah kita harus menyerah dengan situasi ini? Personally, I would say that “No!! Dont ever think about it”. Kita harus menjadi pribadi-pribadi yang tangguh, pribadi yang resilien dalam menghadapi situasi pandemi saat ini. Artinya kita harus memiliki suatu kemampuan dalam diri kita untuk tetap mampu bertahan dan tetap stabil serta  sehat secara psikologis untuk melewati peristiwa-peristiwa yang tidak menyenangkan, seperti pandemi Covid 19 ini. 

 

Next question is how to be resilience??.Dalam ilmu psikologi dikenal dengan istilah protective factor.  Protective factor merupakan istilah yang digunakan untuk menyebut faktor penyeimbang atau faktor yang melindungi individu dari faktor yang memunculkan risiko pada individu (Riley & Masten, 2005). Faktor tersebut berasal dari dalam maupun luar diri individu. Protective factoryang berasal dari dalam diri individu misalnya kemampuan individu dalam meregulasikan emosinya, kemampuan intelektual individu yang baik, memiliki konsep diri yang positif, serta adanya kemampuan dalam menyelesaikan masalah. Sedangkan, protective factordari luar diri individu misalnya dukungan keluarga, komunitas, masyarakat bahkan negara sekalipun. Dengan mengenali protective factor yang kita miliki, maka hal tersebut dapat membantu kita dalam mengatasi situasi yang kita hadapi saat ini. Sebagai contoh, faktor internal untuk mengahadapi saat ini, maka kita perlu meregulasikan emosi dengan cara yang baik dan sesuai, agar tidak terjadi kecemasan atapun ketakutan yang berlebihan. Sedangkan dari faktor eksternal dalam situasi saat ini adalah kebijakan dan imbauan dari pemerintah untuk masyarakat supaya menjaga pola hidup sehat, melakukan physical distancing, memakai masker, menggunakan handsanitizer ataupun mencuci tangan, dan lain sebagainya. 

 

Dilansir Kompas (2020) beberapa hal yang dapat dilakukan untuk meningkatkan resiliensi dalam diri seseorang sekaligus bisa menjadi faktor pelindung buat individu dalam usaha untuk tetap tangguh bertahan menghadapi situasi pandemi Covid 19 saat ini, di antaranya. Pertama, miliki efikasi diri yang baik, artinya yakin akan kemampuan diri sendiri untuk bisa mengatasi situasi saat ini dengan melihat kelebihan-kelebihan yang dimiliki. Kedua, cobalah selalu meregulasi emosi. Artinya ketika menghadapi situasi yang tidak menyenangkan emosi usahakan tetap tenang, misalnya dengan melakukan relaksasi dulu sebelum memberikan respons. Ke tiga, tetap optimis. Artinya tetap berpikir dan berpandangan positif serta bertindak konstruktif dalam situasi apapun. Orang-orang terganggu bukan oleh hal-hal disekeliling mereka, tapi pandangan yang mereka ambil dari hal tersebut.” – Epictetus. Ke empat,tingkatkan aspek positif dalam diri sendiri dengan misalnya dengan menambah skill, pengetahuan atau dengan melatih bakat dan minat yang dimiliki. Ke lima, menerima perubahan yang terjadi sebagai bagian dari kehidupan dan mengenali strategi koping masalah yang bisa diterapkan; Terus memelihara pengharapan bahwa situasi akan lebih baik. Ke enam, bersyukur untuk setiap hal baik yang dialami setiap harinya, misalnya masih dapat berkumpul bersama keluarga, masih dapat mengerjakan tugas di rumah, masih dapat memanjatkan doa di rumah, mendampingi anak dalam mengerjakan tugas di rumah, dan lain sebagainya.

 

 

Nah jika ingin menjadi pribadi yang tangguh saat menghadapi berbagai rintangan, seperti hari ini, detik ini dan saat ini, maka perhatikan beberapa hal-hal tersebut yang bisa diterapkan dalam kesehariannya agar berhasil memiliki ketangguhan mental yang baik untuk mengatasi rintangan dan pulih dari keterpurukan seperti saat ini. Dengan menjadi pribadi yang tangguh (resilien) kita menjadi lebih mampu beradaptasi dengan situasi sulit saat ini, mampu memikirkan langkah-langkah nyata yang dapat digunakan untuk memproteksi diri dan juga keluarga. Selamat menjadi pribadi yang resilien. Begitu Anda melakukannya, Anda akan menyadari bahwa tidak ada gunung yang terlalu tinggi atau sungai yang terlalu lebar dan deras, apapun akan bisa Anda lewati. Karena kita adalah individu yang tangguh! Individu yang resilien! Stay healthy, Stay Positivl!

Click to comment